Analisis Pengetahuan, Persepsi, Dan Kemauan Menyediakan Telefarmasi Di Kalangan Mahasiswa Farmasi Kalimantan Selatan
Eko Yatminto, Dr. apt. Nanang Munif Yasin, M.Pharm.; Prof. Dr. apt. Chairun Wiedyaningsih, M.Kes., M.App.Sc.
2025 | Tesis | Magister Manajemen Farmasi
Latar Belakang: Telefarmasi merupakan pelayanan kefarmasian oleh seorang
apoteker kepada pasien dari jarak jauh melalui teknologi informasi dan komunikasi.
Telefermasi memiliki manfaat diantaranya meningkatkan akses layanan farmasi,
menghemat waktu, dan memudahkan pemantauan pengobatan bagi pasien.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan, persepsi, dan
kemauan mahasiswa farmasi di Kalimantan Selatan dalam menyediakan layanan
telefarmasi serta faktor-faktor yang memengaruhi.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan 453 responden
dari enam Perguruan Tinggi Farmasi di Kalimantan Selatan. Kriteria inklusi
mencakup mahasiswa aktif Program Sarjana Farmasi dan Profesi Apoteker, berusia
17–30 tahun, memiliki akses internet, serta bersedia mengisi informed consent.
Instrumen penelitian dikembangkan berdasarkan pedoman WHO melalui tahapan
forward translation, review oleh ahli, back-translation, uji coba terhadap
responden, dan finalisasi. Uji validitas menunjukkan nilai I-CVI = 1, sementara uji
reliabilitas dengan Cronbach’s alpha menghasilkan nilai 0,779 (pengetahuan),
0,944 (persepsi), dan 0,928 (kemauan menyediakan). Pengumpulan data dilakukan
secara online. Analisis menggunakan uji Kruskal-Wallis, Mann-Whitney, dan
korelasi Spearman, sedangkan analisis multivariat dilakukan dengan regresi linear
menggunakan SPSS versi 27.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan responden memiliki pengetahuan tinggi
sebesar 58,7%, persepsi positif sebesar 54,3%, dan kemauan menyediakan
telefarmasi sebesar 84,8%. Pengetahuan dipengaruhi: tingkatan mahasiswa (p =
0,006), pendidikan orang tua (p = 0,014), dan jenis perguruan tinggi (p < 0 xss=removed xss=removed xss=removed>Kesimpulan: Penelitian ini menemukan bahwa pengetahuan dan persepsi memiliki
pengaruh signifikan terhadap kemauan untuk menyediakan layanan telefarmasi,
namun masih tergolong rendah. Mahasiswa perlu meningkatkan pengetahuan
maupun persepsi tentang telefarmasi melalui edukasi yang lebih aplikatif untuk
mempersiapkan diri menghadapi tantangan perkembangan teknologi layanan
kesehatan di masa depan.
Background: Telepharmacy is a pharmaceutical service pharmacists provide to
patients remotely using information and communication technology. Telepharmacy
provides benefits including improved access to pharmacy services, time savings,
and facilitated medication monitoring for patients.
Objective: This study aims to analyze the level of knowledge, perception, and
willingness of pharmacy students in South Kalimantan to provide telepharmacy
services and the factors that influence them.
Method: This study adopted a cross-sectional design with 453 respondents from six
Pharmacy Universities in South Kalimantan. Inclusion criteria included active
undergraduate pharmacy and professional pharmacist students, aged 17–30 years,
with internet access, and willing to provide informed consent. The research
instrument was developed based on WHO guidelines through stages of forward
translation, expert review, back-translation, pilot testing, and finalization. The
validity test showed an I-CVI value of 1, while reliability testing using Cronbach’s
alpha resulted in 0.779 (knowledge), 0.944 (perception), and 0.928 (willingness to
provide). Data were collected online. The analysis used Kruskal-Wallis, MannWhitney, and Spearman correlation tests, while multivariate analysis was
conducted using linear regression with SPSS version 27.
Result: The results showed that 58.7% of respondents had high knowledge, 54.3%
had positive perceptions, and 84.8% had willingness to provide telepharmacy
services. Knowledge was influenced by: Student level (p = 0.006), parental
education (p = 0.014), and type of university (p < 0 xss=removed xss=removed xss=removed>Conclusion: This study found that knowledge and perception have a significant
influence on the willingness to provide telepharmacy services; however, they
remain relatively low. Students need to enhance their knowledge and perception of
telepharmacy through more practical education to prepare themselves for the
challenges of future developments in healthcare technology.
Kata Kunci : Telefarmasi, Pengetahuan, Persepsi, Kemauan Menyediakan, Mahasiswa Farmasi