Paradoks Keberlanjutan: Sebuah Studi Tentang Distrik Bebas Mobil di Jerman
Josephine, Dr. Elan A. Lazuardi, S.Ant., M.A.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Keberadaan kendaraan pribadi tidak hanya menjadi sumber kerusakan lingkungan dan polusi udara, namun menjadi salah satu penggerak kota untuk memulai serta menerapkan perencanaan kota. Salah satu perencanaan kota yang berjalan dengan latar belakang kepemilikan kendaraan pribadi adalah Distrik Vauban di Kota Freiburg, Jerman. Mendapatkan label kota paling berkelanjutan, Kota Freiburg memaksimalkan perencanaan distrik-distrik muda dengan konsep ramah lingkungan. Distrik Vauban yang termasuk dalam bagian distrik muda menerapkan konsep bebas mobil (car-free) dan mengimplementasikan ini sejak tahun 1900-an.
Melalui riset etnografi pada tahun 2024 dengan observasi partisipasi, wawancara mendalam, studi literatur, serta dibantu dengan media visual (pengambilan foto dan video), skripsi ini memaparkan ide hijau dan keberlanjutan yang digagas oleh Our Common Future berbanding terbalik dengan apa yang diyakini di Vauban, akibatnya keberlanjutan malah mengeksklusi yang dianggap tidak hijau. Melalui bantuan kaca pembesar studi etnografi perkotaan, skripsi ini akan mengupas konsekuensi dari ide keberlanjutan melalui perencanaan kota yang diadaptasi oleh masyarakat di dalamnya.
Menjawab pertanyaan penelitian bagaimana masyarakat beradaptasi dengan implementasi perencanaan distrik bebas mobil di Vauban, ditemukan bahwa Distrik Vauban mengupayakan perencanaan kota yang berkelanjutan melalui fasilitas publik serta proyek lahan parkir yang dinikmati oleh masyarakat terutama penduduk di dalamnya. Tidak berjalan mulus, konsep bebas mobil ini menimbulkan konsekuensi yang beragam, mulai dari melanggengkan krisis hunian di Freiburg, mengeksklusi kelas-kelas tertentu dibuktikan dengan proyek hunian sosial yang menyediakan tempat tinggal murah, hingga ketidakstabilan distrik untuk mempromosikan perkembangan perencanaan kota imbas turunnya minat masyarakat untuk mendukung Partai Hijau (Die Grünen) yang mulanya sebagai pembawa isu hijau dan keberlanjutan sebagai senjata argumentasi di meja debat politik. Pengalaman masyarakat ini memperlihatkan perbedaan pemahaman makna keberlanjutan antara perancang distrik dengan penduduk. Perancang distrik memanfaatkan perencanaan sebagai komoditas kota, sedangkan penduduk memaknai konsep keberlanjutan di Vauban yang seharusnya adalah keberlanjutan sosial.
In addition to contributing to air pollution and environmental harm, private automobiles are a major factor in the development and execution of city planning. The Vauban District in Freiburg, Germany, is one of the city plans that is being implemented against the backdrop of private automobile ownership. The City of Freiburg maximizes the planning of young districts with an environmentally friendly concept, earning the title of most sustainable city. The car-free idea has been practiced since the 1900s in the Vauban District, which is part of the young district section.
This thesis explains the green and sustainability ideas started by Our Common Future in contrast to what is believed in Vauban, using ethnographic methods conducted in 2024, such as participant observation, in-depth interviews, literature studies, and visual media (photo and video shooting). As a result, sustainability actually excludes those who are not considered green. This thesis will investigate the effects of the concept of sustainability through community-adapted city planning, using the magnifying glass of urban ethnographic studies.
The Vauban District aims for sustainable urban planning through parking lot projects and public amenities that the community, especially its residents, enjoys, according to the research question about how the community adjusts to the implementation of car-free district planning in Vauban. Not going smoothly, this car-free idea has a number of negative effects, from escalating Freiburg’s housing crisis and excluding certain classes, as demonstrated by the social housing project that offers affordable housing, to the district’s inability to support urban planning development because of the drop in public support for the Green Party (Die Grünen), which was once the spokesperson for sustainability and green issues at the political debate table. This collaborative experience shows the difference between district designers and residents in understanding the meaning of sustainability. District designers use planning as an urban asset, while residents in Vauban interpret the concept of sustainability, which should be social sustainability.
Kata Kunci : perencanaan bebas mobil, keberlanjutan, eksklusivitas distrik