Laporkan Masalah

Kolaborasi Aktor dalam Implementasi Program Penataan Permukiman Kumuh (Studi Kasus: Kawasan Semanggi Utara, Kecamatan Pasarkliwon, Kota Surakarta)

AFANDA AUDY LUSIANA, Jimly Al Faraby, S.T., M.Sc., Ph.D.

2025 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Kota Surakarta merupakan kota dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Jawa Tengah yang memiliki permasalahan kumuh akibat kepadatan penduduk yang tinggi dan keterbatasan lahan. Dalam mengatasi permasalahan kumuh tersebut, Pemerintah Kota Surakarta melakukan berbagai usaha pengentasan kekumuhan salah satunya melalui Program KOTAKU yang dilaksanakan di berbagai kawasan khususnya kawasan yang menjadi prioritas. Kawasan Semanggi Utara merupakan salah satu kawasan prioritas penanganan permukiman kumuh di Kota Surakarta yang berhasil bertransformasi menjadi permukiman yang layak huni melalui kolaborasi. Keberhasilan tersebut terlihat dari dijadikannya Kawasan Semanggi Utara sebagai percontohan dalam program pengentasan permasalahan kumuh di kawasan lainnya. Kolaborasi dalam kasus ini menjadi fenomena yang menarik untuk diteliti, terutama terkait bagaimana proses berjalannya kolaborasi tersebut serta faktor-faktor yang memengaruhinya sehingga dapat menjadi masukan dalam menciptakan kolaborasi yang lebih efektif untuk mencapai keberhasilan program pengentasan kekumuhan. Dalam meneliti fenomena tersebut, digunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk menjelaskan temuan terkait proses kolaborasi dan faktor-faktor pengaruhnya secara rinci dan mendalam serta menarik hipotesis baru dari diskusi teori yang dilakukan.

Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan adanya rangkaian proses kolaborasi yang terjadi secara iterasi atau bolak balik sehingga berjalannya rangkaian proses tidak selalu berurutan, namun tetap saling berhubungan dan saling memengaruhi. Proses tersebut kemudian dikategorikan ke dalam tiga tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan pembangunan, dan pasca pelaksanaan pembangunan yang di dalamnya memuat tujuh proses kolaborasi yang meliputi proses diskusi permasalahan, diskusi program, pendekatan masyarakat, membangun komitmen bersama, membangun komunikasi dan koordinasi, membangun kepercayaan, serta pemantauan dan evaluasi program. Proses tersebut menjadi rangkaian yang saling berhubungan dan memengaruhi sehingga berhasil menciptakan kolaborasi yang baik dalam implementasi program penataan permukiman kumuh di Kawasan Semanggi Utara.

Berjalannya proses kolaborasi tidak terlepas dari adanya faktor-faktor yang memengaruhi yang terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kesinambungan visi kepala daerah, komitmen masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang layak huni, kepercayaan di antara pihak yang terlibat, serta kebutuhan dukungan pembiayaan untuk mendukung implementasi program. Sedangkan faktor eksternal yaitu pembelajaran dari program sebelumnya dalam penyusunan konsep perencanaan. Faktor-faktor tersebut yang mendorong terjadinya kolaborasi di antara aktor-aktor yang terlibat dalam implementasi program penataan permukiman kumuh di Kawasan Semanggi Utara.

Surakarta City is the most densely populated city in Central Java, facing slum issues due to high population density and limited land availability. To address these issues, the Surakarta City Government has implemented various slum alleviation efforts, including the KOTAKU Program, which has been carried out in several areas, particularly in priority regions. North Semanggi is one such priority area for slum settlement management in Surakarta, which successfully transformed into a livable settlement through collaboration. This success is evident as North Semanggi Area has become a model area for addressing slum issues in other regions. The collaboration in this case presents an interesting phenomenon to study, particularly regarding the process of collaboration and the influencing factors, providing insights for creating more effective collaboration to achieve success in slum alleviation programs. To examine this phenomenon, a qualitative approach using a case study method was employed to explain the findings related to the collaboration process and its influencing factors in detail and depth while drawing new hypotheses from the theoretical discussion.

The analysis results of this study show a series of collaborative processes occurring iteratively, meaning the sequence of processes is not always linear but remains interconnected and mutually influential. These processes are categorized into three stages: the planning stage, the implementation stage, and the post-implementation stage. These stages encompass seven collaborative processes, including problem discussion, program discussion, community engagement, building shared commitment, fostering communication and coordination, building trust, and program monitoring and evaluation. These interconnected and mutually influencing processes successfully created effective collaboration in implementing the slum settlement management program in North Semanggi Area.

The collaboration process is influenced by both internal and external factors. Internal factors include the continuity of the mayor's vision, community commitment to creating a livable environment, trust among involved parties, and the need for financial support to implement the program. Meanwhile, external factors involve lessons learned from previous programs in planning concept formulation. These factors drive collaboration among the actors involved in implementing the slum settlement management program in North Semanggi Area.

Kata Kunci : aktor, implementasi, proses kolaborasi, permukiman kumuh, Kawasan Semanggi Utara

  1. S1-2025-463197-abstract.pdf  
  2. S1-2025-463197-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-463197-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-463197-title.pdf