Laporkan Masalah

Perempuan dan Gig Economy: Kajian Ketimpangan Gender pada Pekerja Lepas (Freelance) dalam Industri Kreatif di Kalangan Pekerja Gig Economy

SILVESTRA GRATIANA TYAS VITA WIMASARI, Evi Lina Sutrisno, S.Psi., M.A., Ph.D.

2024 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Gig economy, sebagai model kerja berbasis permintaan dan fleksibilitas yang dimediasi oleh platform digital, telah mengubah lanskap ketenagakerjaan tradisional. Dengan berkembangnya teknologi, semakin banyak pekerja memilih gig economy sebagai alternatif dari pekerjaan konvensional yang kaku, terutama di sektor industri kreatif. Namun, gig economy turut menciptakan tantangan terkait kesetaraan gender, khususnya bagi pekerja perempuan yang menghadapi hambatan dalam partisipasi dan representasi kerja. Kendala ini diperparah oleh stereotip gender yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat, terutama di sektor yang didominasi oleh laki-laki.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika kerja dan ketimpangan gender yang dialami pekerja perempuan dalam industri kreatif di era responden gig economy, serta untuk menganalisis strategi yang digunakan oleh perempuan dalam menghadapi tantangan ini. Dengan pendekatan fenomenologi dan perspektif feminis, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan sembilan informan yang terdiri dari pekerja, pemberi kerja, dan pengelola platform, yang bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi perempuan dan bagaimana mereka merespons terhadap kesenjangan yang ada dalam struktur kerja gig economy.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun platform digital memberikan peluang lebih bagi pekerja perempuan, mereka sering menghadapi stereotip gender yang membatasi akses ke peran yang beragam. Dari perspektif pekerja perempuan, ditemukan bahwa kesadaran perempuan terhadap ketimpangan gender masih bervariasi; di mana sebagian pekerja menyadari, sementara yang lain tidak sepenuhnya memahami bahwa ketimpangan ini merupakan bias gender yang berkaitan dengan budaya patriarki sebagai bentuk hegemoni. Norma patriarkal sering dianggap “normal,” sehingga sebagian informan perempuan menerima ketidakadilan tersebut tanpa menyadari bahwa itu merupakan konstruksi sosial. Namun, terdapat perempuan yang mulai mengembangkan kesadaran dan menunjukkan agensi melalui performa kerja yang berkualitas untuk membongkar stigma dan menunjukkan kapabilitas di ranah yang dianggap milik laki-laki. 

The gig economy, characterized by demand-driven work and flexibility mediated by digital platforms, has transformed the traditional employment landscape. With technological advancements, more workers opt for the gig economy as an alternative to rigid conventional jobs, particularly in the creative industry. However, the gig economy also presents challenges regarding gender equality, especially for women workers who face barriers to participation and representation. These obstacles are exacerbated by gender stereotypes that place women in subordinate positions, particularly in male-dominated sectors.

This study aims to examine the dynamics of work and gender inequality experienced by women workers in the creative industry within the context of the gig economy and analyze the strategies employed by these women to navigate these challenges. Through a phenomenological approach and a feminist perspective, this research collected data through in-depth interviews with nine informants, including workers, employers, and platform managers, to identify the challenges faced by women and how they respond to existing gaps in the gig economy structure.

The research findings indicate that although digital platforms offer more opportunities for women workers, they often encounter gender stereotypes that limit access to diverse roles. From the perspective of women workers, awareness of gender inequality varies; some recognize it, while others do not fully understand that this inequality is a form of gender bias linked to patriarchal culture as a form of hegemony. Patriarchal norms are often perceived as “normal,” leading some female informants to accept this inequality without realizing it is a social construct. However, some women are beginning to develop awareness and demonstrate agency by delivering high-quality work to dismantle stigmas and showcase their capabilities in traditionally male-dominated areas.

Kata Kunci : gig economy, pekerja perempuan, industri kreatif, platform digital, kesetaraan gender

  1. S1-2024-462908-abstract.pdf  
  2. S1-2024-462908-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-462908-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-462908-title.pdf