Laporkan Masalah

KETERKAITAN POLA RUANG DAN POLA KEGIATAN WISATA MINAT KHUSUS GUA CERME, BANTUL

Farah Aida Ilmiatul Kulsum, Prof. Ir. Achmad Djunaedi, MURP., Ph.D.

2025 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur

Interpretasi pada lanskap karst melalui kegiatan kepemanduan wisata minat khusus merupakan salah satu implementasi pilar geopark dan dilakukan oleh pemandu wisata yang mempunyai keahlian atau keterampilan sesuai dengan lokasi pekerjaan. Penelitian dilakukan pada Destinasi Wisata Gua Cerme yang terletak di Srunggo, Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul dengan tujuan untuk mengidentifikasi hubungan  pola ruang dengan pola kegiatan wisata minat khusus gua yang tercermin dari kegiatan kepemanduan wisata. Gua ini memiliki kekhasan karakter lorong berupa lorong gua horizontal sepanjang 1.200 meter disertai aliran air sungai bawah tanah, dan latar sejarah atau mitos yang mempengaruhi asal usul penamaan gua dan ornamen di dalamnya. 

Penelitian dilakukan dengan menggunakan paradigma post-positivisme, menggunakan theory driven, dan dijalankan melalui metode penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui pemetaan lanskap permukaan dan bawah tanah, serta fotografi gua. Observasi partisipatif turut dilakukan di mana peneliti mengikuti kegiatan wisata susur gua sebagai partisipan peneliti, serta diikuti wawancara semi terstruktur pada pemandu wisata dan wisatawan. Analisis data dilakukan dengan metode perbandingan tetap (constant comparative method) dengan hasil penelitian ditambah dengan interpretasi pola ruang dan pola kegiatan, serta pembuatan usulan inovasi terkait pengelolaan dan pengembangan ruang-ruang wisata di Destinasi Gua Cerme. 

Temuan penelitian yang pertama adalah adanya pemanfaatan ruang pariwisata berdasarkan fungsi ruangnya, yakni pariwisata pada area permukaan yang dikenal sebagai zona amenitas dan area bawah tanah sebagai zona atraksi. Kedua, terdapat pola ruang dan pola kegiatan wisata yang khas pada masing-masing zona wisata, sehingga membentuk organisasi spasial dan sirkulasi ruang. Selanjutnya, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan pola ruang dengan kegiatan, yakni motivasi wisatawan, aktivitas, tempat terjadinya aktivitas, dan waktu. Temuan terakhir, kegiatan wisata susur gua memiliki syarat khusus wisata, yakni 1) lama waktu penelusuran gua adalah maksimal 1.5 jam, 2) jumlah wisatawan dalam satu trip maksimal 20 orang, 3) usia minimal berwisata adalah 10 tahun dan maksimal 59 tahun, 4) kondisi kesehatan baik, mampu berjalan tanpa alat bantu, tidak dalam kondisi hamil dan sakit parah.

One of the geopark pillar's implementations is the interpretation of karst landscapes through specialized interest tourist guiding activities, which is carried out by tour guides with relevant experience or skills to the job area. The study was conducted at the Cerme Cave Tourism Destination in Srunggo, Selopamioro, Imogiri District, Bantul Regency, with the goal of determining the relationship between spatial patterns and special interest cave tourism activity patterns as reflected in tour guiding activities. This cave has a particular character in the form of a 1,200-meter-long horizontal cave corridor, an underground river flow, and a historical or mythical backdrop that informs the cave's name and ornaments. 

The study was done utilizing a post-positivism paradigm, a theory-driven approach, and a qualitative descriptive research methodology. Data collecting involved charting the surface and subsurface landscapes, as well as cave photography. Participatory observation was also used, in which the researcher observed cave trekking activities as a research participant, followed by semi-structured interviews with tour guides and tourists. Data analysis was carried out using the constant comparative method, with the research findings supplemented by the interpretation of spatial and activity patterns, as well as the development of innovation proposals for the management and development of tourist spaces at the Cerme Cave Destination. 

The first research conclusion is that tourism spaces are used based on their spatial roles, specifically tourism in the surface area known as the amenity zone and underground as the attraction zone. Second, each tourist zone has particular spatial and activity patterns, therefore contribute to spatial structure and circulation. Furthermore, there are factors that influence the association between spatial patterns and activities, such as tourist motivation, activity, activity location, and time. The final finding is that the cave exploration tourism activity has specific tourism requirements, which are as follows: 1) the duration of the cave exploration is a maximum of 1.5 hours, 2) the number of tourists per trip is a maximum of 20 people, 3) the minimum age for tourists is 10 years and the maximum age is 59 years, and 4) good health, able to walk without assistance, not pregnant, and not in severe illness.

Kata Kunci : Interpretasi, lanskap karst, pemandu wisata minat khusus, destinasi wisata gua, pola aktivitas, pola ruang.

  1. S2-2025-475608-abstract.pdf  
  2. S2-2025-475608-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-475608-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-475608-title.pdf