Gedung Kesenian sebagai Creative Hub di Purwokerto dengan Pendekatan Arsitektur Biofilik
NADA AHSANA AMALIA, Ir. Jatmika Adi Suryabrata, M.Sc., Ph.D.
2024 | Skripsi | ARSITEKTUR
Industri kreatif di Indonesia mengalami perkembangan dan memberikan kontribusinya terhadap pemasukan ekonomi kreatif nasional yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) membentuk suatu program untuk mengoptimalkan sektor ekonomi kreatif di Indonesia, yaitu program Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I). Kabupaten Banyumas menjadi salah satu kabupaten kreatif dengan seni pertunjukkan sebagai sub sektor unggulannya. Terdapat beberapa komunitas seni pertunjukkan di Kabupaten Banyumas yang masih berkembang sampai saat ini. Komunitas-komunitas tersebut berfokus pada seni pertunjukkan tradisional seperti tari tradisional, musik tradisional, dan wayang kulit.
Bergabungnya Kabupaten Banyumas dalam ekosistem kreatif tidak sebanding dengan fasilitas yang mendukung. Purwokerto sebagai ibukota dari Kabupaten Banyumas hanya memiliki satu fasilitas gedung kesenian yang sampai saat ini masih tersisa dengan kondisinya yang kurang terawat. Perancangan bangunan gedung kesenian sebagai creative hub bertujuan untuk mewadahi aktivitas kreatif dan produktif dengan cara menciptakan ekosistem lingkungan yang sehat. Perancangan bangunan gedung kesenian sebagai creative hub dilakukan dengan metode pendekatan arsitektur biofilik yang dapat memantik pemikiran kreatif dan produktivitas sehingga dapat menjadi suatu wadah berlangsungnya aktivitas kolaborasi dan berkoneksi yang dapat melahirkan inovasi baru. Dengan tetap memperhatikan hubungan antara manusia dan alam dengan pola desain biofilik dalam perencanaan bangunannya, bangunan ini dapat menjadi suatu upaya untuk bisa mengembalikan semangat kreatif para pegiat seni di Purwokerto, Kabupaten Banyumas yang selama ini pudar.
The creative industry in Indonesia is experiencing development and contributing to the income of the national creative economy which tends to increase every year. The Creative Economy Agency (BEKRAF) formed a program to optimize the creative economy sector in Indonesia, namely the Indonesian Creative Regency/City Self-Assessment program (PMK3I). Banyumas Regency is one of the creative districts with performing arts as its leading subsector. There are several performing arts communities in Banyumas Regency that are still developing today. These communities focus on traditional performing arts such as traditional dance, traditional music and shadow puppetry.
The joining of Banyumas Regency in the creative ecosystem is not comparable to the supporting facilities. Purwokerto, as the capital of Banyumas Regency, only has one arts building facility which currently remains in a poorly maintained condition. The design of arts buildings as creative hubs aims to accommodate creative and productive activities by creating a healthy environmental ecosystem. The design of an arts building as a creative hub is carried out using a biophilic architectural design approach that can spark creative thinking and productivity so that it can become a forum for collaborative and connected activities that can give birth to new innovations. By still paying attention to the relationship between humans and nature with biophilic design patterns in the building planning, this building can be an effort to restore the creative spirit of art activists in Purwokerto, Banyumas Regency which has been fading.
Kata Kunci : Creative Hub, Seni Pertunjukkan, Desain Biofilik, Performing Art, Biophilic Design