Analisis Political Bargaining Model dalam Upaya Toyota Motor Corporation dan Pemerintah Indonesia Menjaga Kontinuitas Investasi Sektor Otomotif
SARAH FADILA DINESTININGTYAS, Raras Cahyafitri, S.I.P., M.Sc.
2024 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Jepang
dan Indonesia telah membangun relasi kemitraan dalam sektor perekonomian selama
puluhan tahun. Kucuran investasi dari perusahaan-perusahaan Jepang di berbagai
sektor berpotensi milik Indonesia, termasuk industri otomotif, mengisi salah
satu ruang kerja sama antara kedua negara tersebut. Melalui pendekatan studi
kasus, penelitian ini berfokus pada investasi Toyota Motor Corporation, sebagai
perusahaan otomotif terbesar Jepang yang telah mendominasi pasar domestik kendaraan
roda empat Indonesia sejak tahun 1970-an. Dengan menggunakan Political
Bargaining Model (PBM) yang diformulasikan oleh Lorraine Eden, Stefanie Lenway, dan Douglas
Schuler, penulis menawarkan analisis terkait upaya Toyota dan pemerintah Indonesia mempertahankan
investasi tersebut di tanah air. Penulis berargumen bahwa Toyota dan pemerintah
Indonesia berupaya menjaga daya tawarnya seiring waktu dengan cara
menyeleraskan tujuan, menyajikan keunggulan spesifik untuk menunjang gol
kolektif, serta meminimalisasi dampak negatif dari hambatan yang muncul. Dengan
mengadaptasi logika permainan berulang dalam PBM, kontinuitas investasi dapat
terwujud melalui langkah-langkah pertaruhan yang dikerahkan oleh perusahaan
multinasional dan negara tujuan demi menyeimbangkan daya tawar aktual
masing-masing secara berkesinambungan. Upaya tersebut akhirnya memperkuat
kepercayaan satu sama lain bahwa hubungan yang terjalin akan selalu membawa
perolehan keuntungan di masa mendatang.
Japan
and Indonesia have built a partnership in the economic sector for several
decades. The flow of investments from Japanese companies across various sectors
in Indonesia, including the automotive industry, represents one of the key
areas of cooperation between the two nations. Employing a case study approach,
this research focuses on the investments of Toyota Motor Corporation, the
largest Japanese automotive firm, which has dominated Indonesia's domestic
four-wheeled vehicle market since the 1970s. Utilizing the Political Bargaining
Model (PBM) formulated by Lorraine Eden, Stefanie Lenway, and Douglas Schuler,
the author provides an analysis of the efforts by Toyota and the Indonesian
government to sustain these investments within the country. The author argues
that Toyota and the Indonesian government seek to maintain their bargaining leverage
over time by aligning objectives, presenting specific advantages to support
collective goals, and minimizing the negative impacts of emerging obstacles. By
adapting the logic of repeated games within the PBM framework, investment
continuity can be achieved through relative stakes and sacrifices made by
multinational corporations and host countries to continuously balance their
actual bargaining power. This effort ultimately reinforces mutual trust that
the established relationship will consistently yield future benefits.
Kata Kunci : Investasi, Toyota Motor Corporation, Indonesia, political bargaining model, interaksi strategis, sektor otomotif