THE GLASS CEILING: EKSISTENSI PEREMPUAN SEBAGAI MANAJEMEN PUNCAK DI LINGKUNGAN BADAN USAHA MILIK DAERAH PROVINSI XYZ
Rianti Puteri Destiani, Rocky Adiguna, S.E., M.Sc., Ph.D.
2024 | Tesis | S2 MANAJEMEN (MM) JAKARTA
Menurut data Badan Pusat Statistik Indonesia pada tahun
2023 partisipasi angkatan kerja perempuan baru terserap sebanyak 54,52%
dibandingkan dengan laki-laki yang telah terserap hingga 84,26%. International
Labour Organization mengungkapkan bahwa semakin tinggi jabatannya, maka
akan semakin sedikit kesempatan yang dimiliki oleh perempuan untuk mengisi
posisi struktural mengingat masih mendapatkan hambatan dalam menapaki karir
yang lebih tinggi daripada laki-laki. Hal tersebut juga terjadi pada lingkungan
Badan Usaha Milik Daerah Provinsi XYZ yang menyebabkan terjadinya the glass
ceiling di Perusahaan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi
penyebab terjadinya the glass ceiling pada perempuan sebagai manajemen
puncak dan bagaimana strategi para perempuan dalam menghadapinya. Metode
analisis data yang dilakukan pada penelitian dengan menggunakan the grounded
theory untuk menemukan keterkaitan antara hasil setiap tema sehingga
menghasilkan temuan yang relevan sesuai pertanyaan penelitian. Hasil dari
penelitian ini di dapatkan bahwa penyebab terjadinya the glass ceiling pada
lingkungan Badan Usaha Milik Daerah Provinsi XYZ dapat dilihat adanya faktor
internal yang meliputi tidak adanya ambisi dan self efficacy yang
rendah, sedangkan faktor eksternal meliputi kurangnya dukungan pemerintah dan
organisasi, diskriminasi, stereotip sosial, jaringan old boys club serta
adanya queen bee syndrome. Sedangkan strategi perempuan dalam menghadapi
the glass ceiling dapat dilihat dari faktor internal yaitu gambaran self
concept, memiliki knowledge & skill, memiliki kemampuan
interpersonal, memiliki kebermanfaatan, memiliki passion &
persistensi. Selain itu dilihat dari faktor eksternal adalah dengan adanya
dukungan keluarga, organisasi dan sosial.
According to data from Badan Pusat Statistik
Indonesia in 2023, the labor force participation rate for women was only
54.52%, compared to 84.26% for men. The International Labour Organization
reveals that the higher the position, the fewer opportunities women have to
fill structural positions, as they still face obstacles in advancing their
careers compared to men. This phenomenon also occurs in the Regional-Owned
Enterprises of Province XYZ, leading to the occurrence of the glass ceiling in
the company.
The aim of this research is to identify the
causes of the glass ceiling for women in management and the strategies women
use to overcome it. The data analysis method employed in this study is grounded
theory to find the relationships between the results of each theme, thereby
producing findings relevant to the research questions. The results of this
study indicate that the causes of the glass ceiling in the environment of
Regional-Owned Enterprises in Province XYZ include internal factors such as a
lack of ambition and low self-efficacy, while external factors include a lack
of government and organizational support, discrimination, social stereotypes,
the old boys' club network, and the queen bee syndrome. Meanwhile, the
strategies women use to overcome the glass ceiling can be seen from internal
factors such as self-concept, knowledge and skills, interpersonal abilities, a
sense of purpose, and passion and persistence. Additionally, external factors
include family, organizational, and social support.
Kata Kunci : the glass ceiling, ketidaksetaraan gender, perempuan