MODEL KAWASAN BERBASIS TRANSIT DI SEKITAR STASIUN KOTA KECIL: KASUS SEBELAS STASIUN KERETA API DI JALUR SELATAN PULAU JAWA
Danang Priambodo, Dr. Eng. Ir. M. Sani Roychansyah, S.T., M.Eng.
2024 | Tesis | MAGISTER RANCANG KOTA
Perkembangan sistem transportasi di
Indonesia, terutama sistem kereta api, sedang mengalami pertumbuhan yang pesat.
Kereta api kini menjadi salah satu pilihan utama masyarakat untuk melakukan
perjalanan jarak jauh, karena efisiensi waktu dan biayanya yang terjangkau. Hal
ini menjadi penting, mengingat peran transportasi kereta api dalam mengurangi
kemacetan, mengendalikan polusi udara, serta menurunkan angka kecelakaan lalu
lintas, terutama bagi pengguna kendaraan pribadi.
Perkembangan sistem transportasi yang
lebih baik mempengaruhi keberadaan stasiun-stasiun kereta api menjadi pusat
pergerakan dan pengungkit (trigger)
bagi perkembangan kota di sekitarnya. Kawasan sekitar stasiun sering kali
menjadi pusat kegiatan wilayah, dan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh
kualitas sistem transportasi kereta api yang ada. Dengan perbaikan dan
pengembangan lebih lanjut pada sistem kereta api, dan diharapkan dengan
pertumbuhan stasiun dan kawasan sekitarnya akan menjadi pendorong utama perkembangan
kota yang terletak di sepanjang jalur kereta api.
Di
Indonesia, konsep Pengembangan Berbasis Transit (Transit-Oriented Development / TOD) telah mulai diterapkan di
beberapa kota besar yang dilalui oleh jalur kereta api. Namun, tidak hanya
terbatas pada kota besar, konsep ini juga direncanakan untuk diperluas ke
kota-kota kecil yang memiliki titik stasiun di jalur lintas selatan Pulau Jawa.
Langkah ini merupakan awal dalam menginisiasi perkembangan wilayah, terutama di
sekitar stasiun-stasiun tersebut. Konsep TOD
diharapkan mampu menjadi landasan untuk mengubah kawasan-kawasan stasiun
menjadi kawasan berbasis transit yang padat dan teratur, serta menciptakan
lingkungan yang kompak dan berkelanjutan. Dengan demikian, sistem transportasi
kereta api diharapkan tidak hanya menjadi sarana pergerakan, tetapi juga
menjadi salah satu kunci utama dalam mengarahkan pembangunan perkotaan yang
berkelanjutan dan inklusif di masa depan.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis karakteristik stasiun di kota kecil di jalur selatan Pulau Jawa dan mengukur penerapan atribut 5D dalam konsep TOD. Studi literatur juga digunakan untuk memahami pengembangan kawasan kota berbasis transit. Hasil analisis menunjukkan adanya kesenjangan yang besar antara kondisi saat ini dan standar yang diharapkan dalam aspek kepadatan, keberagaman penggunaan lahan, kemudahan Akses Jalan kaki, jarak ke tempat transit, dan aksesibilitas ke tempat destinasi. Beberapa lokasi di 11 kawasan stasiun membutuhkan peningkatan signifikan untuk mencapai kondisi ideal. Mengingat dari tingkat kepadatan lahan beberapa lokasi masih sangat rendah dan karakteristik kawasan yang masih didominasi oleh area perumahan dengan tingkat mobilitas penduduk yang tinggi, baik yang datang maupun pergi setiap harinya, maka hal utama yang diperlukan sistem transportasi publik yang lebih baik dan beragam untuk memfasilitasi mobilitas transportasi, baik di dalam maupun di luar kawasan tersebut.
The development of the transportation system in
Indonesia, particularly the railway system, is experiencing rapid growth.
Trains have now become one of the main choices for long-distance travel due to
their time efficiency and affordable costs. This is important considering the
role of rail transportation in reducing traffic congestion, controlling air
pollution, and decreasing the number of traffic accidents, especially for
private vehicle users.
The improvement of the transportation system
positively impacts the existence of railway stations as hubs of movement and
triggers for the development of surrounding cities. Areas around stations often
become regional activity centers, and their growth is greatly influenced by the
quality of the existing railway system. With further improvements and
developments in the railway system, it is expected that the growth of stations
and their surrounding areas will become a major driver of urban development along
the railway lines.
In Indonesia, the concept of Transit-Oriented
Development (TOD) has begun to be implemented in several major cities along the
railway lines. However, this concept is not limited to large cities; it is also
planned to be expanded to small towns with stations along the southern Java
railway line. This initiative marks the beginning of regional development,
particularly around these stations. The TOD concept is expected to serve as a
foundation for transforming station areas into dense and orderly transit-based
zones, creating compact and sustainable environments. Thus, the railway
transportation system is expected not only to facilitate movement but also to
become a key driver in directing sustainable and inclusive urban development in
the future.
This research uses qualitative methods to analyze the characteristics of stations in small towns along the southern Java railway line and to measure the application of the 5D attributes in the TOD concept. Literature studies are also used to understand the development of transit-based urban areas. The analysis results indicate a significant gap between current conditions and expected standards in terms of density, land use diversity, walkability, distance to transit, and destination accessibility. Several locations in 11 station areas require significant improvement to reach ideal conditions. Given that the land density in some locations is still very low and the areas are predominantly residential with high daily population mobility, a better and more diverse public transportation system is needed to facilitate transportation mobility both within and outside these areas.
Kata Kunci : Kata Kunci: Model kawasan, Transit Oriented Development, kawasan sekitar stasiun, kota kecil, stasiun jalur selatan Pulau Jawa