SMELLSCAPES DI KAWASAN STASIUN TUGU YOGYAKARTA
Nurul Fadhillah, Syam Rachma Marcillia, S.T., M.Eng., Ph.D.
2024 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur
<!--[if gte mso 9]><xml>
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sisi demografi seperti jenis kelamin terdapat perbedaan persepsi seperti: perempuan mencium bau lebih sensitif, sedangkan laki – laki mampu mentoleransi bau (kurang sensitif), untuk frekuensi kunjungan yang kadang – kadang cenderung dominan kuat kesan terhadap bau makanan, sintetis dan emisi karbon yang sering ditemukan, sedangkan yang cukup sering (1 – 2 kali / bulan) ada tingkat toleransi terhadap bau, lebih menyadari bau sintetis dan sudah biasa dengan bau makann dan emisi akrbon yang merupakan bau kosisten, dan untuk yang sering datang akan sangat akrab dengan bau yang ada di stasiun. Untuk rentang waktu kunjungan bagi yang berkunjung <30 xss=removed> Smellscapes di kawasan Stasiun Tugu yang paling dominan bau makanan, emisi karbon dari polusi kendaraan, kebersihan, sintetis, dan tembakau. Dengan intensitas bau cukup kuat, jangkauan penyebaran tidak lebar/kecil, durasi bau episodic smell, dan frekuensi merasakan bau kadang – kadang tercium.
Aroma ini memiliki dampak signifikan terhadap evaluasi sensori pengunjung, dimana aroma yang menyenangkan meningkatkan persepsi positif, sementara aroma yang tidak menyenangkan dapat mengurangi kualitas pengalaman mereka. Selain itu, Smellscapes juga mempengaruhi kualitas aroma lingkungan secara keseluruhan, dimana aroma yang menyenangkan dapat meningkatkan kenyamanan. Implikasi dari temuan ini adalah pentingnya memperhatikan pengelolaan Smellscapes dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan dan pengalaman pengunjung di kawasan Stasiun Tugu Yogyakarta.
<!--[if gte mso 9]><xml>
The
results showed that in terms of demographics such as gender there are
differences in perceptions such as: women smell more sensitive, while men are
able to tolerate odors (less sensitive), for the frequency of visits that
sometimes tend to dominate strong impressions of food odors, synthetics and
carbon emissions that are often found, while those who are quite frequent (1 -
2 times / month) there is a level of tolerance to odors, more aware of
synthetic odors and are familiar with food odors and carbon emissions which are
consistent odors, and for those who often come will be very familiar with the
odors at the station. For the time span of visits for those who visit <30 xss=removed> Smellscapes in
the Tugu Station area are most dominant in food odors, carbon emissions from
vehicle pollution, cleanliness, synthetics, and tobacco. With the intensity of
the smell is quite strong, the spread range is not wide / small, the duration
of the episodic smell, and the frequency of feeling the smell is sometimes
smelled.
These
scents have a significant impact on visitors' sensory evaluation, where
pleasant scents increase positive perceptions, while unpleasant scents can
reduce the quality of their experience. In addition, Smellscapes also influence
the overall aroma quality of the environment, where pleasant scents can
increase comfort. The implication of these findings is that it is important to
pay attention to the management of Smellscapes in an effort to improve the
quality of the environment and visitor experience in the Stasiun Tugu
Yogyakarta area.
Kata Kunci : Smellscape, Karakteristik, Evaluasi sensori, kualitas lingkungan.