Pergeseran Makna Ruang Bekerja di Masa Pandemi Covid-19 (Kasus: Persepsi Dosen di Lingkungan Universitas Gadjah Mada)
Wa Ode Sitti Khasanah Ramli, Prof. Ir.Sudaryono, M.Eng., Ph.D., IPU.
2024 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah
Segala aktivitas manusia pada prinsipnya membutuhkan ruang sebagai wadah. Begitu pula dengan aktivitas dosen yang identik dengan perjumpaan masif dengan mahasiswa. Adanya tuntutan bekerja jarak jauh di masa pandemi Covid-19 membawa konsekuensi terhadap penggunaan teknologi digital yang semakin intensif. Dengan adanya pengaruh teknologi digital ini, aktivitas bekerja dosen yang biasanya dilakukan di ruang fisik kini dialihkan ke ruang virtual, dengan kata lain teknologi digital mampu menghadirkan ruang baru yang mampu mewadahi aktivitas manusia. Penelitian ini ingin menemukan pergeseran makna ruang bekerja yang dirasakan (berdasarkan pengalaman individu) oleh dosen di Lingkungan Universitas Gadjah Mada yang dilakukan dengan metode induktif kualitatif fenomenologi. Penelitian ini dilakukan dengan tiga tahapan induksi, yang akhirnya menemukan teori pergeseran makna ruang bekerja bahwa dalam konteks keruangan, ruang bekerja mengalami bergeseran pemaknaan akibat gangguan dari pandemi Covid-19 dan penggunaan teknologi digital yang semakin masif. Dalam prosesnya, ruang bekerja bergeser dari ruang fisik menjadi ruang virtual. Ruang bekerja (fisik) yang dahulu dimaknai sempit hanya sebagai room/space telah bertransformasi menjadi place (dalam bentuk ruang virtual) karena proses pemberian makna sebagai ruang perjumpaan yang diperantarai oleh teknologi digital, jaringan internet, digital skill, dan infrastruktur kelistrikan dan telekomunikasi. Wujud ruang bekerja saat ini menjadi ruang yang tidak terbatas oleh jarak dan waktu, tidak terlihat, namun tetap mampu menyampaikan substansinya sebagai ruang perjumpaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa konsep spatial di masa pandemi Covid-19 menjadi tidak sepenuhnya konkrit lagi. Dalam konteks post pandemi, konsep penggunaan ruang virtual ini masih sangat relevan dan jika dikolaborasikan dengan pola luring akan tercipta efektivitas dan efisiensi.
In principle, all human activities require space. Likewise, lecturer activities are synonymous with massive encounters with students. The demand for remote work during the Covid-19 pandemic has resulted in increasingly intensive use of digital technology. With the influence of digital technology, lecturers' work activities which are usually carried out in physical spaces are now being shifted to virtual spaces, in other words digital technology is able to create new spaces that can accommodate human activities. This research aims to find the shift in the meaning of work space that is felt (based on individual experience) by lecturers at Gadjah Mada University using the inductive qualitative phenomenological method. This research was carried out in three stages of induction, which ultimately found the theory of shifting meaning of work space that in a spatial context, work space experienced a shift in meaning due to disruption from the Covid-19 pandemic and the increasingly massive use of digital technology. In the process, the work space shifts from physical space to virtual space. Work space (physical) which used to be narrowly interpreted only as room/space has been transformed into place (in the form of virtual space) because the process of giving meaning as a space of encounter is mediated by digital technology, internet networks, skill, and electricity and telecommunications infrastructure. The current form of work space is a space that is not limited by distance and time, invisible, but still able to convey its substance as a meeting space. So it can be said that the concept spatial during the Covid-19 pandemic it is no longer completely concrete. In the post-pandemic context, the concept of using virtual space is still very relevant and if combined with offline patterns, effectiveness and efficiency will be created.
Kata Kunci : makna ruang, pandemi covid-19, ruang bekerja, teknologi digital, pendidikan.