Analisis Risiko Gempa Bumi pada Bangungan Gedung Sekolah untuk Penyandang Disabilitas (Studi Kasus: Sekolah Luar Biasa (SLB) pada Zona Kerentanan Gempa Bumi Sangat Tinggi di DIY)
Tranggono Aji Satmoko, Prof. Ir. Iman Satyarno, M.T., Ph.D. ; Ir. Ashar Saputra, S.T., M.T., Ph.D., IPU.
2024 | Tesis | S2 TEKNIK PENGELOLAAN BENCANA ALAM
DIY merupakan salah satu provinsi di Indonesia
dengan potensi gempa bumi yang tinggi. Pada tahun 2006, terjadi gempa sebesar
6,2 Mw di DIY yang menyebabkan adanya korban jiwa serta kerusakan struktur dan
non-struktur bangunan, salah satunya pada sektor pendidikan. Kerusakan bangunan
sektor pendidikan merupakan salah satu masalah serius, karena pada komunitas
sekolah terdapat siswa yang merupakan populasi paling rentan terhadap bencana,
terlebih pada Sekolah Luar Biasa (SLB). Untuk mengurangi risiko gempa bumi pada
sektor pendidikan luar biasa, peninjauan kondisi struktur bangunan SLB serta
kesiapsiagaan komunitas SLB perlu dilakukan.
Penelitian ini dilakukan untuk meninjau risiko
gempa bumi pada SLB yang dapat dilakukan dengan menerapkan metode Rapid
Visual Screening (RVS) FEMA P-154. Peninjauan sarana dan prasarana SLB dan
kesiapsiagaan komunitas SLB juga perlu dilakukan. Salah satu upayanya dapat
dengan menerapkan pedoman Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang dalam
pelaksanaan peninjauan dilakukan langsung pada lokasi penelitian. Selain itu,
aksesibilitas SLB juga ditinjau dengan melihat kondisi di lokasi penelitian
sesuai dengan kategori disabilitas yang ada pada SLB.
Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya sarana dan
prasarana SLB Dharma Bhakti Piyungan, SLB Insan Mandiri Dlingo, dan SLB
Purworaharjo Gunungkidul masuk dalam kategori kesiapsiagaan tinggi (kerentanan
rendah) dalam menghadapi gempa bumi dengan rata-rata nilai indeks kesiapsiagaan
sebesar 88,55; 90,92; dan 88,41. Pada SLB Sekar Melati Muh. Imogiri, nilai
indeks kesiapsiagaan sarana dan prasarana menunjukkan hasil sebesar 78,26 yang
berarti SLB ini masuk dalam kategori kesiapsiagaan sedang (kerentanan sedang). Penilaian
kapasitas komunitas SLB dalam menghadapi gempa bumi menunjukkan bahwasannya
rata-rata nilai indeks kesiapsiagaan komunitas SLB Dharma Bhakti Piyungan
(64,52), SLB Insan Mandiri Dlingo (60,11), dan SLB Purworaharjo Gunungkidul
(76,94) masuk dalam kategori tinggi, sedangkan kapasitas komunitas SLB Sekar
Melati Muh. Imogiri masuk dalam kategori rendah dengan rata-rata nilai indeks
komunitas sebesar 56,92. Penilaian risiko berdasarkan FEMA P-154 menunjukkan
bahwa keempat SLB berisiko terhadap gempa bumi, karena nilai SL1 dan SL2 di
bawah 2,00 (cut off).
DIY is one of the provinces in Indonesia with a high
potential for earthquakes. In 2006, there was an earthquake of 6.2 Mw in DIY
which caused casualties, structural and non-structural damage to buildings, one
of which was in the education sector. Damage to buildings in the education
sector is a serious problem, because in school communities especially in
special schools (SLB) there are students who are vulnerable to disaster. To
reduce the risk of earthquakes in the special education sector, the building’s
structure and infrastructure need to be assessed. However, the special school
community preparedness needs to be assessed while facing earthquakes.
This research was conducted to assess the risk of
earthquakes at special needs school (SLB) which can be done by implementing the
Rapid Visual Screening (RVS) FEMA P-154. However, A review of SLB facilities
and infrastructure and the community preparedness need to be carried out by
using Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) or Disaster Safe Education Unit
guidelines. On the other hand, the SLB’s accessibility was also reviewed by
looking at the special needs school condition according to the disability
categories.
According to this research, the facilities and
infrastructure of SLB Dharma Bhakti Piyungan, SLB Insan Mandiri Dlingo, and SLB
Purworaharjo Gunungkidul were categorized in high preparedness (low
vulnerability) in facing an earthquakes with average index score of 88,55;
90,92; and 88,41. The facilities and infrastructure of SLB Sekar Melati
Muhammadiyah Imogiri was classified as moderate preparedness (moderate
vulnerability) with average index score 78,26. An assessment of the community
capacity of SLB Dharma Bhakti Piyungan (64,52), SLB Insan Mandiri Dlingo
(60,11), and SLB Purworaharjo Gunungkidul (76,94) is in the high category,
while the community capacity of SLB Sekar Melati Muhammadiyah Imogiri
classified as low with average index score 76,94. The risk assessment carried
out by FEMA P-154 shows that all of the SLBs are at risk of earthquakes. That
is because the SL1 and SL2 values are below 2,00 (cut-off).
Kata Kunci : Disabilitas, Gempa Bumi, Kesiapsiagaan, Sekolah Luar Biasa