Laporkan Masalah

Pengungkapan Selamat (Greeting) dan Belasungkawa (Condolence) Seiring Perubahan Media

NINDYA MARSYA LARASATI, Dr. M. Falikul Isbah, G.D.Soc., M.A.

2024 | Skripsi | Sosiologi

Penelitian ini berangkat dari bentuk komunikasi dan interaksi dalam pengungkapan empati utamanya dalam pengungkapan selamat dan belasungkawa yang kemudian terus berkembang apalagi dengan dibarengi dengan kemajuan media dalam berkomunikasi. Hal ini juga yang mendorong adanya konsumsi pada seluruh aspek kehidupan tak terkecuali pada kebiasaan mengungkapkan selamat dan belasungkawa yang hanyalah sekedar objek untuk mengkategorikan dan membentuk makna dalam kehidupan masyarakat kapitalisme lanjut. Penelitian fenomenologi ini menggunakan kerangka berpikir Jean Baudrillard, yaitu Masyarakat Konsumsi. Dalam masyarakat konsumsi, nilai-nilai, simbol, dan representasi memiliki peran krusial dalam membangun identitas dan citra diri individu serta kelompok. Namun, penelitian mengenai konsumsi simbolik yang turut melanggengkan tradisi berempati yaitu mengungkapkan selamat dan belasungkawa masih terbatas. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika apa saja yang ada dalam pengungkapan selamat dan belasungkawa seiring berkembangnya media melalui data empiris serta wawancara dari representasi generasi X, Y dan Z di Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seiring era media terus berkembang langgengnya tradisi berempati mengungkapkan selamat dan belasungkawa ikut didukung oleh corak masyarakat konsumsi yang mengonsumsi nilai-nilai simbolik. Pada era media cetak adalah nilai simbolik dalam pengungkapan selamat dan belasungkawa diwujudkan dalam iklan kolom dan menjadi prestise. Sedangkan, dalam tulisan di media sosial, seperti Instagram dan Whatsapp, nilai simbolis dimanifestasikan melalui pilihan aplikasi serta fitur dalamnya. Dalam masyarakat konsumsi saat ini akhirnya pengungkapan empati dirasa tak cukup dan bertransformasi sama di depan objek, simbol, dan tanda ini membuat masyarakat saat ini mengungkapkan selamat dan belasungkawa mereka disertai dengan hadiah-hadiah simbolis sebagai pelengkapnya. Temuan ini menunjukan bahwa masyarakat saat ini tetap harus kritis dalam menjalani kebiasaan atau tradisi yang sudah dikonstruksi. Pemahaman kritis akan adanya potensi kesenjangan yang dapat hadir dari tradisi berempati tentunya akan secara aktif merawat solidaritas yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat. 




This research stems from the forms of communication and interaction in expressing empathy, primarily in conveying congratulations and condolences, which continue to evolve, especially with the advancement of communication media. This also drives consumption in all aspects of life, including the habit of expressing congratulations and condolences, which become merely objects for categorizing and forming meaning in advanced capitalist society. This phenomenological research uses Jean Baudrillard's theoretical framework, the Society of Consumption. In a consumer society, values, symbols, and representations play a crucial role in building the identity and self-image of individuals and groups. However, research on symbolic consumption that perpetuates the tradition of expressing empathy, such as congratulations and condolences, is still limited. Using qualitative methods, this study aims to explore the dynamics involved in expressing congratulations and condolences as media evolves, through empirical data and interviews from representatives of generations X, Y, and Z in Yogyakarta. The results show that as the media era continues to evolve, the tradition of expressing empathy through congratulations and condolences is supported by the consumption patterns of symbolic values. In the print media era, symbolic value in expressing congratulations and condolences was realized through column advertisements, which became a prestige. Meanwhile, in social media writings, such as Instagram and Whatsapp, symbolic value is manifested through the choice of applications and their features. In today’s consumer society, expressing empathy feels insufficient and transforms into an object, symbol, and sign, leading people to complement their expressions of congratulations and condolences with symbolic gifts. These findings indicate that society must remain critical in practicing or continuing constructed traditions. A critical understanding of the potential gaps that can arise from the tradition of expressing empathy will actively maintain fair solidarity for all societal layers.



Kata Kunci : Kata Kunci: Selamat, Belasungkawa, Perkembangan Media, Konsumsi Simbolik

  1. S1-2024-455899-abstract.pdf  
  2. S1-2024-455899-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-455899-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-455899-title.pdf