PENGARUH JENIS KAIN DAN BAHAN FIKSASI TERHADAP KUALITAS PEWARNA KAYU ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn.)
INAYAH ARIF ARDIYANTI, Rini Pujiarti, S.Hut., M.Agr., Ph.D.
2024 | Tugas Akhir | D4 PENGELOLAAN HUTAN
Kayu ulin sudah teruji untuk menjadi pewarna alami namun belum ada informasi mengenai karakteristik pewarna yang dihasilkan dan komposisi yang tepat antara jenis kain dan bahan fiksasi yang digunakan untuk menghasilkan kualitas kain yang optimal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik pewarna alami kayu ulin, pengaruh jenis kain dan fiksasi terhadap warna yang dihasilkan dari pewarna alami kayu ulin, dan pengaruh jenis kain dan jenis fiksasi terhadap kualitas ketahanan luntur warna yang dihasilkan
Penelitian menggunakan dua faktor yaitu jenis kain ( katun, rayon, dan satin) dan jenis fiksasi (tawas dan tunjung). Pewarna kayu ulin dihasilkan dengan mengestraksi panas serbuk kayu ulin kemudian diuji karakteristik larutan melalui pengujian intesitas warna, pengaruh suhu 30o C dan 100o C, pengujian keasamaan/pH larutan dan arah warna sesuai NADIN 2021. Pengujian ketahanan luntur warna kain yang dilakukan berupa ketahanan luntur warna terhadap gosokan, ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan ketahanan luntur warna terhadap keringat asam.
Hasil penelitian karakteristik larutan warna ulin memiliki intesitas warna larutan rata-rata 3,000 abs. Saat larutan diberikan pengaruh suhu 30o C dapat menyerap sebesar 0,966 abs dan pada suhu 100o C sebesar 0,569 abs. Larutan serbuk kayu ulin bersifat asam dengan derajat keasamaan 4,35. Karakteristik dari arah warna memiliki 5 kategori yaitu, roasted pecan, french roast, sierra, cub, dan burro. Ketahanan luntur warna kain katun dan kain rayon dengan fiksasi tawas memiliki ketahanan luntur warna yang lebih rendah daripada kain dengan fiksasi tunjung. Hasil fiksasi tawas tetap mempertahankan warna asli dari serbuk kayu ulin, namun fiksasi tunjung merubah warna menjadi lebih gelap.
Ulin’s sawdust can be used as a natural dye due to its tannin content. Although ulin has been tested as a natural dye, the optimal composition of fabric types and fixative agents required to achieve the best fabric quality has not yet been determined. The aim of this research is to investigate the characteristics of ulin natural dye, the influence of fabric type and fixatives on the colour produced by ulin natural dye, and the impact of fabric type and fixative type on the colourfastness quality of the resulting dye.
This study we used two factors: fabric type (cotton, rayon, and satin) and fixation agent (alum and ferrous sulphate), resulting in six treatment combinations. The dye is obtained by extracting ulin wood sawdust, and the solution's characteristics are tested for colour intensity, temperature effects at 30°C and 100°C, pH levels, and colour direction according to NADIN 2021 standards. The testing of fabric colorfastness involved assessments of colorfastness to rubbing, washing, and acidic perspiration.
The results indicated that the ulin dye solution exhibited an average color intensity of 3,000. When subjected to a temperature of 30 °C, the absorption rate is 0.966, and at 100 °C, it is 0.569. The ulin wood dye solution is acidic, with a pH of 4.35. The colour direction characteristics fall into five categories: roasted pecan, French roast, sierra, cub, and burro. Cotton and rayon fabrics fixed with alum exhibit lower colorfastness compared to those fixed with ferrous sulfate. While alum fixation maintains the original colour of the ulin wood dye, ferrous sulphate fixation results in a darker hue.
Kata Kunci : Fiksasi, Jenis kain, Karakteristik larutan warna, Ketahanan luntur warna, Kayu ulin, Zat pewarna alami