Laporkan Masalah

Social-Life Cycle Assessment (S-LCA) Produksi Garam di Desa Kertomulyo, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Jawa Tengah

ASHA MAULINA FIRDA, Dr. rer. nat. Ir. R. Wahyu Supartono; Prof. Dr. Ir. Adi Djoko Guritno, MSIE

2024 | Skripsi | TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

Salah satu potensi kekayaan alam Indonesia adalah garam yang mana dalam proses produksinya masih terdapat permasalahan yang mengancam kesejahteraan pelaku ekonomi di dalamnya. Permasalahan yang masih dihadapi yaitu garam dalam negeri yang belum terserap oleh sektor industri, rendahnya daya jual petani garam, kurang adaptifnya petani garam, serta beban kerja yang besar dengan postur kerja janggal saat aktivitas produksi garam. Salah satu daerah yang berpotensi terkait produksi garam yaitu Kabupaten Pati, dimana juga mengalami permasalahan sosial tersebut sehingga dibutuhkan perbaikan pada tata kelola produksi garam terlebih pada aspek sosial.

Metode untuk melakukan penilaian produksi garam dari aspek sosial yaitu Social-Life Cycle Assessment (S-LCA) menggunakan panduan oleh UNEP/ SETAC. Sistem produksi garam dalam penelitian ini terbagi atas subsistem tambak garam serta subsistem pengolahan garam konsumsi. Sehingga cakupan penilaian yang digunakan yaitu cradle-to-gate. Penilaian S-LCA dilakukan pada pemangku kepentingan yang dikategorikan menurut masyarakat agroindustri, yaitu masyarakat pengadaan bahan baku (petani garam, pemilik lahan tambak, dan tengkulak), masyarakat pengolahan (pekerja dan pemilik usaha garam konsumsi), serta masyarakat terkena dampak (masyarakat sekitar san masyarakat umum).

Hasil penilaian pada subsistem tambak garam memberikan pengaruh sosial-ekonomi yang baik bagi masyarakat sekitar (5,00) sementara daya jual petani yang lemah serta alokasi bantuan produksi masih kurang dimaksimalkan (2,00). Pada subsistem pengolahan garam konsumsi memiliki penghormatan yang baik terhadap hak asasi manusia (4,67) sementara belum maksimalnya pencegahan terhadap bahaya kerja (3,00). Secara keseluruhan proses produksi garam di Desa Kertomulyo sudah memberikan dampak positif. Diharapkan hasil penilaian tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk strategi pengambilan keputusan bagi pemangku kepentingan sehingga terwujudnya keberlanjutan produksi garam Indonesia.

One of Indonesia's natural resources potentials is salt, the production of which still faces issues that threaten the welfare of the economic actors involved. The problems currently faced include domestically produced salt not being used by the industrial sector, the low selling power of salt farmers, the lack of adaptability among salt farmers, and the high workload with awkward working postures during salt production activities. One area with potential for salt production is Pati Regency, which also experiences these social issues, necessitating improvements in the governance of salt production, particularly in the social aspects.

The method for assessing salt production from a social perspective is the Social-Life Cycle Assessment (S-LCA) using guidelines from UNEP/SETAC. The salt production system in this study is divided into the salt pond subsystem and the salt consumption processing subsystem. Therefore, the scope of the assessment used is cradle-to-gate. The S-LCA assessment is conducted on stakeholders categorized according to the agro-industrial community, including the raw material procurement community (salt farmers, pond landowners, and middlemen), the processing community (workers and owners of salt consumption businesses), and the affected community (surrounding community and the general public).

The assessment results on the salt pond subsystem indicate a positive socio-economic impact on the surrounding community (5.00), while the weak selling power of farmers and the suboptimal allocation of production assistance (2.00) are still concerns. In the salt consumption processing subsystem, there is good respect for human rights (4.67), while the prevention of occupational hazards remains suboptimal (3.00). Overall, the salt production process in Kertomulyo Village has already had a positive impact. It is hoped that these assessment results can be considered for decision-making strategies by stakeholders to achieve the sustainability of salt production in Indonesia.

Kata Kunci : Dampak sosial, Garam. Pemangku kepentingan, Social-Life Cycle Assessment (S-LCA), Swasembada garam, Salt, Salt self-sufficiency, Social-Life Cycle Assessment (S-LCA), Social Impact, Stakeholders

  1. S1-2024-456414-abstract.pdf  
  2. S1-2024-456414-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-456414-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-456414-title.pdf