MENELISIK RITUAL RASULAN SEBAGAI PENGUAT CITRA POSITIF (BRANDING) KALURAHAN KARANGMOJO, GUNUNGKIDUL
Fauzi Nur Rosyad, Dr. Mohamad Yusuf, M.A.
2024 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Secara umum, rasulan dikenal sebagai ritual untuk mengucapkan rasa syukur yang dilakukan oleh masyarakat Gunungkidul terhadap hasil panen yang didapatkan. Berbeda dengan apa yang biasa dikenal oleh masyarakat Gunungkidul, Kalurahan Karangmojo terindikasi memanfaatkan rasulan untuk kepentingan meningkatkan citra positif (branding). Citra positif memang pada beberapa kasus dapat membawa keuntungan materi. Kesadaran akan keuntungan yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, membuat Kalurahan Karangmojo tergerak untuk meningkatkan citra yang dimilikinya. Melalui penelitian ini, hubungan ritual rasulan dengan citra positif yang dibangun akan coba untuk diketahui.
Sebagai upaya mendapatkan jawaban yang relevan, penelitian ini mengguanakan metode kualitatif dengan usaha observasi, wawancara, dan studi pustaka dalam pencarian datanya. Kemudian pada proses analisisnya dituliskan secara deskriptif agar dapat memberikan gambaran secara rinci sehingga hubungan dari rasulan dengan citra positif dapat terjawab.
Melalui penelitian ini ditemukan bahwa rasulan memiliki peran terhadap perolehan nilai yang diberikan oleh dewan juri kepada Kalurahan Karangmojo. Walaupun peran rasulan dianggap vital dalam tujuan meningkatkan citra positif, akan tetapi konflik sosial tetap tidak terhindarkan. Bahkan tidak berhenti di situ, rasulan secara tunggal tidak cukup untuk dapat meningkatkan citra positif dari Kalurahan Karangmojo yang membuat Kalurahan Karangmojo memutuskan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan lain sebagai bentuk usaha di samping mengandalkan rasulan.
In general, rasulan is known as a ritual to express gratitude performed by the people of Gunungkidul for their harvest. Unlike the common understanding of rasulan in Gunungkidul, the village of Karangmojo appears to utilize rasulan for the purpose of enhancing its branding. In some cases, branding can indeed bring material benefits. Awareness of these benefits, which can help improve the welfare of the community, has motivated Karangmojo to enhance its branding. This study aims to investigate the relationship between the rasulan and the branding being cultivated.
To obtain relevant answers, this study employs a qualitative method, including observation, interviews, and literature review for data collection. The analysis is the written descriptively to provide detailed depiction, allowing the relationship between the rasulan and the branding to be explained.
The findings of this study reveal that rasulan contributes to the scores given by the jury to Karangmojo. While the rasulan is considered vital in the objective of enhancing the branding of Karangmojo village, social conflict remains unavoidable. Furthermore, the rasulan alone is insufficient to significantly improve the branding of Karangmojo village. Consequently, Karangmojo village has decided to implement additional activities as part of their efforts, rather than relying solely on rasulan.
Kata Kunci : regional branding, rasulan, ritual, social cohesion