Tipologi Pelanggaran Bangunan Hunian Kawasan Tamansari, Daerah Istimewa Yogyakarta
JALAL SETO LUMINTANG, Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc., Ph.D.
2024 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTATamansari merupakan bangunan cagar budaya yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi Tamansari saat ini dikelilingi oleh bangunan hunian masyarakat. Bangunan hunian tersebut dikhawatirkan akan merusak dan mengganggu keberadaan dari bangunan Tamansari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipologi permasalahan yang ada beserta intervensi tiap tipologinya. Penelitian dilakukan dengan pendekatan metode deduktif kualitatif yang menggunakan metode survei primer, wawancara, dan data sekunder yang digunakan untuk memperoleh data. Penelitian ini juga menggunakan teori Maslow (n.d) dalam Muazaroh & Subiadi (2019) dan Adlfer (n.d) dalam Satrio, Wibowo, Triasto, et al (2014) yang menjelaskan bahwa motivasi bertahan hidup manusia itu berbeda tetapi seragam. Teori tersebut digunakan untuk melihat motivasi hidup masyarakat walaupun bangunan yang mereka huni melanggar aturan yang ada. Unit amatan penelitian terdiri dari pihak Keraton, Dinas Kebudayaan DIY, pengelola Tamansari, pihak Kelurahan Patehan, serta masyarakat RW 08, RW 09, dan RW 10 Kelurahan Patehan. Unit analisis penelitian ini mencakup variabel mengenai tata lokasi hunian, aktivitas masyarakat, kondisi hunian maupun kondisi Tamansari, dan pemikiran berbagai pihak mengenai adanya bangunan hunian dan Tamansari. Dari hasil analisis, ditemukan bahwa pelanggaran bangunan dapat dibedakan menjadi lima tipologi, yaitu bangunan menempel pada artefak, bangunan menggunakan artefak, bangunan berjarak kurang dari dua meter, bangunan berada di atas artefak, dan bangunan lebih dari satu lantai. Selain itu, hasil analisis yang dilakukan juga mendapatkan bahwa kepemilikan lahan di kawasan tersebut berbeda, ada yang magersari dan bersertifikat hak milik pribadi. Dari hasil analisis juga didapatkan setiap tipologi memiliki intervensi yang berbeda – beda tergantung pelanggaran yang dilakukan. Intervensi – intervensi yang dilakukan tidak hanya berbeda karena pelanggarannya, tetapi juga berbeda ketika kepemilikan lahannya berbeda. Dari hasil intervensi yang diperoleh dari berbagai pihak, terdapat keinginan utama dari pemangku kepentingan, yaitu mengembalikan bangunan Tamansari yang masih ada agar terlihat keberadaannya. Oleh karena itu pemangku kepentingan segera mengantisipasi pelanggaran bangunan hunian untuk tetap melestarikan dan memastikan keberadaan Tamansari.
Tamansari is a cultural heritage building located
in the Special Region of Yogyakarta. Currently, Tamansari is surrounded by
residential buildings. These residences are feared to damage and disturb the
existence of Tamansari. This study aims to identify the typology of existing
problems and the interventions for each type. The research was conducted using
a deductive qualitative method, employing primary surveys, interviews, and
secondary data to collect information. It also utilizes Maslow’s theory (as cited
in Muazaroh & Subiadi, 2019) and Adlfer's theory (as cited in Satrio,
Wibowo, Triasto, et al., 2014), which explain that human survival motivation is
diverse yet uniform. This theory is used to understand the motivation of
residents even though their buildings violate existing regulations. The units
of observation include the Palace, the DIY Cultural Office, the Tamansari
management, the Patehan Village authorities, and the residents of RW 08, RW 09,
and RW 10 in Patehan Village. The unit of analysis includes variables such as
the layout of the residences, community activities, the condition of the
dwellings and Tamansari, and the perspectives of various stakeholders regarding
the residential buildings and Tamansari. The analysis revealed that building violations
can be categorized into five types: buildings attached to artifacts, buildings
using artifacts, buildings less than two meters away, buildings above
artifacts, and buildings with more than one floor. Additionally, the analysis
found that land ownership in the area varies, with some properties being
magersari (Keraton land) and others privately owned with certificates. Each
typology requires different interventions depending on the violation. These
interventions vary not only due to the type of violation but also depending on
land ownership. The analysis indicates a primary desire among stakeholders to
restore the remaining Tamansari structures so that their presence is more
visible. Therefore, stakeholders are urged to address residential building violations
to preserve and ensure the existence of Tamansari.
Kata Kunci : Tamansari, Hunian, Tipologi, Intervensi