ETNOEKOLOGI MASYARAKAT PESISIR UTARA LAMPUNG (Studi Kasus Khepong Pekon Malaya, Kecamatan Lemong, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampong)
Yulius Ari Wikarta , Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc.
2008 | Skripsi | S1 KEHUTANANINTISARI Salah satu model pengelolaan hutan yang ada di Indonesia adalah pengelolaan hutan adat yang dilakukan oleh masyarakat etnik yang mendiami suatu tempat. Salah satu dari model pengelolaan ini adalah model khepong yang ada di wilayah Pesisir Utara Lampung. Masyarakat ini memiliki ciri kebudayaan tersendiri dan interaksi yang khas dengan lingkungannya oleh sebab itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ciri dan perilaku masyarakat Lampung yang memiliki adat-istiadat yang khas dalam berinteraksi sesama anggota masyarakatnya dan dalam mengelola khepong, serta menganalisis praktek pengelolaan khepong yang dilakukan, ditinjau dari sudut pandang kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode Etnografi yang mampu untuk mengetahui sudut pandang suatu masyarakat etnik terhadap lingkungan sekitarnya. Penelitian ini dilakukan dalam ruang lingkup masyarakat adat marga Malaya yang mendiami Pekon Malaya. Dikarenakan banyaknya hal yang akan bisa digali dari suatu Masyarakat etnik, maka analisis yang dilakukan berdasarkan tujuh unsur kebudayaan berupa : Bahasa, Sistem pengetahuan, Organisasi sosial, Sistem peralatan hidup dan teknologi, Sistem mata pencaharian hidup, Kesenian, dan Sistem religi. Dari tujuh unsur kebudayaan ini pembahasan akan banyak tertuju pada sistem pengetahuan masayarakat dengan alam dan lingkungan sekitar. Berdasarakan basil penelitian, diketahui bahwa keadaan (ciri dan perilaku) sosial yang mereka miliki saat ini terbentuk berdasarkan transfer dan dinamika sosial yang terjadi. Praktik pengelolaan khepong yang dilakukan banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sehingga pola pengelolaan lahan yang diwujudkan sangat bergantung pada keputusan masing-masing petani untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Praktek permudaan, pemeliharaan, pemanenan hingga penjualan akan basil khepong terutama damar menunjukkan bahwa masyarakat Pekon Malaya telah mengenal dengan baik dan mampu membangun hutan yang lestari secara ekologi, ekonomi, serta sosial-budaya.
One of forest management model in Indonesia was prestiftive forest management. Which done by its community who live in one place. The example of this management is khepong where located in north coast in Lampung. The community has their own specifically culture, uniquely interaction characterirtic with their environment. For that this research were aim to know characteristics and habits of this community who was unique custom and manners in interacting inside the community, and managing khepong, and also to analyze the khepong management practice, observed by their owned culture views. Method due the research was ethnography method. This method was use to know an indegeneous people seeing the surrounding environment. This research was done in indigenous people of Malaya clan were lived in Malaya village. Because many factor can be explore fron this indegeneous people so the analyze based on seven culture elemen is : language, knowledge system, social organization, technology and living equipment system, likelihood system, art, and religion system. The examination was specialized of knowledge system by seeing nature and surrounds environment community. Based on the research, known that recently social condition ( characteristich and behaviour) was shaped by happening social transfer and dynamics. Their khepong management practices was influence by economics factor, so that management pattern were depends on each farmers decision to fulfillhousehold's needs. The regeneration practice, establishment practice, harvest practice unto khepong marketing product especially damar (kopal) show that Malaya village community had well acknowledge and had capability of establishing ecological sustainable forest, economically and social structure.
Kata Kunci : Masyarakat etnik. kebudayaan, interaksi dan khepong