Laporkan Masalah

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Tanjungsari Agro Culture PT Pertamina DPPU Adi Sumarmo

ANANTA RIA SAFITRI, Dr. Silverius Djuni Prihatin, M.Si.

2024 | Skripsi | ILMU SOSIATRI

Praktik Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial dan lingkungan mulai banyak diterapkan oleh berbagai perusahaan di Indonesia. Hal ini didorong oleh adanya UU No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) yang bertujaun untuk mendorong tanggung jawab perusahaan pada aspek lingkungan dan sosial. Pada kompetisi ini terdapat beberapa kategori penghargaan yang dapat diterima oleh perusahaan untuk menunjukkan seberapa jauh tanggung jawab yang telah dijalankan dan tertinggi ialah kategori emas. Perusahaan yang memperoleh kategori tersebut dinilai telah menjalankan tanggung jawabnya dengan baik dan keberlanjutan, terutama dalam aspek pemberdayaan masyarakat. Salah satu perusahaan yang memperoleh penghargaan tersebut ialah PT Pertamina DPPU Adi Sumarmo melalui program pemberdayaan pertamanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan pemberdayaan masyarakat yang dijalankan oleh PT Pertamina DPPU Adi Sumarmo dalam program Tanjungsari Agro Culture dengan melihat dari tahap, hasil, dan strategi pemberdayaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, studi pustaka, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) program Tanjungsari Agro Culture telah menerapkan tiga tahapan pemberdayaan, yaitu penyadaran, pengkapasitasan, dan pendayaan. Pada tahap penyadaran dilakukan dengan melibatkan masyarakat dalam proses penyusunan program dan melakukan sosialisasi. Meskipun demikian, perusahaan tidak melibatkan secara penuh subjek pemberdayaan, yaitu ibu-ibu. Sementara itu, tahap pengkapasitan dilakukan dengan cara memberikan peningkatan individu, organisasi, dan sistem nilai, seperti memberikan pelatihan, studi banding, membentuk SK, struktur organisasi, dan mengadopsi nilai di masyarakat, serta melakukan kegiatan monitoring evaluasi secara berkala.  Tahap pendayaan dilakukan melalui inovasi keberlanjutan dan menanamkan kemandirian pada kelompok, meskipun masih belum berjalan dengan optimal; (2) Berjalannya program juga telah memberikan berbagai manfaat yang dirasakan oleh anggota kelompokm maupun masyarakat sekitar, seperti perbaikan kelembagaan, usaha, pendapatan, kehidupan, dan masyarakat; (3) Terdapat beberapa strategi yang dijalankan oleh perusahaan dalam menjalankan pemberdayaan, yaitu pengembangan sumber daya manusia (SDM), kelembagaan kelompok, pemupukan modal masyarakat, pengembangan usaha produktif, dan penyediaan informasi tepat guna. Namun demikian, program belum dapat dikatakan mandiri karena masih mendapatkan pendampingan dan dukungan dari perusahaan. 

The practice of Corporate Social Responsibility (CSR) or social and environmental responsibility has begun to be widely implemented by various companies in Indonesia. This is driven by Law No. 40/2007 on Limited Liability Companies and the Company Performance Rating Program (PROPER) which aims to encourage corporate responsibility in environmental and social aspects. In this competition, several award categories can be received by companies to show how far the responsibility has been carried out and the highest is the gold category. Companies that obtain this category are considered to have carried out their responsibilities well and sustainably, especially in the aspect of community empowerment. One of the companies that received the award is PT Pertamina DPPU Adi Sumarmo through its first empowerment program. This research aims to examine and describe the community empowerment carried out by PT Pertamina DPPU Adi Sumarmo in the Tanjungsari Agro Culture program by looking at the stages, results, and empowerment strategies. This research uses a qualitative method with a descriptive approach. Data collection was carried out through observation, literature study, documentation, and interviews. The results showed that; (1) the Tanjungsari Agro Culture program has implemented three stages of empowerment, namely awareness, capacity building, and enrichment. The awareness stage is carried out by involving the community in the program preparation process and conducting socialization. However, the company did not fully involve the subject of empowerment, which are mothers. Meanwhile, the empowerment stage is carried out by providing individual, organizational, and value system improvements, such as providing training, comparative studies, forming decrees, organizational structures, and adopting values in the community, as well as conducting regular monitoring and evaluation activities. The empowerment stage is carried out through sustainability innovation and instilling independence in the group, although it is still not running optimally; (2) The running of the program has also provided various benefits felt by group members and the surrounding community, such as institutional, business, income, life, and community improvements; (3) There are several strategies carried out by the company in carrying out empowerment, namely human resource development (HR), group institutions, community capital fertilization, productive business development, and provision of appropriate information. However, the program cannot be said to be self-dependent because it still gets assistance and support from the company.

Kata Kunci : Corporate Social Responsibility, Pemberdayaan Masyarakat, Tanjungsari Agro Culture, Corporate Social Responsibility, Community Empowerment, Tanjungsari Agro Culture

  1. S1-2024-455849-abstract.pdf  
  2. S1-2024-455849-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-455849-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-455849-title.pdf