Analisis Struktur Biaya Logistik pada Rantai Pasok Kedelai di D.I. Yogyakarta
Nafisa Mufidatus Sholihah, Prof. Dr. Kuncoro Harto Widodo, S.T.P., M.Eng; Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., M.T.
2024 | Skripsi | TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
Kedelai (Glycine max L.) merupakan sumber utama protein nabati yang dapat diolah menjadi berbagai produk olahan seperti tahu, tempe, dan kecap. Konsumsi kedelai di Indonesia sangat tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya, namun jumlah produksi kedelai di Indonesia belum mampu memenuhi tingginya kebutuhan kedelai. Tingkat produksi kedelai nasional terus mengalami penurunan setiap tahunnya sehingga pemenuhan kedelai didominasi oleh impor. Turunnya minat petani menanam kedelai disebabkan oleh rendahnya keuntungan yang didapat petani saat menanam kedelai dibanding komoditas lain seperti padi dan jagung. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis struktur biaya logistik dan biaya usaha tani berdasarkan aktivitas logistik pada setiap tier rantai pasok kedelai, mengetahui distribusi penyebaran besarnya margin dalam rantai pasok kedelai, dan memberikan usulan perbaikan yang tepat berdasarkan hasil struktur biaya logistik.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah convenience sampling dan snowball sampling melalui indepth interview kepada pelaku rantai pasok kedelai. Lokasi penelitian di Kecamatan Playen, Gunungkidul; Kecamatan Imogiri, Bantul; dan Kecamatan Galur, Kulon Progo. Metode yang digunakan untuk perhitungan dan analisis biaya logistik yaitu activity-based costing, sedangkan metode yang digunakan untuk penentuan alternatif strategi yaitu analisis SWOT.
Perhitungan struktur biaya logistik dilakukan pada dua jenis rantai pasok kedelai yaitu rantai pasok perbenihan kedelai dan rantai pasok kedelai konsumsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi biaya logistik yang paling dominan pada rantai pasok perbenihan kedelai yaitu aktivitas penanganan bahan sebesar 80?n proporsi biaya logistik yang paling dominan pada rantai pasok kedelai konsumsi yaitu aktivitas penanganan bahan sebesar 79,28%. Distribusi besarnya margin perbenihan kedelai dan kedelai konsumsi belum efisien karena rasio profit margin tidak merata. Usulan perbaikan yang dapat diterapkan pada rantai pasok kedelai berdasarkan hasil matriks SWOT kuadran II yaitu mengurangi aktivitas yang menyebabkan biaya logistik tinggi di setiap tier pelaku rantai pasok dan menjaga harga kedelai agar tetap kompetitif.
Soybean (Glycine max L.) is a primary source of plant-based protein that can be processed into various products such as tofu, tempeh, and soy sauce. Soybean consumption in Indonesia is very high and continues to increase every year, but the amount of soybean production in Indonesia has not been able to meet the high demand for soybeans. The national soybean production rate continues to decline every year, resulting in soybean supply being dominated by imports. The decrease in farmers' interest in cultivating soybeans is due to the low profits compared to other commodities such as rice and corn.
This research aims to analyze the logistics cost structure and farming costs based on logistics activities at each tier of the soybean supply chain, to determine the distribution of margin size within the soybean supply chain, and to provide appropriate improvement proposals based on the results of the logistics cost structure. The methods used in this research are convenience sampling and snowball sampling through in-depth interviews with stakeholders in the soybean supply chain. The research locations are in Playen Subdistrict, Gunungkidul; Imogiri Subdistrict, Bantul; and Galur Subdistrict, Kulon Progo. The method used for calculating and analyzing logistics costs is activity-based costing, while SWOT analysis is used to determine alternative strategies.
The logistics cost structure is calculated on two types of soybean supply chains: seed soybean supply chains and consumption soybean supply chains. The research results show that the most dominant proportion of logistics costs in the seed soybean supply chain is the material handling activity at 80% and the most dominant proportion of logistics costs in the consumption soybean supply chain is the material handling activity at 79,28%. The distribution of margins in seed soybeans and consumption of soybeans is inefficient because the profit margin ratio is not even. Improvement proposals that can be applied to the soybean supply chain based on the SWOT quadrant II matrix results are reducing activities that cause high logistics costs at each tier of supply chain actors and maintaining soybean prices to remain competitive.
Kata Kunci : Biaya logistik, distribusi margin, kedelai, rantai pasok, SWOT