Dapur Bersih dan Dapur Kotor: Menelisik Perspektif "Wong gunung" Terhadap Penggunaan Dapur Tradisional di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah
TASYA ELVINA MAULIDIA, Dr. Agung Wicaksana, S.Ant., M.A.
2024 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Masyarakat di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan masih menggunakan dapur tradisional di rumah mereka, meskipun saat ini era modernisasi banyak mempengaruhi estetika arsitektur dan adanya kebijakan penggunaan LPG (gas) menawarkan efisiensi dibandingkan menggunakan tungku kayu untuk memasak di kesehariannya. Desa Pandansari merupakan desa yang terletak di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, berada di dataran tinggi sehingga rata-rata suhunya mencapai 14?, bahkan di kondisi tertentu lebih rendah dari itu. Dengan itu, masyarakat menggunakan tungku kayu di dapur untuk menghangatkan di dari suhu dingin. Untuk mendalami transisi dapur tersebut, skripsi ini mengulas mengenai dapur tradisional di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan dan faktor-faktor yang membentuk transformasinya hingga saat ini. Skripsi ini juga mempertanyakan mengapa sebagian masyarakat Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan masih mempertahankan penggunaan tungku kayu meski saat ini arsitektur rumah sudah moderen dan hadirnya kompor berbahan bakar LPG (gas)?
Penelitian ini menggunakan metode observasi partisipasi dan wawancara mendalam dengan total waktu tinggal di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan selama tujuh minggu. Pada bulan Januari 2023 dilakukan penelitian lapangan di Dusun Embel selama tiga minggu dan di bulan September 2023 dan Oktober 2023 di Dusun Taman selama empat minggu. Lalu untuk mendapatkan data mengenai berbagai dapur masyarakat, dilakukan wawancara mendalam terutama pada induk semang ditambah dengan partisipasi di dalam kegiatan di dapur mereka. Kemudian wawancara lainnya dilakukan pada informan-informan yang dipilih untuk lebih mendalami objek penelitian dan juga yang dipilih secara acak dengan melakukan wawancara mendalam tidak terstruktur untuk melihat dinamika masyarakat secara keseluruhan.
Masyarakat tidak hanya menggunakan dapur tradisional untuk memasak, tetapi juga sebagai ruang bersosialisasi sekaligus menghangatkan diri dari suhu dingin. Maka dari itu, untuk memenuhi aspirasi masyarakat terhadap modernisasi, sebagian masyarakat menerima modernisasi secara spatial dengan melakukan transformasi arsitektur di dapur tradisional mereka. Hal ini dikarenakan keberadaan tungku di dapur tradisional masih dianggap penting sebagai pusat aktivitas sosial mereka, sehingga jika meninggalkannya masyarakat akan dipaksa untuk meninggalkan tradisi dan relasi sosial mereka.
People in Pandansari Village, Paguyangan District still use traditional kitchens in their homes, even though the current era of modernization has greatly influenced architectural aesthetics and the policy of using LPG (gas) offers efficiency compared to using wood stoves for daily cooking. Pandansari Village is a village located in Paguyangan District, Brebes Sub-District, Central Java, located in the highlands so the average temperature reaches 14?, even lower than that in certain conditions. Therefore, people use wood stoves in the kitchen to warm up from cold temperatures. To explore the kitchen transition, this thesis reviews the traditional kitchen in Pandansari Village, Paguyangan District and the factors that have shaped its transformation to date. This thesis also questions why some people in Pandansari Village, Paguyangan District still maintain the use of wood stoves even though currently the house architecture is modern and the presence of LPG (gas) fueled stoves?
This research used participant observation and in-depth interviews with a total stay in Pandansari Village, Paguyangan Sub-District of seven weeks. In January 2023, field research was conducted in Embel Hamlet for three weeks and in September 2023 and October 2023 in Taman Hamlet for four weeks. Then, to obtain data regarding various community kitchens, in-depth interviews were conducted, especially with the landlady, plus participation in activities in their kitchens. Then other interviews were conducted with informants who were selected to further explore the research object and also who were randomly selected by conducting in-depth, unstructured interviews to see the dynamics of society as a whole.
People not only use traditional kitchens for cooking, but also as a space to socialize and warm themselves from cold temperatures. Therefore, to fulfill people's aspirations for modernization, some people accept spatial modernization by carrying out architectural transformations in their traditional kitchens. This is because the existence of the hearth in their traditional kitchen is still considered important as the center of their social activities, so that if they abandon it, people will be forced to abandon their traditions and social relations.
Kata Kunci : Dapur Bersih, Dapur Kotor, Modernisasi, Budaya Jawa/ Clean Kitchen, Dirty Kitchen, Modernization, Javanese Culture