Evaluasi Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Arsitektur Khas Yogyakarta di Kapanewon Pleret
ALIFIA ZAHRA PRAMESTI, Ir. Deva Fosterharoldas Swasto, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM.
2024 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
Dewasa ini, permasalahan mengenai rumah tidak layak huni (RTLH) belum terselesaikan termasuk di Provinsi D.I. Yogyakarta. Untuk itu, Pemerintah Daerah DI. Yogyakarta mengeluarkan sebuah program baru yaitu Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Arsitektur Khas Yogyakarta. Program ini tergolong unik dan baru karena memasukkan unsur budaya yaitu arsitektur khas Yogyakarta yang memungkinkan adanya respon yang berbeda dibandingkan program bantuan lainnya. Program yang masih baru juga perlu dievaluasi untuk menilai capaian implementasinya. Kapanewon Pleret merupakan daerah dengan penerima bantuan terbanyak di DIY. Banyaknya penerima belum tentu dapat menentukan keberhasilan capaian implementasi program dibandingkan lokasi lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi capaian implementasi Program RTLH BKK Arsitektur Khas Yogyakarta di Kapanewon Pleret serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dengan pendekatan metode deduktif mixed method menggunakan metode survei primer, kuesioner, wawancara, dan data sekunder dalam pengumpulan datanya. Unit amatan penelitian yaitu capaian implementasi program, masyarakat penerima bantuan, dan pemerintah kalurahan di Kapanewon Pleret. Unit analisisnya yaitu respon masyarakat penerima bantuan dan pemerintah kalurahan terhadap capaian implementasi program serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dari hasil analisis, disimpulkan bahwa program telah berhasil dilaksanakan secara optimal, namun belum optimal dalam meningkatkan kualitas RTLH dan menangani backlog karena penerima belum sepenuhnya mampu berswadaya sehingga perlu perbaikan terhadap beberapa aspek tertentu untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan program. Faktor yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan capaian implementasi program adalah komunikasi, diikuti oleh faktor sumber daya, disposisi, kondisi ekonomi dan sosial, serta faktor kerja sama yang didapat dari hasil eksplorasi.
Nowadays, uninhabitable houses have not been resolved, including in D.I. Yogyakarta. The Regional Government of DIY issued a new program, 'Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Arsitektur Khas Yogyakarta'. This program is unique and new because it incorporates cultural elements, which allows for a different response compared to other programs. The program is still new so it needs to be evaluated. Kapanewon Pleret has the most recipients in DIY. That may not determine the success compared to other locations. This research aims to evaluate the achievement of the implementation of ‘Program Rehabilitasi RTLH BKK Arsitektur Khas Yogyakarta in Kapanewon Pleret’ and identify the factors that influence it. Research with a deductive mixed method approach uses primary survey, questionnaires, interviews, and secondary data in data collection. The observation unit is the achievement of program implementation, the recipients, and the village government. The analysis unit is the response of the recipients and the village government to the achievements of program implementation and the factors that influence it. The results of the analysis is the program has been successfully implemented optimally, but has not been optimal in improving the quality of uninhabitable houses and handling backlog because recipients are not yet fully self-sufficient, so certain aspects need to be improved to increase the efficiency and sustainability of the program. The most influential factor on the success of program implementation is communication, followed by resource, disposition, economic and social conditions, as well as cooperation obtained from exploration results.
Kata Kunci : Evaluasi, Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Bantuan Keuangan Khusus (BKK), Arsitektur Khas Yogyakarta, Kapanewon Pleret