Laporkan Masalah

Murid, Syaikh dan Fatwa: Kontra Hegemoni Kaum Sufi Terhadap Penguasa Dalam Karya-Karya Najib Mahfuz

Imam Wicaksono, Prof. Dr. Sangidu, M.Hum.; Prof. Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S.

2024 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora

Penelitian ini bertujuan menjelaskan dan mengungkap sejumlah hal yang meliputi (1) konsep dan pandangan hidup kaum sufi, (2) model dan alat dominasi masyarakat politik terhadap masyarakat sipil, (3) kontra hegemoni masyarakat sipil yang digerakkan oleh kaum sufi sebagai intelektual organik, dan (4) pandangan kritis Najib Mahfuz yang diperjuangkan dalam tiga karyanya.yang berjudul Rihlah Ibn Fatimah, Layali Alfu Lailah, dan Malhamah al-Harafisy

Dalam membahas dan menjawab tujuan di atas, dimanfaatkan kerangka teori hegemoni Antonio Gramsci. Cara kerja teori tersebut dilakukan dengan menganalisis data-data literer dalam kaitannya dengan keempat topik pembahasan yang telah dikemukakan di atas.  Teknik dan langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) menampilkan ideologi utama yang terkandung dalam objek material, (2) identifikasi pergerakan masyarakat politik yang berkuasa menggunakan dominasi paksaan, (3) identifikasi dampak dominasi paksaan terhadap masyarakat sipil, (4) identifikasi peran intelektual organik yang membangun kesadaran dan menghimpun persetujuan masyarakat sipil guna membentuk hegemoni tandingan, dan (5) pemaparan bentuk dan alat kontra hegemoni masyarakat sipil sebagai perlawanan humanistik terhadap dominasi masyarakat politik.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kaum sufi memiliki konsep hidup zuhud dengan arti meninggalkan kehidupan dunia. Prinsip ini menjadikan kaum sufi tidak terlibat dan menarik diri dari kehidupan sosial. Masyarakat sipil yang tidak memiliki infrastruktur kekuasan menjadi objek dominasi paksaan dari masyarakat politik yang menggunakan aparat, media, dan aset sebagai alat dominasi. Kaum sufi yang hidup di tengah masyarakat memainkan peran sebagai intelektual organik menghimpun persetujuan masyarakat. Pergerakan tersebut muncul dari perubahan pemahaman terhadap konsep zuhud. Kaum sufi membangun hegemoni tandingan menggunakan fatwa-fatwa yang menghasilkan persetujuan masyarakat untuk melakukan perlawanan humanistik kepada masyarakat politik yang sedang berkuasa. Najib Mahfuz mengajukan pandangannya bahwa Islam tidak hanya dipahami sebagai ritual ibadah semata, tetapi Islam dipahami secara menyeluruh dengan menggunakan logika. Selain itu, Najib Mahfuz juga menawarkan pandangan kebebasan berpendapat  yang berlandaskan persamaan derajat antara sesama manusia. Kebaruan (novelty) yang didapatkan dari penelitian ini adalah penafsiran Najib Mahfudz terhadap konsep zuhud bukanlah bermakna meninggalkan dunia, tetapi zuhud dimaknai dengan dengan memanfaatkan apa yang menjadi karunia Allah SWT di dunia untuk perubahan kehidupan yang lebih baik.

This research aims to explain and reveal several things, which include (1) the concept and view of life of the Sufis, (2) the models and tools of domination of political society over civil society, (3) the counter-hegemony of civil society driven by Sufis as organic intellectuals, and (4) Najib Mahfuz critical views which are championed in his three works, entitled Rihlah Ibn FatimahLayali Alfu Lailah, dan Malhamah al-Harafisy.

Antonio Gramsci's hegemony theoretical framework is utilized to discuss and answer the above objectives. This theory works by analyzing literary data and discussing the topics mentioned above. Meanwhile, the techniques and steps carried out using the technique (1) display the central ideology contained in material objects, (2) identify the movement of the ruling political community in using coercive domination, (3) identify the impact of coercive domination on civil society, ( 4) identification of the role of organic intellectuals who build awareness and gather approval from civil society to form a counter-hegemony successfully, and (5) explanation of the forms and tools of civil society's counter-hegemony as a humanistic resistance to the domination of political society.

The findings of this research show that Sufis have the concept of ascetic life, which means leaving the life of the world. This principle makes Sufis not involved and withdraw from social life. Civil society, which does not have the infrastructure of power, becomes the object of coercive domination from political society, which uses apparatus, media, and assets as tools of domination. Civil society is under pressure and starting to experience social problems. Sufis who lived in society finally moved to play the role of organic intellectuals in gathering community approval. The movement emerged from a change in understanding of the concept of asceticism. The Sufis succeeded in building a rival hegemony using fatwa-fatwa, which resulted in the community's agreement to carry out humanistic resistance to the political community in power. Najib Mahfuz put forward his view that Islam should not only be understood as religious rituals or rituals of worship but Islam should be understood as a whole using logic. Apart from that, Najib Mahfuz also offers a view of freedom of opinion, which is based on equality between human beings. The novelty obtained from this research is that Najib Mahfuz's interpretation of the concept of zuhud does not mean leaving the world and considering the world as dirt that must be left behind. However, zuhud is interpreted as utilizing what Allah SWT has gifted to improve life

Kata Kunci : Hegemoni, kaum sufi, kontra hegemoni, Najib Mahfuz

  1. S3-2024-420417-abstract.pdf  
  2. S3-2024-420417-bibliography.pdf  
  3. S3-2024-420417-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2024-420417-title.pdf