Laporkan Masalah

Tipologi Aktivitas Pedagang Kaki Lima Dalam Pemanfaatan Ruang Terbuka Publik di Kota Semarang (Studi Kasus : Kawasan Simpang Lima, Taman Indonesia Kaya, dan Aloon Aloon Kauman)

Yumna Oktaviani, Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc., Ph.D., IPU

2024 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah

ABSTRAK


Kepadatan penduduk Kota Semarang berdasarkan informasi yang dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Semarang, terdapat peningkatan jumlah penduduk di Kota Semarang sebesar 1,93% dibandingkan tahun sebelumnya yaitu tahun 2022. Hal ini berdampak langsung pada pemanfaatan ruang publik untuk berbagai aktivitas. Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di ruang kota umumnya menjadi masalah, karena PKL dikenal sebagai ketidakteraturan kota dan menempati ruang publik yang tidak disarankan. Pertumbuhan PKL menyebabkan mereka menempati setiap ruang publik tanpa memperhatikan lokasi yang seharusnya diperuntukkan bagi mereka seperti trotoar, badan jalan, menjadi tempat PKL tanpa memperhatikan aktivitas di sekitarnya, menyebabkan konflik penggunaan ruang dan mengurangi optimalitas ruang publik. Permasalahan ini muncul karena belum dikenalinya karakteristik PKL belum adanya acuan yang jelas dalam penentuan ruang aktivitas PKL. 

Studi ini bertujuan untuk mengetahui tipologi pemanfaatan ruang terbuka publik oleh PKL yang berhubungan dengan aktivitas berjualan, pemanfaatan ruang, kedekatan dan kemudahan pencapaian lokasi usaha, serta persepsi masyarakat terhadap keberadaan PKL.

Dalam studi ini menggunakan metode campuran mengkombinasikan kualitatif dengan kuantitatif atau metode penelitian kombinasi (mixed methods), Pengambilan sampel yang digunakan adalah Teknik Sampling Nonprobability dengan metode Quota Sampling untuk responden Pedagang Kaki Lima dan Insidental Sampling untuk responden masyarakat. Dengan teknik analisis deskriptif, distribusi frekuensi dan cross tabulation.

Berdasarkan analisis terhadap karakteristik PKL dalam berjualan diperoleh temuan bahwa makanan mendominasi jenis dagangan PKL dengan rembong dan tenda sebagai sarana perdagangan yang digunakan dan aktivitas usaha selama 4-8 jam, serta dalam penyebarannya, aktivitas PKL di Kota Semarang cenderung bersifat linier mengikuti pola jalan, yang terlihat dari banyaknya trotoar yang dimanfaatkan sebagai lokasi berjualan. Dari pemanfaatan ruang yang dilakukan diperoleh temuan bahwa aktivitas PKL berkembang di lokasi yang memiliki tingkat kunjungan tinggi dengan memanfaatkan ruang-ruang publik yaitu trotoar yang cukup luas yaitu 5 meter2, dalam memilih lokasi didasarkan pada kriteria bahwa lokasi tersebut bersifat strategis dan ramai pengunjung dan lokasi usaha mereka cenderung sangat dekat dengan aktivitas masyarakat, berdekatan dengan sumber bahan baku, memiliki kemudahan pencapaian dalam menjalankan aktivitasnya, PKL cenderung meninggalkan sarana usaha, yang berakibat pada munculnya dampak visual yang kurang baik. Berdasarkan persepsi masyarakat diperoleh temuan bahwa alasan utama masyarakat berbelanja di PKL adalah karena selera dan keberadaan aktivitas PKL memberi dampak positif dan negatif bagi masyarakat. Dampak positifnya adalah mudah mendapatkan makanan dan kebutuhan bagi pelaku aktivitas sektor formal karena lokasinya yang berdekatan. Sedangkan dampak negatifnya adalah trotoar menjadi sempit atau tidak dapat dilalui, parkir menjadi sulit, lingkungan menjadi kotor. 

Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa pedagang kaki lima cenderung memilih lokasi usaha di trotoar, memanfaatkan ruang dengan tingkat kunjungan tinggi dan aksesibilitas yang mudah, tanpa mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan pengguna ruang yang sama. Di Kota Semarang, aktivitas usaha PKL memiliki dampak positif melalui hubungan yang terbentuk antara PKL dan masyarakat. Namun, dari pemanfaatan ruang kota, aktivitas PKL juga memberikan dampak negatif, seperti perubahan fungsi ruang publik menjadi area aktivitas PKL yang menciptakan lingkungan visual yang kurang baik, kotor, dan tidak teratur. Oleh karena itu, untuk meminimalkan dampak negatif yang timbul, perlu adanya regulasi dan penataan ruang yang efektif bagi kegiatan PKL di ruang-ruang publik Kota Semarang.

Kata kunci : Tipologi, Pemanfaatan, Pedagang Kaki Lima, Karakteristik, Kota Semarang


ABSTRACT


The population density of Semarang City based on information released by the Semarang City Population and Civil Registration Office, there is an increase in the number of residents in Semarang City by 1.93% compared to the previous year, namely 2022. This has a direct impact on the use of public space for various activities. The existence of street vendors (street vendors) in urban spaces is generally a problem, because street vendors are known as city irregularities and occupy public spaces that are not recommended. The growth of street vendors causes them to occupy every public space without regard to the location that should be reserved for them such as sidewalks, road bodies, become street vendors without paying attention to surrounding activities, causing conflicts in the use of space and reducing the optimality of public spaces. This problem arises because the characteristics of street vendors have not been recognized, there is no clear reference in determining the space for street vendor activities. 

This study aims to determine the typology of public open space utilization by street vendors related to selling activities, space utilization, proximity and ease of reaching business locations, as well as public perception of the existence of street vendors.

In this study using a mixed method combining qualitative with quantitative or combination research methods (mixed methods), the sampling used is Nonprobability Sampling Technique with Quota Sampling method for Street Vendor respondents and Incidental Sampling for community respondents. With descriptive analysis techniques, frequency distribution and cross tabulation.

Based on the analysis of the characteristics of street vendors in selling, it was found that food dominates the type of street vendor merchandise with bongs and tents as a means of trade used and business activities for 4-8 hours, and in its distribution, street vendor activities in Semarang City tend to be linear following the road pattern, which can be seen from the many sidewalks used as selling locations. From the use of space carried out, it was found that street vendor activities develop  in locations that have a high level of visitation by utilizing public spaces, namely fairly wide sidewalks of 5 meters2, in choosing  a location based on the criteria that the location is strategic and crowded with visitors and  their business locations tend to be very close to community activities, adjacent to the source of raw materials, having ease of achievement in carrying out their activities, street vendors tend to leave business facilities, which results in the emergence of poor visual impacts. Based on public perception, it was found that the main reason people shop at street vendors is because the tastes and existence of street vendor activities have a positive and negative impact on the community. The positive impact is that it is easy to get food and necessities for formal sector actors because of its close location. While the negative impact is that sidewalks become narrow or impassable, parking becomes difficult, the environment becomes dirty. 

Based on the results of the study, it can be concluded that street vendors tend to choose business locations on sidewalks, utilizing spaces with high visitation rates and easy accessibility, without considering the safety and comfort of users of the same space. In Semarang City, street vendors' business activities have a positive impact through the relationship formed between street vendors and the community. However, from the use of urban space, street vendor activities also have a negative impact, such as changing the function of public spaces into street vendor activity areas that create a visual environment that is not good, dirty, and irregular. Therefore, to minimize the negative impacts that arise, it is necessary to have effective regulations and spatial arrangements for street vendor activities in public spaces in Semarang City.

Keywords : Typology, Utilization, Street Vendors, Characteristics, Semarang City


Kata Kunci : Tipologi, Pemanfaatan, Pedagang Kaki Lima, Karakteristik, Kota Semarang

  1. S2-2024-496034-abstract.pdf  
  2. S2-2024-496034-bibliography.pdf  
  3. S2-2024-496034-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2024-496034-title.pdf