Persepsi dan Strategi Masyarakat Dalam Pengembangan Wisata Berbasis Budaya Spiritual di Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah
Larasing Ati, Dr. Pande Made Kutanegara, M.si.
2024 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Dalam rangka pembangunan dan pengembangan budaya desa, KemendikbudRistek RI memberikan perhatian kepada dua puluh desa di Kecamatan Borobudur untuk mengembangkan pariwisata desa berbasis budaya lokal. Salah satunya yaitu Desa Giritengah. Dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas masyarakat Desa Giritengah banyak dipengaruhi budaya spiritual jawa. Oleh karena itu, untuk melanjutkan wacana program pemerintah, Desa Giritengah memanfaatkan budaya spiritual sebagai potensi diri yang melandasi pariwisata desa. Maka, tulisan ini memiliki satu pertanyaan besar yaitu, “Bagaimana Persepsi dan Strategi Masyarakat Desa Giritengah Dalam Mengembangkan Wisata Berdasarkan Potensi Budaya Spiritual” diikuti dengan tiga pertanyaan turunan. Tulisan ini melibatkan tiga partisipan utama serta menggunakan metode kualitatif sebagai pendekatan. Pengumpulan data dilakukan mulai dari bulan September 2021 hingga bulan Januari 2022. Dilanjutkan pada bulan Juni-Agustus 2022 dan terakhir pada bulan Februari-Maret 2023. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan studi pustaka. Berdasarkan proses pengumpulan data, tulisan ini menemukan bahwa masyarakat Desa Giritengah memiliki perbedaan persepsi dalam memandang budaya spiritual. Padahal, persepsi digunakan sebagai langkah awal pembentukan wisata spiritual. Menyadari adanya perbedaan persepsi, masyarakat mulai membentuk strategi untuk menyatukan pandangan serta membentuk konsep wisata spiritual yang sesuai dengan persepsi kolektif masyarakat. Strategi tersebut dibentuk untuk mengatasi tantangan yang dapat menghambat proses pembentukan wisata spiritual di Desa Giritengah. Beberapa tantangan yang berpotensi menghambat ialah pematangan konsep, relasi antar generasi, dan kurangnya sumber daya manusia. Maka, strategi yang dapat dilakukan yaitu pembentudkan travel pattern dan paket wisata. Selain itu, ragam festival desa diperbanyak sesuai dengan bulan kalender Jawa. Dengan begitu, program tersebut diharapkan dapat berkelanjutan di tahun yang akan datang.
In the context of building and developing a village through its culture, the Ministry of Research, Technology, and Higher Education Indonesia is paying attention to twenty villages in Borobudur District to develop tourism villages based on local culture. One of them is Giritengah Village. During daily activities, the people of Giritengah are heavily influenced by Javanese spiritual culture. Therefore, to continue the discourse on government programs, Giritengah utilizes spiritual culture as its potential that underlies tourism villages. Hence, this paper has one main question, namely, "What are the Perceptions and Strategies of Giritengah and its people in Developing Tourism Based on Cultural and Spirituality Potential" followed by three sub-questions. This article involves three main participants and uses qualitative methods as an approach. Data collection was carried out from September 2021 to January 2022. Continued in June-August 2022 and finally in February-March 2023. It was collected through observation, interviews, and literature study. While collecting the data, this paper finds that the people of Giritengah have different perceptions in viewing spiritual culture. Perception is used as the first step in forming spiritual tourism. Realizing the differences, the community began to form strategies to integrate their views and form a concept of spiritual tourism under collective perception of the community. This strategy was formed to overcome challenges that could restrain the process of establishing spiritual tourism in Giritengah. Some challenges that need to be noticed are short-term programs, intergenerational relations, and a lack of human resources. At present, the strategy that is implemented to overcome its challenges is forming travel patterns and tour packages. Apart from that, various festivals are held according to the months of the Javanese calendar. Thus, it is hoped that the program will be sustainable for years to come.
Kata Kunci : Kata Kunci: Budaya Spiritual, Wisata Spiritual, Keberlanjutan Budaya