Laporkan Masalah

Gus dan Gek di Tanah Jawa: Autoetnografi Peralihan Predikat Mayoritas ke Minoritas sebagai Mahasiswa Hindu Bali di Yogyakarta

MADE CANIAPASIS, Dr. Realisa Darathea Masardi, M. A.

2024 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA

Mahasiswa Hindu-Bali yang melanjutkan pendidikan tinggi di Yogyakarta mengalami pergulatan diri dalam transisi dan peralihan lanskap sosial yang sangat berbeda dari tanah kelahirannya. Mereka terbiasa dengan homogenitas budaya penduduk Bali yang menimbulkan rasa familiaritas sekaligus secara tidak langsung predikat sebagai seorang mayoritas. Gelutan perasaan, gegap budaya, serta refleksi-refleksi yang mengikutinya adalah inti dari penelitian ini. Sebagaimana penulis merupakan bagian dari mahasiswa Hindu-Bali yang tinggal di Yogyakarta, kepenulisan ini akan menggunakan metode autoetnografi, didukung dengan pemerolehan data selama satu setengah bulan di Yogyakarta melalui wawancara mendalam (secara langsung maupun virtual), partisipasi observasi, dan studi literatur. Partisipan penelitian adalah sepuluh mahasiswa Hindu Bali (masing-masing lima perempuan dan laki-laki) yang berasal dari golongan sosial menengah dan besar di Kota Denpasar, sehingga hal ini menyumbangkan keseragaman pada data penelitian ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan transisi mahasiswa dalam bentuk kejutan-kejutan dan komparasi antara Bali dan Yogyakarta berdasarkan apa-apa saja yang dianggap menyebalkan dan menyenangkan dari Yogyakarta. Penelitian ini juga mengungkapkan adaptasi perilaku sebagai respon dari kesadaran posisi sosial yang beralih ketika sampai di Yogyakarta, yang mana peralihan posisi sosial ini juga dianalisis menggunakan teori kekuasaan dan dominasi yang berbeda antara Bali dan Yogyakarta. Temuan mengenai fenomena Nak Jawe diungkapkan pula sebagai produk etnosentrisme masyarakat Bali dari kacamata mahasiswa Hindu Bali yang dianalisis menggunakan teori resentment beserta peralihan perspektifnya di Yogyakarta. Pada akhirnya, fenomena migrasi mahasiswa Hindu Bali ke Yogyakarta melahirkan kesadaran atas peralihan posisi sosial mahasiswa Hindu Bali beserta momentum perubahan perspektif yang tidak akan terjadi apabila tidak mengalami transisi tempat tinggal di Yogyakarta.

Hindu-Balinese students who continue their higher education in Yogyakarta experience personal struggles in transitioning and shifting social landscape that is very different from their homeland. As to they are accustomed to the cultural homogeneity of the Balinese population, this gave them a sense of familiarity and indirectly the predicate of being part of the majority. The turmoil of feelings, encountering cultural shock, and the reflections that follow are the essence of this research. This writing will use the autoethnography method as the writer herself is a Hindu-Balinese student living in Yogyakarta, supported by data collection for one and a half months in Yogyakarta through in-depth interviews (in person or virtually), participatory observation, as well as literature study. The participants of this research consist of ten Hindu-Balinese college students (each five male and female participants) which come from a middle to upper social group and grow in Denpasar, hence contributing to the uniformity of this research’s data. The results of this research show student transitions in the form of surprises and comparisons between Bali and Yogyakarta based on what is considered infuriating and surprisingly-enjoyable about Yogyakarta. This research also discovered behavioral adaptations as a response to awareness of changing social positions in Yogyakarta, where these shifts are also analysed using the theory of power and dominance regarding the difference between Bali and Yogyakarta. The findings regarding the Nak Jawe phenomenon were also revealed as a product of Balinese ethnocentrism from Hindu-Balinese students’ perspective which were analysed using the theory of resentment and its shift in perspective in Yogyakarta. After facing this experience, the phenomenon of Hindu-Balinese students migration to Yogyakarta contributed to awareness of the social position transition along with the momentum of a change in perspective that would not have occurred if they had not experienced living in Yogyakarta.

Kata Kunci : Bali, Yogyakarta, mahasiswa, mayoritas, minoritas, posisi

  1. S1-2024-459927-abstract.pdf  
  2. S1-2024-459927-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-459927-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-459927-title.pdf