Praktik-Praktik Well-being Perempuan Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Yogyakarta
Indrasastri Sekarlintang, Milda Longgeita Br. Pinem, S.sos., M.A., PHD
2023 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan pekerja informal yang memiliki tingkat kerentanan tinggi. Kerentanan ini dipengaruhi oleh tidak adanya payung hukum yang mengatur tentang hak-hak PRT. PRT seringkali mengalami pengabaian hak pekerja, seperti upah rendah yang tidak sesuai porsi kerja; jam kerja panjang; kekerasan di tempat kerja; serta tidak mendapat jaminan sosial / kesehatan. Beberapa penelitian menyoroti kondisi buruk PRT akibat tidak terpenuhinya hak PRT sebagai pekerja. Penelitian ini berusaha mencari tahu bagaimana praktik-praktik well-being Perempuan Pekerja Rumah Tangga (PRT), yang dikategorikan sebagai salah satu sektor pekerjaan yang paling tentan. Well-being merupakan bahasan sentral dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan konsep well-being khas dunia Selatan, di mana well-being dilihat sebagai proses dan memiliki dimensi-dimensi (dimensi materi / ekonomi, dimensi subjektif, dimensi personal) yang saling berkaitan. Konsep ini menjadi acuan dalam mengeksplorasi pengalaman PRT, serta melakukan analisis terhadap praktik well-being mereka.
Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif, yaitu naratif dengan analisis tematik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman mengenai bagaimana praktik-praktik well-being perempuan PRT di Yogyakarta. Penelitian ini berfokus untuk memahami fenomena praktik well-being PRT secara spesifik. Oleh karena itu, penelitian ini tidak bersifat menggeneralisir. Informan dalam penelitian ini berjumlah tujuh informan yang terbagi dalam dua kategori. Kategori pertama yaitu informan utama. Informan utama terdiri dari tiga orang informan PRT. Kategori kedua yaitu informan pendukung. Informan pendukung terdiri dari dua informan pemberi kerja / majikan, dan dua informan keluarga PRT. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Data yang telah terkumpul disusun menjadi sebuah narasi pengalaman hidup PRT dan dianalisis menggunakan analisis tema yang dikontekstualisasikan dengan konsep well-being dunia selatan.
Temuan dari penelitian ini adalah 1) praktik well-being PRT dalam dimensi ekonomi berkaitan erat dengan well-being ekonomi orang lain dan dipengaruhi oleh konstruksi budaya. 2) Dalam dimensi subjektif, PRT memiliki rasa percaya diri dan kebanggaan sebagai PRT, terlepas dari stigma masyarakat mengenai PRT. Harapan dan cita-cita pribadi PRT berkaitan dengan orang lain seperti teman, keluarga dan komunitas. 3) Praktik well-being PRT dalam Dimensi relasional berkaitan dengan dimensi materi dan subjektif. Hubungan dan interaksi PRT dengan teman, keluarga, dan komunitasnya selalu memunculkan praktik well-being dari dimensi subjektif dan materi. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik well-being PRT dapat dipahami sebagai sebuah proses yang melibatkan dimensi-dimensi yang saling terkait dan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari bersama komunitas.
Domestic Workers (PRT) are informal workers who have a high level of vulnerability. This vulnerability is influenced by the absence of a legal umbrella that regulates the rights of domestic workers. Domestic workers often experience neglect of workers' rights, such as low wages that do not match the portion of work; long working hours; workplace violence; and do not receive social/health insurance. Several studies highlight the poor conditions of domestic workers due to the failure to fulfill domestic workers' rights as workers. This research seeks to find out the well-being practices of female domestic workers (PRT), which is categorized as one of the most vulnerable employment sectors. Well-being is a central discussion in this research. This research uses the concept of well-being typical of the Southern world, where well-being is seen as a process and has dimensions (material/economic dimensions, subjective dimensions, personal dimensions) that are interrelated. This concept becomes a reference in exploring the experiences of domestic workers, as well as analyzing their well-being practices.
The research was conducted using qualitative methods, namely narrative with thematic analysis. This research aims to gain an understanding of the well-being practices of female domestic workers in Yogyakarta. This research focuses on understanding the phenomenon of domestic workers' well-being practices specifically. So this research is not generalized. There were seven informants in this study who were divided into two categories. The first category is the main informant. The main informants consisted of three PRT informants. The second category is supporting informants. Supporting informants consisted of two employer informants and two domestic worker family informants. Data was collected using in-depth interviews, participant observation and documentation. The data that has been collected is compiled into a narrative of the life experiences of domestic workers and analyzed using theme analysis contextualized with the concept of well-being in the southern world.
The findings of this research are 1) domestic workers' well-being practices in the economic dimension are closely related to the economic well-being of other people and are influenced by cultural constructions. 2) In the subjective dimension, domestic workers have a sense of self-confidence and pride as domestic workers, regardless of society's stigma regarding domestic workers. Domestic workers' personal hopes and aspirations relate to other people such as friends, family and the community. 3) Domestic workers' well-being practices in the relational dimension relate to the material and subjective dimensions. Domestic workers' relationships and interactions with friends, family and communities always give rise to well-being practices from subjective and material dimensions. These findings show that domestic workers' well-being practices can be understood as a process that involves interrelated dimensions and is practiced in daily life with the community.
Kata Kunci : Pekerja Rumah Tangga (PRT), well-being, material, subjektif, relasional