Hakikat Diri Workaholik Dalam Perspektif Filsafat Manusia Erich Fromm
Rachmat Andrian Syafutra, Dr. Septiana Dwiputri Maharani, S.S., M.Hum., Dr. Supartiningsih, S.S., M.Hum.
2023 | Skripsi | ILMU FILSAFAT
Workaholik merupakan seseorang yang terjebak dalam dorongan atau kebutuhan yang tak terkendali untuk bekerja tanpa henti. Sekilas terlihat bahwa seseorang secara pasrah menyerahkan dirinya untuk menjadi target eksploitasi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hakikat diri workaholik dan cara menuju eksistensi diri yang positif melalui bekerja dalam pandangan filsafat manusia Erich Fromm. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif bidang filsafat dengan menggunakan model penelitian mengenai masalah aktual. Analisis data menggunakan metode hermeneutika fiolosofis dengan unsur metodis interpretasi, induksi dan deduksi, koherensi intern, holistika, refleksi peneliti pribadi dan deskripsi. Hasil penelitian ini menunjukkan: Pertama, hakikat diri workaholik dapat dijelaskan sebagai upaya pelarian diri secara regresif dari fase kebebasan negatif, sehingga menempatkan diri individu kembali ke dalam pra-kebebasannya. Kedua, cara menuju eksistensi diri yang positif melalui bekerja ialah dengan mengikatkan diri secara positif, dilakukan dengan cara memenuhi kebutuhan eksistensial sehingga mengantarkan individu kepada kebebasan positifnya.
A workaholic is someone who is caught up in an uncontrollable urge or need to work endlessly. At first glance, it seems that a person is resignedly submitting himself to become a target of exploitation. This research aims to explain the nature of the workaholic self and how to lead a positive self-existence through work in the view of Erich Fromm's philosophy of human person. This research is a qualitative research in philosophy using a research model on actual problems. Data analysis uses the philosophical hermeneutic method with methodical elements of interpretation, induction and deduction, internal coherence, holistics, personal researcher reflection and description. The results of this study show: First, the nature of the workaholic self can be explained as an attempt to escape regressively from the negative freedom phase, thus placing the individual self back into its pre-freedom. Second, the way to positive self-existence through work is by binding oneself positively, done by fulfilling existential needs so as to bring individuals to their positive freedom.
Kata Kunci : Filsafat Manusia, Workaholik, Kebebasan, Hakikat Diri, Pelarian diri, Kebutuhan Eksistensi