Ko-infeksi Virus Dengue dan Chikungunya pada Nyamuk Aedes aegypti L. (Diptera: Culicidae) di Kota Mataram
Munawir Sazali, Dr. R.C. Hidayat Soesilohadi, M.S; Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK; Dr. biol.hom. Nastiti Wijayanti, S.Si., M.Si.
2023 | Disertasi | S3 Biologi
Nyamuk Aedes aegypti merupakan vector utama virus
dengue (DENV) dan chikungunya (CHIKV). Surveilans vektor masih menjadi salah satu pilihan utama pengendalian kasus
DENV dan CHIKV di lingkungan. Surveilans pada penelitian ini menggunakan rancangan
penelitian cross-sectional design yang
dilakukan pada 102 rumah di enam kecamatan Kota Mataram.
Density figure index digunakan sebagai acuan untuk mengukur
container index (CI), house index (HI), dan breteau index
(BI) serta analisis Angka Bebas Jentik.
Berdasarkan nilai density figure index, hal ini dijadikan
sebagai patokan dalam menentukan analisis distribusi spatial-temporal, pola
penyebaran dan wilayah berisiko vektor. Deteksi DENV dan CHIKV
secara simultan dilakukan menggunakan
RT-PCR untuk mendapatkan material genetik virus.
Deteksi ko-infeksi virus dilakukan dengan pendekatan real-time qPCR.
Interaksi antara reseptor protein C-Type Lectin (CTL) Ae. aegypti dengan
ligan dari envelope DENV dan CHIKV dilakukan dengan analisis
biokomputasi melalui pendekatan protein docking. Hasil
analisis densitas vektor didapatkan HI dan ABJ berbeda secara signifikan
(p=0,000<0 name="_Hlk120954270">Kecamatan Mataram memiliki nilai HI
tertinggi 76,47%. Nilai ABJ tertinggi di Kecamatan Sandubaya sekitar 70,59% (masih tergolong wilayah berisiko). Wilayah berisiko tinggi
penyebaran vektor adalah Kecamatan Ampenan, Mataram dan Cakranegara dengan pola
dispersed. DENV-1, 2, dan 3 serta CHIKV diketahui bervariasi di setiap
wilayah dengan persentase secara berurutan 18,2, 36,4, 27,2 dan 18,2%. Informasi
kandidat reseptor potensial secara bioinformatik menunjukkan CTL7 memiliki nilai
lowest binding energy sebesar -1407,20
kcal/mol terhadap DENV1, 2, 3, 4, dan CHIKV, hal ini menunjukkan CTL7 merupakan
kandidat reseptor terkuat dalam terjadinya ko-infeksi antara DENV 1, 2, 3, 4 dan
CHIKV pada nyamuk Ae. aegypti. Oleh karena itu, pemanfaatan surveilans
secara terpadu dan informasi infeksi virus pada vektor Ae. aegypti diperlukan
untuk pengendalian kasus demem berdarah dengue dan chikungunya secara terpusat dan
berkelanjutan.
Aedes aegypti is one of the main vectors of dengue virus (DENV) and chikungunya virus (CHIKV). Vector surveillance is the important agenda of controlling DENV and CHIKV infections in the environment. The surveillance study used a cross-sectional research design, it’s carried out vector surveillance on 102 houses in Mataram City, West Nusa Tenggara, Indonesia. The density figure index can measure container index (CI), house index (HI), and breteau index (BI) as well as Angka Bebas Jentik (ABJ) analysis. Based on the density figure index value, it can be used as a benchmark in determining spatial-temporal distribution analysis, distribution patterns and risk areas of vector. Simultaneous detection of DENV and CHIKV was carried out using the RT-PCR approach to obtain cDNA. Furthermore, virus infection detection was carried out based on the real-time qPCR program. The interaction of Ae. aegypti C-Type Lectin (CTL) protein receptors and viral envelope ligands were carried out in biocomputational analysis based on protein-protein docking. The results of vector density analysis showed that HI and ABJ were significantly different (p=0.000<0>Ae. aegypti were necessary for centralized and continuous control in Mataram City.
Kata Kunci : Aedes aegypti, C-Type Lectin 7, DENV dan CHIKV, Surveilans