Evaluasi Tingkat Kematangan Infrastruktur Informasi Geospasial Pemerintah Daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta
Asyfi'Na Shofiyal Izza, Dr. Ir. Diyono, S.T., M.T., IPU
2023 | Tesis | S2 Teknik Geomatika
Informasi Geospasial (IG) merupakan hasil pengolahan data geospasial yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian. Pengelolaan informasi geospasial diintegrasikan dalam bentuk infrastruktur informasi geospasial. Infrastruktur Informasi Geospasial (IIG) menjadi suatu inisiatif dalam menciptakan lingkungan yang saling menimbulkan interaksi baik untuk teknologi, kebijakan, dan kelembagaan. Sesuai fungsinya, IIG dibangun untuk mengurangi duplikasi data antar instansi pemerintah. Sejak terselenggaranya IIG memungkinkan adanya perkembangan kualitas maupun kuantitas dari informasi yang diberikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan proses evaluasi terhadap penyelenggaraan IIG di Indonesia. Evaluasi penyelenggaraan IIG terdiri dari penilaian terhadap kesiapan dan kematangan IIG. IIG sudah berlangsung di Indonesia selama kurang lebih tiga dekade, sehingga idealnya perlu adanya evaluasi terhadap pengimplementasian IIG. Evaluasi perkembangan IIG dilakukan dengan penilaian kematangan IIG.
Penilaian kematangan IIG dilakukan untuk mengetahui tingkat efektivitas pengelolaan IG. Saat ini penilaian IIG pemerintah daerah di Indonesia masih pada penilaian performa IIG yang tertuang dalam Sistem Informasi Monitoring Simpul Jaringan IG Nasional (SIMOJANG) pada laman https://simojang.big.go.id/dashboard. Metode penilaian kematangan IIG pada penelitian ini dilakukan dengan mengadopsi penilaian Capability Maturity Model Integration (CMMI) dan Geospatial Maturity Assessment Ordnance Survey (GMA OS). Penelitian dilakukan dengan mendefinisikan komponen penilaian performa IIG terhadap komponen CMMI dan GMA OS. Hasil pendefinisian digunakan sebagai komponen untuk perhitungan nilai kematangan IIG.
Hasil pendefinisian terhadap komponen CMMI dan GMA OS menunjukkan bahwa hanya 6 komponen CMMI yang dapat didefinisikan terhadap kriteria penilaian performa IIG. Sedangkan semua komponen GMA OS dapat didefinisikan terhadap kriteria performa IIG. Hasil pendefinisian tersebut dilakukan uji tingkat kelayakan. Uji kelayakan untuk pendefinisian dari penilaian performa IIG ke komponen CMMI sebesar 81,75?n GMA OS sebesar 85,52%. Berdasarkan hasil tingkat kelayakan tersebut, perhitungan tingkat kematangan IIG tertinggi apabila menggunakan metode CMMI diperoleh Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nilai 95,24%. Sedangkan apabila menggunakan pendekatan metode GMA OS, nilai kematangan tertinggi diperoleh Kabupaten Bantul dengan nilai 81,25%.
Geospatial Information (GI) results from geospatial data processing used for policy formulation, decision making, and implementation of activities related to earth space. Integrated geospatial information management in the form of geospatial information infrastructure. Geospatial Information Infrastructure (GII) is an initiative environment that creates interaction for technology, policy, and institutions. Following its function, GII can reduce data duplication in government agencies. Since the implementation of the GII, it has been possible to develop the quality and quantity of the information provided. Therefore, it is necessary to carry out an evaluation process for implementing GII in Indonesia. GII implementation evaluation consists of GII readiness and maturity. GII has been going on in Indonesia for approximately three decades, so ideally there needs to be an evaluation of the implementation of GII. Evaluation of GII maturity can obtain GII developmental conditions.
GII management effectiveness level can use GII maturity assessment. Currently, GII's assessment of local governments in Indonesia is still on GII's performance assessment as contained in the Sistem Informasi Monitoring Simpul Jaringan IG Nasional (SIMOJANG) on the https://simojang.big.go.id/dashboard website. This study's GII maturity assessment method adopted the Capability Maturity Model Integration (CMMI) assessment and Geospatial Maturity Assessment Ordnance Survey (GMA OS). The research was conducted by defining GII performance assessment criteria for CMMI and GMA OS components. The calculation of the GII maturity value can use the results of defining the maturity component.
Defining the CMMI and GMA OS components shows that GII performance assessment criteria can only define 6 CMMI components. Meanwhile, for all GMA OS components, it can be defined against the IIG performance assessment criteria. The value of component definition from criteria performance assessment to CMMI 81,75% and GMA OS 85,52%. The results of the GII maturity calculation in Daerah Istimewa Yogyakarta, the highest score when using the CMMI approach was obtained by the Province of Daerah Istimewa Yogyakarta with a value of 95.24% and the highest score when using the GMA OS approach was obtained by Bantul Regency with a value of 81.25%.
Kata Kunci : IIG, Penilaian Kematangan, Capability Maturity Model Integration (CMMI), Geospatial Maturity Assessment Ordnance Survey (GMA OS)