RUMAH REKREASI LANSIA DENGAN PENDEKATAN HUMAN-CENTERED DESIGN DI KABUPATEN SLEMAN
Meurah Intan Shafia, Diananta Pramitasari, ST, M.Eng., Ph.D
2023 | Skripsi | ARSITEKTUR
Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang cukup besar, yang memungkinkan terjadinya fenomena "bonus demografi" di mana jumlah penduduk yang masuk ke dalam usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif. Menurut Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Indonesia diperkirakan akan mengalami bonus demografi pada tahun 2035. Setelah era ini berakhir, Indonesia akan memasuki era "aging-population" atau "aging-society" di mana penduduk usia produktif yang sebelumnya mendominasi akan digantikan oleh penduduk usia tua atau lansia.
Peningkatan jumlah lansia juga akan menyebabkan permasalahan yang melanda para penduduk tua, termasuk masalah ekonomi, kesehatan, dan produktivitas yang menyebabkan masalah seperti ditelantarkannya lansia, rentannya ekonomi pada lansia yang hidup sendiri, dan kualitas hidup yang menurun karena produktivitas yang rendah.
Untuk meningkatkan kesejahteraan lansia yang mandiri dan produktif, perencanaan dan pembangunan Rumah Rekreasi Lansia sebagai Pusat Komunitas Lansia merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah ini di Indonesia, terutama di Yogyakarta yang merupakan daerah dengan populasi penduduk lansia tertinggi di Indonesia. Rumah Rekreasi Lansia berperan sebagai tempat untuk membantu lansia menciptakan kondisi mandiri dengan tingkat kualitas hidup yang baik dalam menjalani aktivitas serta meningkatkan produktivitas dan kualitas hidupnya.
Dalam merancang Rumah Rekreasi Lansia, digunakan metode Human-centered Design yang mengutamakan kebutuhan dan keinginan yang lebih menyeluruh dan berorientasi pada penggunanya, terutama lansia. Human-centered Design memiliki tiga prespektif dasar yaitu Desirability, Feasibility , dan Viability yang didukung oleh fitur pedoman sebagai dasar dalam mendesain Rumah Rekreasi Lansia.
Indonesia is a country with a large population, which allows for the phenomenon of "demographic bonus" in which the number of people entering productive age is greater than those in non-productive age. According to the Ministry of Coordinating Human Development and Culture of the Republic of Indonesia, Indonesia is predicted to experience demographic bonus in 2035. After this era ends, Indonesia will enter the era of "aging-population" or "aging-society" where the previously dominant productive-aged population will be replaced by the elderly population.
The increase in the elderly population will also cause problems for the older population, including economic, health, and productivity issues leading to neglect of the elderly, economic vulnerability among elderly living alone, and decreased quality of life due to low productivity. To improve the welfare of independent and productive elderly, the planning and construction of Elderly Recreational House as Community Centers for the Elderly is one way to address these issues in Indonesia, particularly in Yogyakarta which has the highest elderly population in Indonesia.
The Elderly Recreational House serves as a place to help the elderly create independent conditions with good quality of life in carrying out activities and increasing productivity and quality of life. In designing the Elderly Recreational House, the Human-centered Design method is used, which prioritizes the comprehensive needs and desires of users, particularly the elderly. The Human-centered Design method has three basic perspectives, namely Desirability, Feasibility , and Viability, supported by guidelines as a basis for designing the Elderly Recreational House.
Kata Kunci : Pusat Komunitas Lansia, Lansia Mandiri, Human-centered Design