Women Center dengan Pendekatan Superimposisi di Yogyakarta
Alya Putri Rahmasari, Dr. Dyah Titisari Widyastuti, S.T., MUDD.
2023 | Skripsi | ARSITEKTUR
Setiap individu memiliki hak untuk merasa aman dan bebas berekspresi. Namun, selalu ada marabahaya yang membuuat tidak semua orang memiliki pemenuhan hak yang sama. Ketimpangan hak ini terjadi pula pada perempuan dan gender minoritas lain, tak terkecuali di Yogyakarta. Naasnya, ketimpangan ini dapat berakhir menjadi sesuatu yang lebih fatal, seperti kekerasan berbasis gender atah KBG. Oleh karenanya, selama ini perwujudan pemenuhan hak ini terus melalui berbagi pengupayaan, salah satunya dengan adanya fasilitas yakni women center. Tipologi ini mengupayakan adanya beberapa fungsi dalam satu fasilitas mengingat tak hanya penanganan kasus KBG saja yang perlu diupayakan, tetapi juga pengarusutamaan dan perkembangan pergerakan dari berbagai pihak inisiatif. Dengan demikian, pendekatan yang digunakan perlu mengakomodasi fungsi yang berbeda-beda, lalu-lintas dalam bangunan ketika aktivitas darurat serta prinsip lain dalam perancangannya. Pengembangan desain melalui pendekatan superimposisi dapat mempertahankan aspek-aspek perencanaan yang krusial tanpa membuatnya menjadi subversif terhadap aspek lain. Penggabungan aspek yang selalu menghasilkan element of surprise melalui disrupsi dapat menghasilkan suatu karakter terhadap desain. Dalam pengembangannya, tipologi fungsi dan pendekatan ini akan disesuaikan pula dengan konteks di mana ia dirancang, sehingga menjadi suatu desain yang padu dan kontekstual dengan kondisi Yogyakarta sebagai lokasi.
Every person has the right to feel safe and express themselves without feeling any risk haunting them. Unfortunately, some people feel the exact opposite in reality. Uneven distribution of power between men and women, or even other gender minorities is still happening everywhere, Yogyakarta is no exception. This inequality can result in something way worse, including gender based violence or GBV. Over the decades, many attempts have been made to improve this situation, including providing a facility such as women center. To improve the current situation, one must not tackle only the GBV issues. Preventive ways through many movements and improvements should be applied to make sure everyone is involved in this venture together. Hence, to provide people with such facility will require many functions in one comprehensive design. Superimposition theory could possibly maintain each crucial aspect in the design development phase without making some aspects become subversive to others. Arranging the aspects to one another may lead to a disruption that could as well be an element of surprise to the overall design character. These building typology and theory will later be gaining some adjustment to the context of where it is designed to construct the facility thoroughly and contextual with Yogyakarta as the site location.
Kata Kunci : women center, penanganan KBG, pengarusutamaan gender, superimposisi