Laporkan Masalah

Perspektif Budaya Malu Pada Orang Muda Jepang: Studi Kasus Terhadap Orang Muda di Tokyo

Farah Hana Shafa Dhiaulhaq, Drs. Eman Suherman, M. Hum.

2023 | Skripsi | S1 SASTRA JEPANG

    Penelitian ini membahas tentang bagaimana perspektif orang muda Jepang terkait budaya malu dengan menggunakan metode studi kasus terhadap sepuluh mahasiswa yang tinggal di Tokyo. Konsep malu dalam masyarakat Jepang ada dua, yaitu malu secara umum dan malu secara pribadi. Banyak yang mengatakan bahwa generasi muda Jepang telah berubah dan tidak lagi memiliki nilai budaya sebagaimana generasi pendahulu mereka. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah orang muda Jepang saat ini masih memiliki budaya malu atau tidak.

    Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Data-data dikumpulkan dari hasil wawancara dan berbagai jurnal, artikel dan buku. Kemudian, data dianalisis dengan menggunakan metode analisis data Miles dan Huberman. Peneliti mengumpulkan data dan sumber mengenai perspektif orang muda Jepang terhadap budaya malu dan fungsinya. Kemudian, data yang telah terkumpul disederhanakan dengan cara memilih data-data penting dan menyajikannya dalam bentuk teks dan tabel. Terakhir, peneliti akan menarik kesimpulan dari data yang telah terkumpul.

    Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum orang muda Jepang di Tokyo saat ini masih memiliki budaya malu. Terlepas bduaya malu yang dimiliki mereka baik atau buruk, mereka masih cenderung memperhatikan pandangan orang lain sebelum mengekspresikan diri, tetapi juga dapat menjadi pengontrol diri untuk tidak melanggar hukum, peraturan dan norma yang ada dalam masyarakat.

    This research discusses the perspective of young Japanese regarding the culture of shame, using a case study method involving ten students living in Tokyo. In Japanese society, the concept of shame can be categorized into two types: public shame and private shame. Many argue that the younger generation in Japan has changed and no longer upholds cultural values like their predecessors. This raises the question of whether the current young Japanese still has shame culture or not.

    This research was conducted with a qualitative approach. Data was collected from interviews and various journals, articles, and books. Then, the data was analyzed using the Miles and Huberman's data analysis method. The researcher collected data and sources regarding the perspective of young Japanese on shame culture and its function. Then, the collected data was simplified by selecting important data and presenting it in text and tables. Last, the researcher makes a conclusion.

    The result of this study is that in general the current young Japanese in Tokyo still has a shame culture. Regardless of whether their shame culture is good or bad, they still tend to consider the opinions of others before taking action. So shame culture can act as a constraint on individuals in expressing themselves, but it can also function as self-control to prevent them from violating laws, regulations, and societal norms.

Kata Kunci : Budaya malu, Perspektif, Orang muda Jepang

  1. S1-2023-446370-abstract.pdf  
  2. S1-2023-446370-bibliography.pdf  
  3. S1-2023-446370-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2023-446370-title.pdf