Laporkan Masalah

Pergeseran Otoritas Keagamaan di Indonesia: Tinjauan Terhadap Dakwah Digital Husein Ja'far Alhadar

ANWAR KURNIAWAN, Dr. Sugeng Bayu Wahyono

2022 | Tesis | MAGISTER KAJIAN BUDAYA DAN MEDIA

Penelitian ini mendiskusikan otoritas keagamaan di Indonesia. Sebagai negara dengan populasi umat Muslim yang dominan, sangat beragam, dan belum tentu saling setuju, otoritas agama Islam di Indonesia membentangkan khazanah yang menarik untuk dikaji. Apalagi di era media sosial, pergumulan otoritas agama Islam perlu mendapat perhatian khusus, utamanya terkait fenomena munculnya gugusan otoritas keagamaan baru yang unik sekaligus berbeda dengan formasi otoritas keagamaan tradisional. Salah satu simbol otoritas agama Islam di era media sosial adalah Habib Husein Ja������¢���¯���¿���½���¯���¿���½far Alhadar. Pendakwah yang menjadi sosok idola baru bagi anak muda Indonesia ini kerap mewarnai percakapan di media sosial hingga stasiun televisi nasional. Menggunakan konsep kunci Pierre Bourdieu, penelitian ini berusaha mengidentifikasi pergeseran otoritas agama Islam dengan melihat strukturasi genetik dakwah digital Habib Husein dan alasan mengapa dia menggunakan komedi sebagai ujung tombak dakwahnya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) legitimasi Habib Husein sebagai simbol otoritas agama Islam di era media sosial ditentukan oleh praksis dakwah digital. Ini merupakan hasil dialektis dari proses interaksi habitus dan modal-modal Habib Husein di arena keagamaan di media sosial; 2) penggunaan komedi dalam dakwah digital adalah setrategi diferensiasi Habib Husein untuk mensubversi gerakan konservatisme agama di media sosial. Selain itu, komedi juga digunakan Habib Husein untuk mendapat atensi masyarakat agar tertarik dengan dakwah keislaman yang rileks dan mencerdaskan.

This study discusses religious authority in Indonesia. As a country with a dominant Muslim population, very diverse, and not necessarily in agreement with each other, Islamic religious authorities in Indonesia have presented interesting treasures for study. In the era of social media, the struggle for Islamic religious authority needs special attention, especially in relation to the phenomenon of the emergence of new groups of religious authorities that are unique and different from traditional religious authority formations. One of the symbols of Islamic religious authority in the era of social media is Habib Husein Ja'far Alhadar. The preacher, who has become a new idol for young Indonesians, often colors conversations on social media to national television stations. Using Pierre Bourdieu's key concept, this study aims to identify shifts in Islamic religious authority by looking at the genetic structuring of Habib Husein's digital preaching and the reasons why he uses comedy in his preaching. The results of this study indicate that: 1) the legitimacy of Habib Husein as a symbol of Islamic religious authority in the social media era is determined by the praxis of digital da'wah. This is a dialectical result of the process of interaction between habitus and Habib Husein's capital in the religious arena on social media; 2) the use of comedy in digital preaching is Habib Husein's differentiation strategy to subvert the religious conservatism movement on social media. Apart from that, comedy is also used by Habib Husein to get people's attention so that they are interested in Islamic da'wah which is relaxed and educating.

Kata Kunci : Habib Husein, Otoritas Keagamaan, Media Sosial, Dakwah Digital

  1. S2-2022-467798-abstract dan intisari.pdf  
  2. S2-2022-467798-bibliography.pdf  
  3. S2-2022-467798-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2022-467798-title.pdf