Laporkan Masalah

Satria Pinandhita: Dipanegara Dalam Babad Ngayogyakarta Hamengku Buwana IV Dumugi V (SB 169) (Suntingan Teks, Terjemahan, Dan Analisis Fokalisasi)

ARSANTI WULANDARI, Prof. Dr. Marsono, S.U.,; Dr. Sri Margana, M.Phil., M.Hum.

2022 | Disertasi | DOKTOR ILMU-ILMU HUMANIORA

Babad Ngayogyakarta sangat beragam dengan berbagai rentang waktu serta peristiwa yang dikisahkan. Salah satu peristiwa yang sering diceritakan adalah Perang Jawa yang terjadi 1825-1830. Babad Ngayogyakarta HB IV dumugi V menjadi salah satu teks yang memuat kisah tersebut, bahkan sebelum peristiwa besar itu berlangsung. HB IV dan HB V adalah Sultan yang bertahta di usia belia. Kekhasan pemerintahan masa tersebut adalah masa perwalian. Itulah alas an pemilihan Babad Ngayogyakarta HB IV dumugi V kode SB 169 sebagai objek kajian. Filologi dipakai dalam pendekatan terhadap teks Babad Ngayogyakarta HB IV dumugi V kode SB 169. Sebagai ilmu yang mengeluarkan sifat teks dengan memahami konteks melalui perunutan kata-kata yang dipakai, filologi mempunyai dua tugas pokok yang harus dilakukan yaitu menyajikan dan menafsirkan teks. Teks Babad Ngayogyakarta HB IV dumugi V yang masih ditulis dengan aksara Jawa perlu dilakukan alih aksara dan selanjutnya diterjemahkan. Tahap interpretasi adalah pembacaan kembali teks dan dilakukan penganalisisan terhadap teks yang sudah diterjemahkan tersebut. Penganalisisan dalam hal ini adalah melihat dengan lebih detail dan menyambungkannya dengan konteks yang terbangun dengan melihat fokalisasi teks. Gaya penceritaan teks akan menunjukkan visi teks. Close reading terhadap teks menunjukkan bahwa teks ditulis pada masa HB VI (1869) oleh Raden Tumenggung Sasra Adipura, Bupati Wedana di wilayah Kalasan dan disalin oleh Sastra Pratama Nom, anak Sastra Pratama pada masa HB VII (1881). Sedangkan yang mengarang adalah sentana dalem Pangeran Suryawijaya. Beliau adalah seorang kerabat yang vokal dan menggulirkan konsep suksesi bahwa pengganti Raja haruslah orang Mataram, tetapi tidak harus dari garwa padmi. Rupanya inilah yang menjadi alasan penulisan dan penyalinan Babad Ngayogyakarta HB IV-V kode SB 169. Peran Dipanegara dimunculkan oleh HB III pada masa HB IV sebagai panutan. Dipanegara adalah putra pertama HB III dari seorang selir, tetapi memilih mempelajari agama di pesanggrahannya di Tegalrejo. Karakter Dipanegara yang religius humanis inilah yang diharapkan oleh HB III ditularkan kepada putranya (HB IV). Banyak bacaan Islam tentang fiqih dan kitab Jawa tentang kepemimpinan yang harus dipelajari HB IV untuk siap menjadi Raja bekarakter Jawa tetapi juga kuat iman Islamnya. Masa HB V, Dipanegara menjadi wali HB V tetapi dalam kenyataannya perannya banyak dilompati oleh Patih Danureja, sehingga beliau tersingkir. Inilah penyebab pecahnya Perang Jawa. Kompeni juga menjadikan pemerintahan Sultan Timur ini sebagai aji mumpung untuk bisa bermain dengan leluasa. Adanya ayat-ayat Quran menjadi ciri tersendiri dalam penyalinan teks, demikian halnya penulisan aksara yang khas. Aksara rekan untuk penulisan Khanjeng Sultan, Khatong menunjukkan teks disalin di lingkungan Islami sebagai bentuk IV dumugi V penghormatan kepada pemimpinnya. Dari sisi kebahasaan teks menunjukkan kebiasaan orang Jawa menyelaraskan bahasa asing ke dalam bahasa Jawa. Fenomena fernakularisasi terekam dalam teks Babad Ngayogyakart HB IV dumugi V. Teks menjadi sebuah dokumen baik secara kebahasaan sebagai produk bahasa, maupun secara historis yang melihat Babad sebagai historiografi.

Babad Ngayogyakarta or The Chronicle of Ngayogyakarta, is very diverse with various time spans and narrated events. One of the events that is often told is the Java War that occurred in 1825-1830. Babad Ngayogyakarta HB IV dumugi V is one of the texts that contains that story, even before the big event take place. HB IV and HB V both reigned at a young age. The peculiarity of the reign of this period was the phase of guardianship. That is the reason for choosing Babad Ngayogyakarta HB IV dumugi V coded SB 169 as the object of study. Philology is used in the approach to the text of the Babad Ngayogyakarta HB IV dumugi V coded SB 169. As a science that reveals the nature of text by understanding context through tracing the words used, philology has two main tasks to perform, presenting and interpreting the text. The text Babad Ngayogyakarta HB IV dumugi V which is still written using Javanese script, needs to be transliterated and then translated. Interpretation stage is when the process of rereading and analyzing the translated text is carried out. The process of analyzing in this case is to look in more in detail and to relate it to the context that is built by examining text focalization. The storytelling style of the text will show the vision of the text. Close reading of the text has shown that the text was written during the reign of HB VI (1869) by Raden Tumenggung Sasra Adipura, Bupati Wedana in the Kalasan area, and then was copied by Sastra Pratama Nom, a child of Sastra Pratama when HB VII (1881) was in power. The one that was asked to compose was the sentana dalem Pangeran Suryawijaya. He was an outspoken relative who introduced the concept of accession that the successor to the King must be a Mataram descendant, but not necessarily from the garwa padmi. Apparently, this is the reason for writing and copying the Babad Ngayogyakarta HB IV - V coded SB 169. The role of Dipanegara as a role model was raised by HB III during the period of HB IV. Dipanegara was HB III's first son from a concubine, but chose to study religion at his pesanggrahan in Tegalrejo. This religious humanist character in Dipanegara is what HB III hopes to pass on to his son (HB IV). There are many Islamic readings on fiqh and Javanese teachings on leadership that HB IV must learn to be ready to become a king not only with Javanese character but also strong Islamic faith. During HB V, Dipanegara became the guardian of HB V but in reality, his role was skipped over by Patih Danureja, so he was excluded. This is the cause of the outbreak of the Java War. The Company also used the East Sultan's government as an opportunity to "play" freely. The existence of the verses of the Koran is a distinctive feature in the copying of the text, as well as the writing of a typical script. The rekan characters for these writings for example: Khanjeng Sultan, Khatong, shows that the text was copied in Islamic milieu as a form of respect for leaders. In terms of linguistics, the text shows the Javanese habit of aligning foreign languages into Javanese. The phenomenon of vernacularization is recorded in the text Babad Ngayogyakarta HB IV dumugi V. The text becomes a document both as a language product linguistically, as well as, historically, a means of viewing Babad as historiography.

Kata Kunci : Babad Ngayogyakarta HB IV-V, dokumen bahasa, Dipanegara, suksesi, Islam.

  1. S3-2022-405387-abstract.pdf  
  2. S3-2022-405387-bibliography.pdf  
  3. S3-2022-405387-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2022-405387-title.pdf