Permintaan Bawang Merah di Daerah Istimewa Yogyakarta Sebelum dan Saat Pandemi COVID-19
BUDIASTUTI WALUYA S, Arini Wahyu Utami, S.P., M.Sc., Ph.D.;Prof. Dr. Ir. Dwidjono Hadi Darwanto, M.S.
2022 | Skripsi | S1 EKONOMI PERTANIAN DAN AGRIBISNISBawang merah merupakan komoditas pertanian yang banyak digunakan oleh masyarakat dan memiliki harga cukup fluktuatif. Permintaan bawang merah cenderung konstan dan konsumsi per kapita di Daerah Istimewa Yogyakarta meningkat pada beberapa tahun terakhir. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui perbedaan kuantitas permintaan bawang merah pada sebelum dan saat terjadi pandemi COVID-19, (2) mengetahui faktor yang mempengaruhi permintaan bawang merah, dan (3) mengetahui elastisitas permintaan bawang merah. Penelitian dilakukan di Provinsi DIY dengan jumlah sampel sebanyak 2.446 rumah tangga yang dipilih secara purposive sampling. Data dalam penelitian ini berasal dari SUSENAS bulan Maret tahun 2019 (representasi sebelum pandemi) dan SUSENAS bulan Maret tahun 2021 (representasi saat terjadi pandemi COVID-19). Metode yang digunakan dalam analisis penelitian adalah Mann Whitney Test dan regresi Robust Least Square dengan Estimator M. Hasil dari penelitian ini adalah permintaan bawang merah di DIY menunjukkan perbedaan nyata pada masa sebelum dan saat pandemi COVID-19. Permintaan bawang merah akan semakin tinggi jika harga bawang merah atau harga bawang putih semakin menurun, status kepala rumah tangga yang bekerja di sektor non pertanian, dan lokasi rumah tangga di wilayah perkotaan. Permintaan bawang merah semakin meningkat apabila semakin tinggi harga cabai merah, pendapatan rumah tangga, jumlah anggota keluarga, dan masa pandemi COVID-19. Selain itu, elastisitas harga bawang merah bersifat inelastis dan elastisitas pendapatan menunjukkan bawang merah merupakan barang kebutuhan pokok. Elastisitas silang menunjukkan bahwa bawang putih merupakan barang komplementer, sedangkan cabai merah merupakan barang substitusi dari bawang merah.
Shallots is one of agricultural commodities that is widely consumed by the people and have fluctuating price. The demand for shallots tends to be constant meanwhile percapita consumption in Yogyakarta Special Region has increased in recent years. The purpose of this study are (1)determining the difference of shallots demand quantity before and during the COVID-19 pandemic, (2)learning the factors that influence demand for shallots, and (3)computing the demand elasticity of shallots. This research was held in Yogyakarta Special Region with total samples 2,446 households selected by purposive sampling. Data in this study comes from SUSENAS in March 2019 (representation conditions before the pandemic) and SUSENAS in March 2021 (representation conditions during the pandemic). The methods that used in this research analysis are Mann Whitney Test and Robust Least Square with M-estimator. The results of this study showed the demand for shallots in this province has significant differences before and during the COVID-19 pandemic. Demand for shallots will be higher if the prices of shallots or garlic decrease, that of the head of the household works in the non-agricultural sector, and the location of the household in urban areas. The higher price of red chili, household income, number of family members, and the COVID-19 pandemic will cause demand for shallots to increase as well. The price elasticity of shallots is inelastic and the income elasticity indicates that shallots are a staple goods. Cross elasticity indicates that garlic is complementary product, while red chili is substitute product.
Kata Kunci : Bawang Merah, Permintaan, Elastisitas Permintaan