Frontier Sumatera Timur: Perubahan Lanskap dan Transformasi Sosial Ekonomi, 1860an-1930an
RIRIN DARINI, Prof. Dr. Bambang Purwanto, MA; Dr. Mutiah Amini, M.Hum.
2022 | Disertasi | DOKTOR ILMU-ILMU HUMANIORADisertasi ini membahas keberadaan frontier di Sumatera Timur dengan menggunakan konsep frontier yang diperkenalkan oleh Frederick Jackson Turner. Proses ekspansi frontier berlangsung secara intens sejak pertengahan kedua abad ke-19. Kawasan ini mengalami perubahan yang sangat cepat seiring dengan terjadinya proses tersebut, terutama melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para kapitalis yang mendapat dukungan baik dari pemerintah kolonial maupun dari para elit tradisional. Aspek yang dikaji dalam penelitian ini adalah perubahan-perubahan pada lanskap Sumatera Timur sekaligus aspek sosial dan ekonominya. Sejak masuknya Sumatera Timur dalam kekuasaan kolonial pada 1858 dan diberlakukannya UU Agraria 1870, banyak pemodal yang menanamkan usahanya di wilayah ini baik dalam sektor perkebunan maupun pertambangan. Wilayah-wilayah yang dulunya berupa rimba belantara disulap menjadi lahan-lahan perkebunan yang tertata beserta akses jalan baik berupa jalan raya maupun jalan kereta api menuju ke pelabuhan. Kota-kota juga mulai bermunculan untuk mendukung kegiatan ekonomi. Populasi yang sangat rendah di wilayah ini menyebabkan pemenuhan tenaga kerja dilakukan dengan memasukkan para kuli baik dari Cina, India, Jawa, maupun berbagai wilayah lain sehingga pertumbuhan penduduk berkembang sangat cepat dengan masyarakat yang sangat multietnis. Meskipun hadir terlambat, pertumbuhan penduduk yang pesat didukung dengan perbaikan-perbaikan dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa frontier dalam konteks Sumatera Timur merepresentasikan ruang penghasil komoditi ekspor yang ekspansinya sangat ditentukan oleh aliran kapital global. Kemakmuran ekonomi Sumatera Timur yang tumbuh pesat, di satu sisi menetes ke sebagian masyarakat, terutama masyarakat etnis pendatang seperti Batak Toba, Batak Mandailing, dan Minangkabau serta orang-orang Cina, yang mampu meningkatkan kesejahteraan hidupmya melalui kesempatan ekonomi yang muncul atau pendidikan yang diperoleh. Namun di sisi lain, sebagian orang Melayu justru kehilangan tradisi sebagai penghasil komoditi ekspor dan beralih menjadi petani subsisten.
This dissertation discusses the existence of the frontier in East Sumatra using the frontier concept introduced by Frederick Jackson Turner. The process of frontier expansion took place intensely since the second half of the 19th century. This area underwent rapid changes along with this process, especially through activities carried out by capitalists who had the support of both the colonial government and the traditional elite. The aspects studied in this research are the changes in the landscape of East Sumatra as well as the social and economic aspects. Since the entry of East Sumatra into colonial rule in 1858 and the enactment of the Agrarian Law of 1870, many investors have invested in this area, both in the plantation and mining sectors. Areas that used to be in the wilderness were transformed into well-organized plantations along with road access, both roads and railways leading to the port. Cities also began to emerge to support economic activities. The very low population in this area causes the fulfillment of the workforce by including coolies from China, India, Java, and various other regions so that population growth develops very quickly with a very multiethnic society. Despite its late arrival, rapid population growth was supported by improvements in health and education. This study concludes that the frontier in the context of East Sumatra represents a space for producing export commodities whose expansion were largely determined by global capital flows. The economic prosperity of East Sumatra, which were growing rapidly, on the one hand, trickles down to the community, especially ethnic immigrants such as the Batak Toba, Batak Mandailing, and Minangkabau as well as the Chinese, who could be able to improve their welfare through the economic opportunities that arise or the education they received. On the other hand, some Malays have lost their tradition of producing export commodities and have turned to subsistence farmers.
Kata Kunci : frontier, Sumatera Timur, perubahan lanskap, transformasi sosial ekonomi/frontier, East Sumatra, landscape change, socio-economic transformation