FROM APOCALYPTICISM TO CONSPIRITUALITY: THE WAY OF AMBONESE CHRISTIANS IN DEALING WITH THE COVID-19 VACCINE
FREJHON C LASATIRA, Dr. Leonard Chrysostomos Epafras; Dr. Suhadi, MA
2022 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYAPemberian vaksin COVID-19 yang sedang berlangsung melalui komunitas agama di Ambon mempengaruhi persepsi orang Kristen Ambon tentang krisis tersebut. Tesis ini mengevaluasi persepsi orang Kristen Ambon tentang vaksin dalam narasi perjuangan kosmik dan klaim narasi pengetahuan marginal. Narasi apokaliptik mengkristalkan perlawanan kebaikan melawan kejahatan dan kedatangan Tuhan untuk membenarkan orang-orang pilihan, sedangkan narasi konspirasi mengakomodasi pengetahuan marginal yang dianggap bertentangan dengan pengetahuan resmi atau diakui. Dari realitas umat Kristen Ambon, narasi apokaliptik dan konspirasi dikaitkan dengan ruang lingkup religiositas. Kecemasan atas wacana vaksin berkembang dalam kaitannya dengan kekuatan luar yang terjalin dalam pengalaman krisis masa lalu. Pertama, bagaimana keraguan vaksin dipahami dalam wacana paham apokaliptik dan kedua bagaimana teori konspirasi menolong kita untuk memahami wacana vaksin dalam persepsi publik. Dengan metode deskriptif kualitatif yang dikumpulkan dari observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, penulis memperoleh beberapa temuan: Pertama, penerimaan keraguan vaksin menyiratkan narasi apokaliptik bahwa Tuhan secara aktif melindungi mereka dari ancaman krisis pandemi sehingga, melalui khotbah dan ritual, orang menjadi terikat dan dituntun untuk memiliki harapan. Kedua, Keraguan Vaksin hadir di kalangan Kristen Ambon sebagai bentuk perlawanan terhadap orang luar yang jahat. Pengalaman krisis saat ini berkaitan dengan krisis masa lalu yang harus dikendalikan oleh kecemasan saat ini. Ketiga, teori konspirasi membantu orang menerima pengetahuan marjinal sebagai pengetahuan yang valid di ruang publik. Keempat, hubungan antara pela dan gandong dalam wacana vaksin dikenal sebagai pela poro (perut). Orang-orang di akar rumput mendapatkan dana dari pemerintah tetapi dipandang sebagai ladang bisnis elit. Selanjutnya, hubungan grassroots-to-grassroots dengan pela poro tidak berjalan dengan baik karena menguatnya sitgmatisasi pengetahuan terkait wacana vaksin. Kesimpulannya, umat Kristen Ambon berjuang melawan krisis COVID-19 yang mengklaim wacana vaksin sebagai motif instrumentalis (kepentingan ekonomi dan politik).
The ongoing COVID-19 vaccine through a religious community in Ambon is influencing Ambonese Christians' perception of the crisis. This thesis evaluates Ambonese Christians' perception of vaccines in the narrative of the cosmic struggle and the narrative claims of marginal knowledge. Apocalyptic narratives crystallize the resistance of good against evil and the coming of God to justify the elect, whereas conspiracy narratives accommodate marginal knowledge that is considered contrary to official or recognized knowledge. From the reality of Ambonese Christians, apocalyptic narratives and conspiracies are linked with religiosity. Anxiety over the vaccine discourse develops in relation to outsider power entwined in past crisis experiences. First, how vaccine hesitancy is understood in terms of apocalypse, and second, how conspiracy theories help us to understand vaccine discourse in public perception. With descriptive qualitative methods collected from observations, interviews, and documentation studies, the author managed to obtain several findings: First, the acceptance of vaccine doubt implies an apocalyptic narrative that God is actively protecting them from the threat of a pandemic crisis so that, through sermons and rituals, people become bound and led to have hope. Second, Vaccine Doubt is present among Ambonese Christians as a form of resistance against evil outsiders. The experience of the present crisis has to do with past crises that the present anxiety to control. Third, conspiracy theories help people accept marginal knowledge as valid knowledge in the public sphere. Fourth, the relationship between pela-gandong in vaccine discourse is known as pela poro (stomach). People at the grassroots get funding from the government but are seen as the business fields of the elite. Furthermore, the grassroots-to-grassroots relationship with pela poro did not go well because of the strengthening of the marginal knowledge related to vaccine discourse. In conclusion, Ambonese Christians are fighting against the COVID-19 crisis, which claims the vaccine discourse as an instrumentalist motive (economic and political interests).
Kata Kunci : covid-19 vaccine, good and evil, marginal knowledge, ambonese christians, ritual