Laporkan Masalah

Galeri Seni dan Gedung Pertunjukan Wayang Kulit Wukirsari Bantul Yogyakarta

MUHAMMAD JAGAD CAHAYA, Labdo Pranowo, S.T., MSc

2022 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Pada masa kejayaannya, bioskop menjadi tempat tujuan utama bagi masyarakat yang hendak menikmati tayangan film. Seiring perkembangan teknologi elektronik, kehadiran televisi menjadi pesaing bioskop untuk memberikan hiburan. Bioskop semakin tergerus oleh kemudahan hiburan yang dapat dinikmati melalui teknologi informasi dan teknologi (TIK). Seperti halnya penayangan film di bioskop, pementasan atau pagelaran wayang kulit pada masa kejayaannya juga menjadi hiburan yang dinantikan masyarakat. Hampir di setiap acara resmi pemerintahan, kemasyarakatan, atau hajatan mereka yang mampu, pagelaran wayang menjadi pilihan prestisius yang dapat memberikan nilai kebanggaan tersendiri. Seiring perkembangan teknologi, khususnya TIK, pagelaran wayang kulit juga semakin ditinggalkan seperti halnya penayangan film di bioskop. Di berbagai kesempatan pementasan wayang kulit, kehadiran penontonnya semakin sedikit. Sebagian besar penontonnya adalah mereka yang usianya relatif sudah tua. Wayang Kulit merupakan salah satu budaya asli dari Indonesia, terutama dari Pulau Jawa. Di Yogyakarta terkenal akan Wayang kulitnya, baik dari pengrajinnya maupun dalang wayang kulit. Desa Wukirsari mejadi salah satu desa yang terkenal akan produk pengrajin Wayang Kulitnya. Desa Wukirsari juga merupakan desa yang melahirkan talenta dalang muda. Di era modern ini popularitas wayang kulit mengalami penurunan peminat. Desa wukirsari memiliki 200 lebih keluarga yang memiliki profesi sebagai pengrajin wayang kulit. Dan diantaranya juga merupakan keluarga dalang. Maka dari itu dibutuhkannya dukungan dan fasilitas yang memadahi untuk menjaga kejayaan wayang kulit. Dengan pembangunan fasilitas untuk mendukung budaya wayang kulit, maka diharapkan warga Desa Wukirsari dapat melanjutkan tradisi dengan baik dan dapat mempertahankan wayang kulit untuk kedepannya. Dengan menggabungkan fungsi Galeri Seni dan Gedung Pertunjukan Wayang Kulit, maka sinergi dari fungsi yang ada akan menjadi daya tarik dan menunjang kegiatan dalam menjaga budaya Wayang Kulit. Kawasan ini kemudian dapat menjadi wadah bagi pengrajin wayang, dalang wayang, dan juga pengunjung yang ingin melihat kesenian wayang kulit. Terdapat 2 fungsi utama dari gedung ini yaitu Fungsi Galeri Seni dan Wayang Kulit yang berada pada bagian depan bangunan, dan yagn kedua fungsi Gedung Pertunjukan yang menyatu pada bagian belakang gedung.

In its heyday, cinemas became the main destination for people who wanted to enjoy film shows. Along with the development of electronic technology, the presence of television has become a competitor to cinemas to provide entertainment. Cinema is increasingly being eroded by the ease of entertainment that can be enjoyed through information technology and technology (ICT). Like showing films in theaters, puppet shows (wayang kulit) or performances in their heyday were also entertainment that the public had been waiting for. In almost every official government event, community event, or celebration of those who can afford it, wayang performances are a prestigious choice that can provide its own value of pride. Along with the development of technology, especially ICT, ‘wayang kulit’ performances are also increasingly being abandoned as well as showing films in theaters. On various occasions for ‘wayang kulit’ performances, the attendance of the audience is getting smaller. Most of the audience are those who are relatively old. ‘Wayang Kulit’ is one of the original cultures from Indonesia, especially from the island of Java. Yogyakarta is famous for its shadow puppets, both from the craftsmen and the puppeteers. Wukirsari Village is one of the villages that is famous for its Wayang Kulit craftsman products. Wukirsari Village is also a village that gives birth to young puppeteers talents. In this modern era, the popularity of ‘wayang kulit’ has decreased. Wukirsari village has more than 200 families who have professions as ‘wayang kulit’ craftsmen. And some of them are also the puppeteer's family. Therefore, adequate support and facilities are needed to maintain the glory of wayang kulit. With the construction of facilities to support ‘wayang kulit’ culture, it is hoped that the residents of Wukirsari Village can continue the tradition well and can maintain ‘wayang kulit’ in the future. By combining the functions of the Art Gallery and the ‘Wayang Kulit’ Performance Building, the synergy of the existing functions will become an attraction and support activities in maintaining the ‘Wayang Kulit’ culture. This area can then become a place for puppet craftsmen, puppeteers, and also visitors who want to see the art of ‘wayang kulit’. There are 2 main functions of this building, namely the function of the Art Gallery and ‘Wayang Kulit’ which are located at the front of the building, and the second function of the Performance Building which is integrated at the rear of the building.

Kata Kunci : Wukirsari, wayang kulit, galeri, pertunjukan

  1. S1-2022-384793-abstract.pdf  
  2. S1-2022-384793-bibliography.pdf  
  3. S1-2022-384793-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2022-384793-title.pdf