Laporkan Masalah

Co-Living bagi Pekerja Milenial dengan Pendekatan Zero Energy Building di Kecamatan Depok, Yogyakarta

ANGELINE VINISIA L, Ardhya Nareswari, S.T., M.T., Ph.D

2022 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Pesatnya pertumbuhan sektor ekonomi dan industri di Yogyakarta mempengaruhi perkembangan pembangunan sarana dan prasarana yang menyebabkan munculnya beragam isu lainnya, seperti keterbatasan dan peningkatan harga lahan serta peningkatan tingkat konsumsi energi. Beragam isu tersebut tentunya dipengaruhi oleh peningkatan jumlah tenaga kerja di Yogyakarta untuk mengakomodasi kebutuhan sumber daya manusia (SDM) pada sektor tersebut. Kecamatan Depok sebagai wilayah aglomerasi Yogyakarta menjadi kawasan dengan persebaran tenaga kerja terbesar di Yogyakarta dengan dominasi oleh tenaga kerja milenial. Dikarenakan dominasi dari tenaga kerja milenial yang terhalang dengan peningkatan harga lahan akibat isu keterbatasan lahan, tenaga kerja milenial kesulitan untuk memiliki hunian yang dapat mengakomodasi karakteristik serta kebutuhan mereka. Oleh karena itu, diterapkan prinsip ekonomi berbagi pada hunian bagi pekerja milenial untuk menekan beban finansial individu untuk penggunaan fasilitas yang dibayarkan secara komunal. Prinsip tersebut diakomodasi dalam hunian dengan tipologi co-living, yang juga menerapkan pendekatan Zero Energy Building untuk mendukung penghematan biaya, terutama dengan menerapkan metode konservasi energi terbarukan serta mengurangi beban penghawaan bangunan. Co-living dirancang sebagai hunian vertikal untuk penghematan lahan. Selain itu, pendekatan Zero Energy Building juga menyelesaikan isu peningkatan konsumsi energi yang didominasi oleh tipologi hunian, terlebih co-living yang mewadahi aktivitas banyak individu. Dengan demikian, perancangan co-living bagi pekerja milenial dengan pendekatan Zero Energy Building merespon konteks lokasi yakni keterbatasan lahan dan tingginya penggunaan energi di Kecamatan Depok, Yogyakarta dengan tetap mengakomodasi beragam kebutuhan dan karakteristik pekerja milenial.

The rapid growth of the economic and industrial sectors in Yogyakarta has influenced the development of facilities and infrastructure which has led to the emergence of various other issues, such as limitations and increases in land prices and an increase in energy consumption levels. These various issues are certainly influenced by the increase of workers in Yogyakarta to accommodate the needs of human resources. Depok sub-district as an agglomeration area of Yogyakarta is the area with the largest workforce distribution in Yogyakarta, which dominated by millennial workers. Due to the dominance of the millennial workforce which is hindered by the increase in land prices due to the issue of limited land, millennial workers can’t afford a housing to accommodate their characteristics and needs. Therefore, the shared economy principle for millennial worker’ housing reduce the individual financial burden for the use of communally paid facilities. This principle is accommodated in housing with a co-living typology, which also applies a Zero Energy Building approach to support cost savings, especially by applying renewable energy conservation methods. Co-living is designed as a vertical residence to save land. In addition, the Zero Energy Building approach also solves the issue of increasing energy consumption which is dominated by residential typologies, especially co-living which accommodates the activities of many individuals. Co-living with the Zero Energy Building approach for millennial workers responds the location context, such as limited land and high energy use in Depok District, Yogyakarta while accommodating the various needs and characteristics of millennial workers.

Kata Kunci : Pekerja Milenial, Zero Energy Building, Co-living, Kecamatan Depok

  1. S1-2022-428525-abstract.pdf  
  2. S1-2022-428525-bibliography.pdf  
  3. S1-2022-428525-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2022-428525-title.pdf