Laporkan Masalah

Analisis kompetensi aparatur Dinas Perhubungan Kota Pontianak dalam konteks otonomi daerah yang Good Governance

PATRIANI, Ira, Dr. Warsito Utomo

2003 | Tesis | S2 Administrasi Negara

Seiring dengan adanya perubahan paradigma dalam kepemerintahan dewasa ini, yaitu adanya otonomi daerah memberikan satu pencerahan didalam sistem pemerintahan Indonesia, dan bukan hanya itu, otomatis para penyelenggara pemerintahan (baca : aparatur negara) dituntut untuk lebih mampu, berdaya guna dan berkeahlian dalam menyikapi hal tersebut khususnya dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Oleh karena itu, berangkat dari asumsi tersebut di atas, penelitian ini memfokuskan pada kompetensi atau kemampuan aparatur untuk itu, adapun kantor atau dinas yang menjadi studi kasusnya adalah Dinas Perhubungan Kota Pontianak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menggambarkan kompetensi aparatur Dinas Perhubungan Kota Pontianak dan faktor- faktor yang berperan didalamnya. Kompetensi tersebut meliputi kemampuan teknis, manajerial dan etika dengan faktor yang menjadi aspek dari kompetensi tersebut adalah pendidikan, diklat dan pengalaman kerja. Metode yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif yang menekankan pada penelitian lapangan, penggambaran dan interpretasi dari fakta, data, dan informasi yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Data dan informasi diperoleh dengan teknik pengamatan,wawancara dan dokumen. Semua bahan pada akhirnya dikaji, diinterpretasi dengan menggunakan pemikiran intelektual yang berdasarkan pada pengamatan empiris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya kompetensi atau masih sangat minimnya kemampuan yang dimiliki aparatur Dishub yang dapat dilihat dari pendidikannya yang sebagian besar adalah tamatan SLTA dan bahkan masih ada yang tamatan SD. Dari diklat yang ada dilapangan, masih banyak yang belum mencerminkan kebutuhan dari organisasi, tetapi karena diadakan untuk mengikuti prosedural dan aturan yang telah ditentukan. Pengalaman kerja, untuk kategori bekerja di organisasi yang sama sudah termasuk baik karena dengan rata-rata masa kerjanya diatas 10 tahun tetapi untuk posisi yang ditempati pengalaman masih kurang rata-rata dibawah 5 tahun. Begitu juga dengan orintasi terhadap aturan dan prosedural sanagt kuat, sehingga untuk mengkritisi aturan belum berani sehingga kreativitas dan sikap inovasi masih sangat rendah dan jauh dari harapan. Oleh karena itu, dapat direkomendasikan beberapa hal mengenai hal diatas : dalam hal pendidikan, dilakukan pengiriman atau memberikan kesempatan pada aparatur untuk melanjutkan jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi. Diadakan diklat dengan frekuensi yang lebih banyak, dan dianalisis sesuai dengan kebutuhan organisasi sehungga aparatur dapat lebih mampu untuk bekerja. Otomatis semua hal tersebut dapat menjadi input dalam menyiasati paradigma otonomi daerah yang good governance dimana pengembangan dan memperbaiki diri dangat perlu bagi aparatur negara yang menjadi pelaku atau aktor utama dalam sistem pemerintahan ini. Dengan demikian dapat dimulai dari learning to be effective, learning to be efficient dan menjadi learning to expand. Dan tidak lupa pula ketauladanan pemimpin sangat penting.

Parallel with paradigm change in governance today, i.e. autonomy context, give the enlightment for governance system in Indonesia. For this, automatically state apaparatus claimed more capable, better and professionalism on his function and duty. Therefore, from that assumption the primary missions of the research is to describe and to analyze about the competency of apparatus, and the field is communication office of Pontianak City. Based on missions, the research especially aims at describing : (1) apparatus competency, i.e. tecnical competency, managerial and etical competency. (2) factors that influence competency, it can be achieved through formal education, training, working experience. Method employed in the research is of Qualitative-descriptive one placing an emphasis on the field research, the description and the interpretation of the facts, the data and the information pertaining to apparatus competency. The facts, the data and the information are obtained using observation, interview, and documentation. All of the materials are throughly examined and then interpreted using an intellectual understanding on the basis of empirical experiences. The results of the research show that apparatus competency is low and more than half of them are graduated from senior high school, and there is still apparatus graduated from elementary school, is horrible. And training, is held very seldom and it didn’t adjust with needs for their duty and function. It is just follows rule and regulation for civil servant. For working experience, still ha ve to more learning to knowing their duty and function. Apparatus oriented of regulation and rule still tightly, with reason for their saving job. Therefore, to critize rule and regulation for their developing themselves still don’t work. Automatically creativity and innovation from them is far away from hoping. Therefore, for the success in achieving and increasing their competency adopted the recommendation as : for education, dispatching apparatus to continue their formal education, and give them more attention and chance about schooling. Make training were held often and adjust their needs, not just follows rules. All of that can be input for increasing and repairing themselves, from learning to be effective, learning to be efficient and learning to expand. The last but not at least, role- modelling is very important to make it better and working.

Kata Kunci : Aparatur,Kinerja,Kinerja Birokrat,Otonomi Daerah

  1. S2-2003-IraPatriani-Abstract.pdf  
  2. S2-2003-IraPatriani-Bibliography.pdf  
  3. S2-2003-IraPatriani-Tableofcontent.pdf  
  4. S2-2003-IraPatriani-Title.pdf