STUDI KELAYAKAN PERUBAHAN RSKIA ANNISA BANJARMASIN MENJADI RUMAH SAKIT UMUM DI ERA PANDEMI COVID-19
NOLISTA INDAH RASYID, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D; Ni Luh Putu Eka Putri Andayani, SKM, MKes
2022 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang: Peningkatan jumlah penduduk akan meningkatkan berbagai kebutuhan termasuk pelayanan kesehatan. Pemenuhan fasilitas pelayanan kesehatan dapat dilakukan pihak swasta. Rumah sakit di Kota Banjarmasin hanya terdapat 11 rumah sakit (Dinkes Provinsi Kalsel, 2020; Dinkes Kota Banjarmasin, 2020). 39,8% merasakan akses ke pelayanan kesehatan sulit (Riskesdas Kalsel 2018). RSKIA Annisa ingin berkontribusi dalam pemenuhan pelayanan kesehatan dengan merencanakan pengembangan menjadi RS umum akan tetapi pada saat yang sama terjadi pandemi COVID-19. Irwandy (2020) pandemic COVID-19 menghantam sistem pelayanan kesehatan Indonesia diantaranya krisis keuangan rumah sakit sehingga pengembangan perlu dilakukan analisis kelayakan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi kelayakan pengembangan RSKIA Annisa Banjarmasin menjadi rumah sakit umum dengan melakukan analisis situasi analisis permintaan, analisis kebutuhan dan analisis keuangan. Metode : Rancangan penelitian merupakan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh dengan wawancara, observasi dan pengambilan data sekunder. Hasil : Analisis situasi menunjukkan 10 penyakit terbanyak adalah kasus umum. dengan angka kesakitan pada pasien laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda, menunjukkan permintaan dan kebutuhan akan fasilitas kesehatan umum antara pasien laki-laki dan perempuan cenderung sama. Analisis permintaan adalah pengembangan menjadi RS Umum kelas D dengan kapasitas 50 TT serta permintaan masyarakat terhadap pembiayaan kesehatan dengan BPJS Kesehatan akan tetapi saat ini bermitra dengan BPJS Kesehatan merupakan kondisi yang tidak pasti sehingga diperlukan scenario planning. Analisis kebutuhan pengembangan rumah sakit umum adalah penyesuaian jumlah TT pada instalasi rawat inap, ICU dan instalasi Radiologi. Proyeksi jumlah kunjungan, disertai data proyeksi pendapatan/rugi laba selama 10 tahun. Nilai Investasi Rp. 16.072.563.000. Hasil analisis keuangan menunjukkan PP jika tidak bermitra dengan BPJS Kesehatan 5 tahun 7 bulan, jika bermitra dengan BPJS Kesehatan lebih cepat yaitu 4 tahun 5 bulan.. Hasil perhitungan NPV positif pada kedua kondisi. Nilai IRR lebih besar dari discount factor pinjaman. BEP bernilai positif dengan pendapatan lebih besar dari total cost pada tahun 2027 jika tidak bermitra dan 2026 jika bermitra dengan BPJS Kesehatan. Kesimpulan: Pengembangan RSKIA Annisa menjadi RS umum layak untuk dilanjutkan
Background: An increase of population will increase various needs, including health services. The fulfillment of health service facilities, including hospitals, can be carried out by the private sector. There are only 11 hospitals in Banjarmasin City (Dinkes Provinsi Kalsel, 2020; Dinkes Kota Banjarmasin, 2020). 39.8% feel that access to health services is difficult (Riskesdas Kalsel, 2018). RSKIA Annisa wants to contribute to health services by planning to develop it into a public hospital but at the same time there is a COVID-19 pandemic. Irwandy (2020) the COVID-19 pandemic has hit Indonesia's health care system, including the hospital financial crisis, so a feasibility analysis is needed. Objective: This study aims to conduct a feasibility study for the development of RSKIA Annisa Banjarmasin into a general hospital by conducting a situation analysis of demand analysis, needs analysis and financial analysis. Methods: The research design is qualitative research with a case study design. The data obtained by interview, observation and secondary data collection. Results: Situation analysis showed that the 10 most common diseases were common cases. with the morbidity rate in male and female patients is not much different, indicating the demand and need for public health facilities between male and female patients tend to be the same. Demand analysis is the development into a Class D General Hospital with a capacity of 50 beds as well as public demand for health financing with BPJS Kesehatan but currently partnering with BPJS Health is an uncertain condition so scenario planning is needed. Analysis of the needs for the development of general hospitals is to adjust the number of beds in inpatient installations, ICUs and Radiology installations. Projected number of visits, accompanied by projected income/profit loss data for 10 years. Investment Value Rp.16.072.563.000. The results of the financial analysis show that PP if it is not partnered with BPJS Health is 5 years 7 months, if it is partnered with BPJS Health it is faster, namely 4 years 5 months. The results of the NPV calculation are positive in both conditions. The IRR value is greater than the discount factor of the loan. BEP has a positive value with income greater than the total cost in 2027 if not partnered and 2026 if partnered with BPJS Health. Conclusion: The development of RSKIA Annisa into a general hospital is feasible to continue
Kata Kunci : studi kelayakan, Feasibility study