BUDAYA PATRIARKI PADA MUSIK NGINGGUT DALAM IRINGAN RITUAL SEMEGAH ERAU PELAS BENUA DI GUNTUNG BONTANG KALIMANTAN TIMUR
YUSUF RIZKY NUR C, Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari, M.Hum. dan Dr. Eli Irawati S. Sn,. M.A
2021 | Tesis | MAGISTER PENGKAJIAN SENI PERTUNJUKAN DAN SENI RUPABudaya patriarki merupakan bentuk dominiasi laki-laki yang berperan dalam terbentuknya kesinambungan musik Nginggut. Penulis mengambil objek musik Nginggut dan ritual semegah yang merupakan musik ensambel dan menggunakan pendekatan etnografi dan teori Weight Scale sebagai cara mengurai proses budaya patriarki dan menganalisis musik nginggut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor terbentuknya budaya patriarki pada musik Nginggut dalam ritual semegah. Pelaksanaan ritual semegah bertujuan untuk mengucap syukur, meminta perlindungan dan sarana memberi tahu, bahwa akan dilaksanakan upacara adat. Prosesi Ritual masih dilaksankan hingga kini karena masyarakat Kutai Guntung mepercayai terdapat dua penguasa alam semesta, yaitu dewa dan alam roh nenek moyang. Dalam prosesi ritual, terdapat seorang belian yang bertugas memimpin dan mengatur berlangsungnya ritual. Tugas Belian dan Pemain musik adalah sebagai sarana berkomunikasi kepada dua unsur tersebut. Pemusik nginggut dan belian merupakan unsur penting dalam pelaksanaan ritual yang menciptakan ikatan dan keselarasan sehingga membentuk suasana magis dan sakral. Dalam proses terbentuknya suasana dan keterkaitan tersebut, pelaksana ritual harus orang yang bisa menjalankan ritual dan memiliki ketahanan, dalam bentuk fisik ataupun pikiran. Pandangan demikian membentuk kontruksi sosial tentang paradigma bahwa laki-laki dianggap pantas melaksanakan ritual sebagai pemimpin dan juga pemain musik. Sementara wanita menjadi pendukung ritual karena dianggap tidak bisa mewakili dua bentuk syarat menjalankan ritual.. Dengan demikian budaya patriarki yang terbentuk menimbulkan struktur sosial yang mempengaruhi banyak faktor yaitu dalam bentuk musik nginggut, Belian, dan didukung oleh ekosistem masyarakat Kutai Guntung Bontang.
Patriarchal culture is a form of male domination that plays a role in shaping the continuity of nginggut�s music. The author takes up the subject of Semegah�s ritual that is Nginggut music and Ansambel music while using an Ethnographic approach and Weight scale theory to decipher the process of Patriarchal culture and analyze Nginggut�s music. This study aims to determine the origins of the Nginggut in Semegah ritual. The implementation of Semegah ritual is to thank and ask for protection and as a means to of informing that the traditional ceremony will be held. The processions are still being carried to this present day due to Kutai Guntung�s people believe that there are two rulers in this universe, namely Gods and Ancestral Spirits. There is a �Belian� that leads and organize the procession of this ritual. Belian�s job along with the music players is served as a means of communicating these elements. Nginggut and Belian musicians are important elements in the implementation of rituals that create bonds and harmony to form a magical and sacred atmosphere. In the process forming the atmosphere and the relationship, the ritual performer must be the ones that can do the procession whilst having the endurance in form of physic and mind. This view creates social construct and paradigm that men are considered most worthy of carrying out the rituals, as leaders and also musicians. Meanwhile, women become supporters of the ritual due to having not fulfilled the requirement that is stated earlier. Thus the patriarchal culture that is formed creates a social structure that affects many factors in form of Nginggut�s music, Belian, and supported by Kutai Guntung Bontang community ecosystem.
Kata Kunci : Kata Kunci: Musik Ngingggut, Budaya Patriarki, Belian, Kutai Guntung.