Laporkan Masalah

Belt and Road Initiative: Politik Pembangunan Infrastruktur dan Fiksasi Spasial di Asia Tenggara

M. RASYID RIDHO, Dr. Maharani Hapsari, M.A.

2021 | Tesis | MAGISTER ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Tesis ini bertujuan untuk menjelaskan pola dan dampak dari adanya BRI di Asia Tenggara dalam kurun waktu 2013-2020. Analisis menggunakan kacamata strukturalisme untuk melihat aliran kapital dan dampaknya kepada masyarakat, dikarenakan kecenderungan berbagai penelitian yang membahas relasi BRI dengan kawasan-kawasan lain menggunakan perspektif skeptisisme di level negara/kawasan, pengubahan tata kelola regional/global, strategi, dan strategi ekonomi domestik Cina sebagai merkantilisme baru. Klaster CLMV dipilih sebagai fokus pembahasan sub-kawasan semenjak keempat negara ini secara historis selalu berhubungan dengan intens dan telah dilembagakan di tingkat ASEAn melalui Pertemuan Menteri Ekonomi CLMV pada 2010 lalu. Temuan yang didapatkan adalah: Pertama, negara-negara CLMV memiliki kondisi yang beragam pada regulasi ketenagakerjaan, upah, investasi, dan situasi infrastruktur. Kebijakan pendukung pembangunan CLMV cenderung senada, yakni keyakinan bahwa pembangunan infrastruktur akan menanggulangi permasalahan pembangunan. Kedua, investasi infrastruktur BRI berperan sebagai fiksasi spasial. Hal tersebut didorong oleh krisis overkapasitas produksi di Cina dan kondisi ekonomi-politik CLMV yang atraktif bagi masuknya investasi asing. Bntuk investasi infrastruktur didominasi oleh skema joint venture dan BOT. Proyek BRI merupakan bentuk 'akumulasi melalui perampasan' yang didukung oleh negara, berupa perampasan akses masyarakat pada sumber daya dan pengalihan kepemilikan tanah, diikuti oleh penggusuran dan tindakan koersi oleh aparat pemerintah. Creative destruction tercipta ketika masyarakat tercerabut dari praktik ekonomi agrarid sehari-hari dan keterikatan kultural pada tanah ataupun sungai tempat mereka tinggali sebelumnya.

This research aims to explain the pattern and impact of BRI in Southeast Asia in 2013-2020. The analysis is done in the structuralism perspective to examine the capital flow and the consequences to people, since the trends of most research about BRI relations with other regions are dominated by skepticism in state-level/region, the evolving, global governance, and new mercantilism as Chinese economy strategy. CLMV is chosen due to its close relationship with China, and it was institutionalized through the CLMV Economic Ministers Meeting in 2010. The findings in this research are: first, not only CLMC varies in infrastructure condition, but also in wage, labor, and investment regulation. As represented by each country's five-year plan, the supporting policy has a similar view on how infrastructure investment will cure all development problems. Second, BRI is the manifestation oh the Chinese spatial fix since it is pushed by its overcapacity problem and the attractiveness of the CLMV political-economy climate for investment. BOT and joint venture ae the common types of Chinese infrastructure investment in thus subregion. BRI infrastructure projects are state-sponsored accumulation by dispossession in the forms of halting people's access to resources and changing the land ownership, followed by expulsion and coercive measures by the government. Creative destruction comes as people are uprooted from their usual agrarian economic practice and their cultural belonging to land or rivers once they resided.

Kata Kunci : BRI, CLMV, regulasi investasi, ketenagakerjaan, pembangunan infrastruktur, fiksasi spasial, akumulasi melalui perampasan, creative destruction

  1. S2-2021-449130-abstract.pdf  
  2. S2-2021-449130-bibliography.pdf  
  3. S2-2021-449130-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2021-449130-title.pdf