Collaborative Governance dalam Pengelolaan Lingkungan di Kota Surabaya
ATIKA INDAH NUR A, Dr. Nunuk Dwi Retnansari, MS.
2021 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika isu dan aksi para kolaborator dalam pengelolaan lingkungan di Kota Surabaya melalui program Surabaya Smart City. Analisis data menggunakan isu-isu utama collaborative governance seperti keterlibatan berprisip, motivasi bersama, dan kapasitas untuk join aksi. Dalam penelitian ini, penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif dan analisis isi digunakan sebagai metode penelitian. Data utama dikumpulkan melalui wawancara mendalam secara daring dengan informan kunci, wawancara daring dilakukan karena saat penelitian ini berlangsung sedang terjadi pandemi covid-19 dan analisis isi melalui media online radarsurabaya.jawapos.com. Pencarian melalui media online tersebut dengan menuliskan tagar berita #lomba kebersihan lingkungan dan ditemukan 14 artikel terkait pada tahun 2019. Hasil penelitian menunjukkan dengan adanya kolaborasi dari beberapa stakeholder¸ pengelolaan lingkungan Kota Surabaya menunjukkan hasil yang sangat baik melalui program Surabaya Smart City. Surabaya Smart City merupakan program kompetisi pengelolaan lingkungan hidup yang diadakan oleh Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya dengan dibantu oleh beberapa stakeholder diantarya, fasilitator lingkungan, LSM Nol Sampah, dan media Jawa Pos dan Radar Surabaya. Pada tahun 2018, menurut data ruang terbuka hijau Surabaya, luas RTH Kota Surabaya mencapai 21,79 persen dari total luas kota, atau 7.290,53 hektar dari luas wilayah Surabaya seluas 33.451,14 Ha. Seiring bertambahnya jumlah ruang terbuka hijau yang dibangun setiap tahun, cuaca dan suhu di Surabaya berangsur-angsur menurun dan tingkat polusi di Kota Surabaya pun semakin menurun. Adapun dalam aspek pengelolaan sampah, jumlah sampah yang masuk TPA berkurang setiap tahunnya. Hal tersebut karena Kota Surabaya memiliki berbagai cara pengelolaan sampah diantaranya pengomposan, bank sampah, dan budidaya maggot. Beberapa rumah kompos di Surabaya yang dapat memproduksi listrik antara lain rumah kompos Bratang dengan hasil sebesar 2 kilowatt/jam, dan rumah kompos Jambangan yang sebesar 4 kilowatt/jam.
The research aims to analyze the issue and action dynamics of the collaborators in managing the circumstances of Surabaya City along with the Surabaya Smart City. The data analysis uses the main issues of collaborative governance including principled involvement, joint motivation, and capacity for joining the action. The case study with qualitative approach and content analysis in this research are utilized as the research method. Hence, the main data was collected by accomplishing online depth interviews with the informant. This remote interview was conducted as a consequence of the pandemic of covid-19. Meanwhile, the content analysis is taken from radarsurabaya.jawapos.com. The researcher found the information from online media by typing the hashtag of lomba kebersihan lingkungan and founded 14 related articles in 2019. The result of the research shows intending to stakeholder collaborations, the environmental management of Surabaya demonstrated superlative results through the Surabaya Smart City program. Surabaya Smart City is an environmental management competition program held by the Surabaya City Cleanliness and Green Open Space Office with the help of several stakeholders in the region, environmental facilitators, Zero Waste NGOs, and Jawa Pos and Radar Surabaya media. In 2018, according to Surabaya green open space data, the area of Surabaya City Green Open Space reached 21.79 percent of the total city area or 7,290.53 hectares of Surabaya's area which is about 33,451.14 Ha. As the number of green open spaces is built every year, the weather, temperature, and pollution in Surabaya are gradually decreasing. At the same time, the aspect of maintaining garbage, the amount of junk dropping to the landfill is abated in every year. On the grounds, Surabaya has various ways to manage trash as some examples are composting, providing garbage banks, and cultivating maggots. Some compost houses in Surabaya which can produce electricity are Bratang compost house with the proceeds of 2 kilowatts/hour, and Jambangan compost house within 4 kilowatts/hour.
Kata Kunci : collaborative governance, kompetisi pengelolaan lingkungan, Kota Surabaya