ANALISIS PEMANFAATAN MODAL SOSIAL SEBAGAI COPING STRATEGY (STUDI KASUS SENIMAN PASAR SENI ANCOL MASA PANDEMI COVID-19)
YUNIA SETYANINGRUM, Dr. Pande Made Kutanegara, M.Si. ; Dr. Dewi Haryani Susilastuti, M.Sc.
2021 | Tesis | MAGISTER KEPEMIMPINAN DAN INOVASI KEBIJAKANPasar Seni Ancol merupakan ruang seni terbesar dan tertua di Indonesia sebagai wadah bagi wisatawan, penikmat seni, dan kolektor untuk bertemu dengan seniman. Seniman di Pasar Seni Ancol adalah seniman otodidak tanpa latar belakang pendidikan seni yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Seniman memiliki tujuan yang sama untuk menjadi bagian dari Pasar Seni Ancol yakni berinteraksi dan membangun modal sosial. Hal ini dilakukan karena modal sosial diperlukan oleh seniman sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan dalam strategi penanganan masalah (coping strategy) pada situasi yang sulit, salah satunya adalah masa pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 menjadi konteks dalam penelitian ini untuk melihat coping strategy yang dilakukan oleh seniman Pasar Seni Ancol. Coping strategy yang dilakukan seniman Pasar Seni Ancol pada masa pandemi yakni; a) strategi aktif dengan memaksimalkan potensi akan aset sosial media yang dimiliki oleh tiap seniman; b) strategi pasif dengan melakukan penghematan yakni menekan biaya untuk hidup dan biaya produksi karya; c) sedangkan strategi jaringan dengan memanfaatkan hubungan baiknya kepada berbagai instansi dan kolektor untuk mendapatkan bantuan dan mendistribusikan hasil produksi lukisnya. Melalui penelitian kualitatif ini diketahui bahwa coping strategy yang dilakukan oleh seniman Pasar Seni Ancol pada masa pandemi COVID-19 dapat terealisasi karena adanya peran dari modal sosial. Modal sosial pada seniman Pasar Seni Ancol yang dapat merealisasikan coping strategy adalah dalam bentuk bridging social capital. Bridging social capital dimiliki oleh seniman karena adanya interaksi dan hubungan dengan pihak diluar komunitas Pasar Seni Ancol. Selain itu seniman membangun bridging social capital untuk memenuhi distribusi kesejahteraan yang tidak didapatkan dalam bonding social capital.
Pasar Seni Ancol is the largest and oldest art space in Indonesia as a place for tourist and art collectors to meet the artists. The artists at Pasar Seni Ancol are self-taught artists with no art education background who come from various regions in Indonesia. They have same goal to be part of Pasar Seni Ancol, interact and build social capital. Because social capital needed by the artists as their resource for solving their problems and as strategies to survive in difficult situations, one of which is the COVID-19 pandemic. The COVID-19 pandemic is the context in this research to see the how the artists of Pasar Seni Ancol survive with coping strategies. Research shows that the coping strategy carried out by artists of Pasar Seni Ancol are; a) maximazing the potential of each artis's social media assets as an active strategy; b) reducing costs for living and producing art work as passive strategy; c) obtaining fund and access to distribute their art work as network strategy. Based on this qualitative research, it is known that coping strategy carried out by the artists of Pasar Seni Ancol during the COVID-19 pandemic can be realized because of the role of social capital. Social capital in artists of Pasar Seni Ancol who can realize coping strategy is in the form of bridging social capital. Bridgding social capital owned by the artists of Pasar Seni Ancol due to interactions and relationships with outside parties of the Pasar Seni Ancol community. In addition, artists of Pasar Seni Ancol build their bridging social capital to get welfare distribution that are not can be found in their bonding social capital.
Kata Kunci : modal sosial, bridging social capital, bonding social capital, coping strategy, pandemi COVID-19, seniman