Laporkan Masalah

HUBUNGAN ANTARA CERITA PERJALANAN PEREMPUAN DENGAN KOLONIALISME DALAM NOVEL GENTAYANGAN KARYA INTAN PARAMADHITA

LINTANG NURLISSYA P, Prof. Dr. Faruk, S.U.

2021 | Tesis | MAGISTER SASTRA

INTISARI Penelitian ini berjudul �¢ï¿½ï¿½Hubungan antara Cerita Perjalanan Perempuan dengan Kolonialisme dalam Novel Gentayangan Karya Intan Paramadhita�¢ï¿½ï¿½. Penelitian ini menggunakan teori Sara Mils yang menyoroti cerita perjalanan yang ditulis oleh pengarang perempuan. Teori Mils digunakan untuk menjawab pertanyaan dalam penelitian ini yakni, 1). Bagaimana konvensi cerita perjalanan perempuan dalam novel Gentayangan; 2). Bagaimana wacana kolonial dan wacana feminitas dalam novel Gentayangan. Metode analisis yang dilakukan untuk penelitian ini setelah mengumpulkan data yang kemudian diklasifikasikan sesuai konvensi cerita perjalanan, wacana kolonial, dan wacana feminitas dilakukan dengan dua tahapan berikut, 1). Menggunakan metode deskriptif dan perbandingan untuk melihat pengaruh konvensi cerita perjalanan terhadap novel Gentayangan. 2). Menggunakan metode perbandingan, pengukuran relasi hierarkis, pembacaan tanda-tanda, dan inferensi logis untuk melihat adanya wacana Kolonial dan wacana feminitas terhadap novel Gentayangan. Hasil yang diketahui setelah melakukan analisis adalah, bahwa konvensi cerita perjalanan perempuan dalam novel Gentayangan yang ditulis oleh Intan Paramadhita ini, sudah tidak mengikuti konvensi cerita perjalanan perempuan pada abad 19 dan awal 20. Penulis keluar dari ciri-ciri cerita perjalanan perempuan pada masa tersebut dengan membahas hubungan seksual dan bentuknya novel bukan lagi kumpulan surat. Terdapat juga kebaruan dalam novel Gentayangan sebagai cerita perjalanan yakni, dengan menggunakan sudut pandang orang kedua sebagai narator dalam novel tersebut. Dalam novel ini penulis tak hanya mengadopsi suara kolonial, namun juga ikut menyatakan strategi-strategi antikolonial. Tidak hanya suara kolonial, tetapi ada penyimpangan yang hanya dapat dijelaskan dari perspektif feminitas. Terdapat beberapa sifat feminin yang memberi kekuatan dan keberania. Feminitas tidak lagi dilihat sebagai kekurangan atau kelebihan dalam cerita perjalanan perempuan. Melainkan sebagai sebuah kekhasan yang memungkinkan cerita perjalanan perempuan tidak homogen tetapi lebih bervariasi. Kata Kunci : cerita perjalanan perempuan, konvensi cerita perjalanan, wacana kolonial, wacana feminitas.

ABSTRACT This research is titled �¢ï¿½ï¿½The Correlation between Women Travel Writing and Colonialism in Gentayangan Novel Written by Intan Paramadhita�¢ï¿½ï¿½. This research is using Sara Mills' theory which highlights Travel Writing by women authors. Mills' theory is used to answer the questions within this research as follows. 1) How are the conventions of women's travel writing within the novel Gentayangan. 2) How are the colonial and femininity discourses in the novel Gentayangan. The analysis method applied in this research consists of data collection which is then classified according to travel writing conventions, colonial discourse, and femininity discourse done in two steps as follows. 1) Using the descriptive and comparative methods to discover the influence of travel writing's conventions toward Gentayangan. 2) Using comparative method, hierarchy relation measurement, signs reading, logical inferences to discover the evidence of colonial and femininity discourses within Gentayangan the novel. The discovered result after the analysis process is that the conventions of women's travel writing within Gentayangan, the novel by Intan Paramadhita, has not been faithful to the conventions of women's travel writing in the 19th and early 20th century period. The author excuse herself from the characteristics of women's travel writing on the period with her discussion about sexual encounters explicitly and the form itself is a novel, not series of letters anymore. There is also a novelty found in the Gentayangan novel as a travel writing, i.e., by utilizing the second-person point of view as the narrator in the novel. In this novel, the author not only adopted a colonial voice but also delivered anticolonial strategies. Not only colonial voice but also there is the distortion that could only be explained from feminine perspective. Some feminity traits appear to give strength and bravery. Femininity isn't viewed as a weakness or gift anymore in the woman's travel writing. Instead, it is a particularity that enables women's travel writing to be varied. Keywords: women's travel writing, conventions of travel writing, colonial discourse, femininity discourse.

Kata Kunci : cerita perjalanan perempuan, konvensi cerita perjalanan, wacana kolonial, wacana feminitas. women's travel writing, conventions of travel writing, colonial discourse, femininity discourse.

  1. S2-2016-341822-abstract.pdf  
  2. S2-2016-341822-bibliography.pdf  
  3. S2-2016-341822-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2016-341822-title.pdf  
  5. S2-2021-372596-abstract.pdf  
  6. S2-2021-372596-bibliography.pdf  
  7. S2-2021-372596-tableofcontent.pdf  
  8. S2-2021-372596-title.pdf