Laporkan Masalah

ARGUMENTASI LOGIS PROBLEM KEJAHATAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT KETUHANAN AL-GHAZALI

RICKY VALDY, Dr. Arqom Kuswanjono

2021 | Tesis | MAGISTER FILSAFAT

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hakikat kejahatan menurut Al-Ghazali dan menganalisis argumentasi logis kejahatan ditinjau dari filsafat ketuhanan Al-Ghazali. Fenomena kejahatan merupakan salah satu persoalan perenial yang dianggap menjadi tantangan serius bagi keberadaan Tuhan. Argumentasi kejahatan menjadikan kejahatan sebagai bukti bagi ketiadaan Tuhan. Sebagai argumentasi filosofis terkuat bagi ateisme, argumentasi kejahatan memiliki dua versi, yaitu evidensialis dan logis. Argumentasi logis kejahatan mengklaim adanya pertentangan logis antara keberadaan kejahatan dengan keberadaan Tuhan. Penelitian ini ingin menanggapi argumentasi logis kejahatan dengan menggunakan filsafat ketuhanan Al-Ghazali. Filsafat ketuhanan Al-Ghazali diharapkan dapat menanggapi argumentasi logis kejahatan dengan menunjukkan tidak adanya inkonsistensi logis antara keberadaan Tuhan dengan keberadaan kejahatan. Penelitian kepustakaan ini merupakan model penelitian tentang konsep filosofis sepanjang sejarah. Unsur-unsur metodis yang digunakan adalah interpretasi, koherensi intern, holistika, deskripsi dan heuristika. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah inventarisasi data, klasifikasi data, interpretasi data dan analisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Al-Ghazali tidak menganggap kejahatan sebagai tantangan bagi keberadaan Tuhan. Hakikat kejahatan menurut Al-Ghazali dapat diketahui dari tiga sisi: relasinya dengan Tuhan, peran dan sifat ontologisnya. Dari sisi relasinya dengan Tuhan, kejahatan dipahami sebagai ciptaan Tuhan. Dengan kata lain, kejahatan berasal dari Tuhan. Dari sisi peranannya, kejahatan berperan sebagai instrumen untuk meraih kebaikan yang lebih besar. Selain sebagai instrumen, kejahatan dipahami sebagai konsekuensi niscaya dari kehendak bebas manusia dan tujuan penciptaannya di dunia. Sementara dari sisi sifat ontologisnya, kejahatan bersifat eksternal karena perbuatan dianggap jahat bukan karena faktor intrinsik dalam suatu perbuatan, tetapi karena faktor-faktor di luar perbuatan seperti siapa pelakunya dan kesesuaiannya dengan peraturan agama. Al-Ghazali menganut paham ketuhanan voluntarisme yang menjadikan kehendak Tuhan sebagai primasi dalam melihat segala sesuatu. Konsekuensinya, nilai dari suatu perbuatan ditentukan oleh kehendak Tuhan. Di samping itu, sifat Mahabaik dipahami sebagai sifat perbuatan sehingga tidak mustahil bagi Tuhan untuk menghendaki terjadinya kejahatan. Ketika Tuhan menghendaki terjadinya kejahatan, Tuhan tidak dianggap berbuat zalim karena pengertian zalim adalah berbuat atas sesuatu yang bukan miliknya. Karena segala sesuatu adalah milik Tuhan, maka Tuhan tidak mungkin berbuat zalim. Berdasarkan pandangan Al-Ghazali tentang hakikat kejahatan dan sifat-sifat Tuhan di atas, klaim adanya inkonsistensi logis antara keberadaan kejahatan dengan keberadaan Tuhan menjadi terbantahkan. Dengan kata lain, tidak terdapat inkonsistensi logis antara keberadaan kejahatan dengan keberadaan Tuhan dalam sistem filsafat ketuhanan Al-Ghazali.

This study aims to describe the nature of evil according to Al-Ghazali and analyze the logical argument of evil viewed from Al-Ghazali's philosophical theology. The phenomenon of evil is one of the perennial issues considered a serious challenge to God's existence. The argument of evil renders evil as proof of God's absence. As the strongest philosophical argument for atheism, the argument of evil has two versions, namely evidential and logical arguments. The logical argument of evil claims there is a logical contradiction between the existence of evil and the existence of God. This study wants to respond to the logical argument of evil by using Al-Ghazali's philosophical theology system. Al-Ghazali's philosophical theology is expected to respond to the logical argument of evil by showing the absence of logical inconsistencies between the existence of God and the existence of evil. This literature research is a model of research on philosophical concepts throughout history. The methodical elements used are interpretation, internal coherence, holistic, description, and heuristics. The stages of research conducted are data inventory, data classification, data interpretation, and data analysis. The results of this study show that Al-Ghazali did not consider evil as a challenge to the existence of God. The nature of evil, according to Al-Ghazali, can be known from three sides: his relationship with God, his role, and his ontological nature. In terms of his relationship with God, evil is understood as God's creation. In other words, evil comes from God. In terms of its role, evil acts as an instrument for the greater good. Besides being an instrument, evil is understood as a necessary consequence of man's free will and the purpose of his creation in the world. In terms of its ontological nature, evil is external because an action is considered evil not because of intrinsic factors in it but because of factors outside the action, such as who did it and its conformity with religious rules. Al-Ghazali embraced the divine voluntarism that makes God's will a primacy in seeing all things. Consequently, the value of an action is determined by God's will. Besides that, the omnibenevolent attribute is understood as the attribute of action so that it is not impossible for God to will evil to happen. When God wills evil to happen, God is not considered unjust because the meaning of injustice is to do something that does not belong to him. Because everything belongs to God, then God cannot do wrong. Based on Al-Ghazali's view of the nature of evil and the attributes of God above, the claim of logical inconsistency between the existence of evil and the existence of God is refuted. In other words, there is no logical inconsistency between the existence of evil and the existence of God in Al-Ghazali's philosophical theology system.

Kata Kunci : kejahatan, argumentasi logis, voluntarisme, kehendak Tuhan, evil, logical argument, voluntarism, God's will

  1. S2-2021-433019-abstract.pdf  
  2. S2-2021-433019-bibliography.pdf  
  3. S2-2021-433019-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2021-433019-title.pdf