Laporkan Masalah

Wagashi sebagai Cerminan Empat Musim di Jepang: Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce

NURWANDA AYU LESTARI, Najih Imtihani, S.S., M.A.

2021 | Skripsi | S1 SASTRA JEPANG

Wagashi adalah kue tradisional Jepang yang memiliki rasa manis. Bahan utamanya adalah biji-bijian, seperti beras dan jelai, kacang-kacangan, seperti kacang adzuki merah, gula tebu, dan kanten (jelly) yang terbuat dari rumput laut. Wagashi pada awalnya berfungsi sebagai pelengkap teh saat Upacara Minum Teh di Jepang. Tetapi, dalam perkembangannya wagashi mengalami perubahan menjadi kue Jepang yang lebih berwarna dan menarik mata. Wagashi dibuat menjadi berbagai bentuk untuk mencerminkan motif musiman. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tanda dan makna pada wagashi yang mencerminkan musim-musim di Jepang. Teori semiotika Charles Sanders Peirce dimanfaatkan untuk menganalisis wagashi pada setiap musim di Jepang. Teori ini digunakan untuk mengkaji makna wagashi yang ditunjukkan melalui empat unsur pembentuk wagashi, yaitu bentuk, motif, bahan, dan warna pada wagashi di setiap musimnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis untuk menguraikan data-data hasil penelitian. Dari hasil kajian ditemukan bahwa wagashi itu tidak semata-mata sebagai kue manis yang memiliki nilai estetika saja melainkan juga memiliki makna yang mencerminankan musim-musim di Jepang. Makna tersebut ditunjukkan melalui unsur-unsur pembentuk wagashi. Unsur-unsur tersebut menjadi tanda-tanda yang menjadi ciri khas wagashi pada setiap musim di Jepang.

Wagashi is a traditional Japanese cake that has a sweet taste. The main ingredients are grains, such as rice and barley, nuts, such as red adzuki beans, cane sugar, and kanten (jelly) made from seaweed. Wagashi originally served as a complement to tea during the Tea Ceremony in Japan. However, in its development wagashi has changed into a more colorful and eye-catching Japanese cake. Wagashi are made into various shapes to reflect seasonal motifs. This study aims to look for signs and meanings on wagashi that reflect the seasons in Japan. The semiotic theory of Charles Sanders Peirce was used to analyze wagashi in each season in Japan. This theory is used to examine the meaning of wagashi which is shown through the four elements of wagashi. Those elements are the shape, motif, material, and colors of the wagashi in each season. This research uses a descriptive-analytical method to describe the research data. As a result, it was found that wagashi was not merely sweet cakes that had aesthetic value but also had meaning that reflects the seasons in Japan. This meaning is shown through the elements of wagashi. These elements become signs that characterize wagashi in every season in Japan.

Kata Kunci : wagashi, cerminan, musim

  1. S1-2021-410056-abstract.pdf  
  2. S1-2021-410056-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-410056-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-410056-title.pdf