Laporkan Masalah

Tindak Tutur Berbahasa Indonesia Anak Usia Prasekolah: Studi Kasus di Kelompok Bermain Bina Buah Hati dan Kelompok Bermain Madukismo di Kabupaten Bantul

TITIK SUDARTINAH, Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A.; Dr. Aris Munandar, M.Hum.

2021 | Disertasi | DOKTOR ILMU-ILMU HUMANIORA

Usia prasekolah merupakan masa yang penting bagi seorang anak karena pada masa ini anak-anak berada dalam tahapan pertumbuhan yang teramat pesat dalam berbagai hal yang sifatnya fisik, motorik, kognitif, dan kebahasaan. Penelitian ini mengamati salah satu aspek kebahasaan pada anak-anak usia prasekolah, yaitu pada aspek tindak tuturnya. Beberapa hal yang diungkap melalui penelitian ini adalah (1) kata dan tema sebagai dasar penyusunan tindak tutur, (2) modus dan strategi yang digunakan dalam bertutur, dan (3) fungsi yang hendak dicapai melalui penggunaan kata dan tema, modus, serta strategi tindak tutur tertentu. Penelitian ini menggunakan data yang sifatnya kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa tuturan verbal anak-anak usia prasekolah ketika berinteraksi dengan mitra tuturnya di kelompok bermain (guru dan teman sebaya), sedangkan data kuantitatifnya berupa frekuensi kemunculan data kualitatif yang digunakan untuk mendukung interpretasi secara kualitatif. Sumber datanya adalah percakapan anak usia prasekolah dengan guru dan sebayanya di kelompok bermain. Partisipan berjumlah 29 anak usia prasekolah beserta guru mereka di Kelompok Bermain Bina Buah Hati dan Kelompok Bermain Madukismo. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah alat perekam audio/video, catatan lapangan, tabel data dengan format Microsot Excel 2013, serta piranti lunak ELAN 5.5. dan FLEx 8. Data dikumpulkan dengan cara merekam audio/video percakapan yang melibatkan anak-anak tersebut dengan mitra tuturnya selama 3 hari di Kelompok Bermain Bina Buah Hati dan 6 hari di Kelompok Bermain Madukismo dengan durasi total rekaman 11 jam 27 menit. Rekaman tersebut kemudian ditranskripsikan, lalu masing-masing tindak tutur yang memenuhi kriteria diklasifikasikan berdasarkan kata dan temanya, serta modus, strategi, dan fungsinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4198 tindak tutur yang diproduksi oleh para partisipan, yang tersusun dari 10.725 kata dengan kosakata total sejumlah 1.225 kata. Rerata panjang tindak tutur (MLSAw) yang cukup rendah (2,55) merupakan konsekuensi dari setting interaksi yang terbatas, yang biasanya berbentuk pasangan tanya-jawab. Meskipun demikian, dapat diamati bila anak-anak usia prasekolah telah dapat melakukan rekognisi dan menempatkan kata-kata tersebut sesuai dengan peruntukannya dalam tuturan, meskipun masih terdapat kekurangsempurnaan terutama dalam hal penggunaan kata berimbuhan. Nomina merupakan jenis kata yang paling banyak digunakan, yang mengimplikasikan pentingnya proses referring dalam keseharian anak dalam rangka untuk mempelajari segala sesuatu tentang dunia di sekitar mereka. Sementara itu, terdapat 4 tema utama (objek, orang, kegiatan, dan waktu) dan 21 sub-tema yang menyusun tindak tutur anak-anak usia prasekolah. Tema-tema ini merepresentasikan pemenuhan terhadap konsep here-and-now dan perlunya imajinasi dalam menciptakan dunia mereka sendiri dalam kegiatan permainan pura-pura. Konten semantik dalam tema-tema yang beragam ini secara implisit merupakan petunjuk terhadap muatan ilokusi yang dibawa oleh tindak tutur anak-anak tersebut. Sementara itu, dalam hal modus dan strategi yang digunakan dalam bertutur, anak-anak usia prasekolah memiliki kecenderungan yang tinggi untuk menggunakan modus berita tidak lengkap, terutama sebagai konsekuensi dari arahan (scaffolding) yang dilakukan oleh mitra tutur mereka, aspek penguasaan sistem tata bahasa yang belum sempurna serta anggapan adanya kepemilikan presuposisi yang sama dengan mitra tutur. Anak-anak usia prasekolah juga cenderung menggunakan strategi langsung literal ketika bertutur dan aspek keliteralan merupakan yang utama, sehingga tuturan mereka dapat dimaknai secara lugas dan kecil kemungkinannya untuk muncul banyak interpretasi. Meskipun terdapat kecenderungan tertentu dalam memilih kata dan tema yang menjadi dasar penyusunan tindak tutur, modus, dan strategi dalam bertutur, ternyata anak usia prasekolah cukup mempertimbangkan aspek fungsi, baik itu fungsi representatif, direktif, komisif, maupun ekspresif dari tindak tuturnya. Tindak tutur representatif menjadi yang paling utama karena penyampaian informasi terkait keadaan, kejadian, maupun kegiatan yang dilakukan merupakan hal yang penting bagi mereka. Sementara itu, terkait dengan produksi tindak tutur direktif, anak-anak usia prasekolah telah dapat menunjukkan kesadaran terkait latar belakang mitra tuturnya yang ditunjukkan melalui penggunaan unsur sapaan untuk memperhalus permintaan. Dua jenis tindak tutur lainnya (komisif dan ekspresif), meskipun tidak terlalu banyak digunakan, menunjukkan masih cukup kentalnya nuansa egosentrisme dalam tindak tutur anak-anak usia prasekolah. Dari seluruh fungsi tersebut, dijumpai bahwa fungsi menyuruh, menyarankan/menasehati, dan mengancam hanya muncul dalam konteks percakapan dengan sebaya saja, yang semakin menguatkan kesimpulan bahwa anak-anak pada masa usia prasekolah telah memiliki kesadaran atas adanya jarak sosial, kuasa, dan kontrol yang mereka dan mitra tuturnya miliki.

Preschool age is important as it is the phase when children experience a vast development of their physical, motoric, cognitive, and language ability. Focusing on the language ability of preschoolers, especially in terms of their speech acts, the research aims to identify (1) the lexical and thematic elements, (2) the modes and strategies, and (3) the functions of their speech acts. Both qualitative and quantitative data were used. The qualitative data were the verbal utterances of the preschoolers when interacting with their interlocutors in preschools (teachers and peers) and the quantitative data were the frequency of occurrence of the speech acts, employed to enhance the qualitative interpretation. The data source was the conversations among preschoolers, their teachers, and peers. The research participants were 29 preschoolers and teachers in Bina Buah Hati and Madukismo Preschools. The instruments used were an audio/video recorder, field-notes, and Microsoft Excel 2013, ELAN 5.5., and FLEx 8 software. The data were collected within 3 days period in Bina Buah Hati Preschool and 6 days period in Madukismo Preschool, resulting in a total of 11 hours 27 minutes recorded conversations. These conversations were transcribed, and the speech acts were identified based on their lexical and thematic elements, modes, strategies, and functions. The results show that there are 4198 speech acts, which are composed of 10,725 words in a range of 1,225 vocabularies. The Mean Length of Speech Acts in Words (MLSAw) is quite low (2.55) due to the limited setting of interactions, which usually occur in question-answer pairs. Nevertheless, it is obvious that preschoolers already have the ability to recognize and place these words correctly in their utterances even though some mistakes in using affixes are still present. Nouns are the most common to use, implying the importance of referring on a daily basis to improve the preschoolers� understanding of the world. Meanwhile, their speech acts are built on 4 main themes (objects, people, activities, and time) consisting of 21 sub-themes. These reflect the here-and-now concept as well as the need to imaginatively create their own world during pretend plays. The semantic content of these various themes implicitly acts as cues to the illocutionary functions of the speech acts. In terms of the modes and strategies of their speech acts, preschoolers tend to use incomplete declarative sentences as a consequence of their interlocutors� scaffolding, an insufficient mastery of grammar and the assumption to have a similar presupposition with their interlocutors. They also tend to use literally direct speech acts as the main strategy, showing that the literalness of their utterances is the most important consideration in using a certain speech act. As a result, their utterances are clear, with a little potential of multiple interpretations. Even though there is a strong tendency to use a certain lexical and thematic element, mode and strategy in their speech acts, preschoolers are careful in setting their goals in using the speech acts, either for representative, directive, commissive, or expressive functions. Representative act is the main to use as it is important for the preschoolers to tell about events and activities in order to enhance their understanding of the surrounding world. Regarding their use of directive acts, preschoolers show some awareness of the background of their interlocutors through the use of address terms in the beginning of directive acts to soften their requests. Meanwhile, the commissive and expressive functions are not frequently employed but they represent the egocentrism aspect of preschoolers� language. Among all functions, commanding, suggesting, and threatening only occur in the speech acts addressed to peers, meaning that the preschoolers are aware of the social distance, power, and control that they and their interlocutors have.

Kata Kunci : anak usia prasekolah, tindak tutur, kata dan tema penyusun tindak tutur, modus dan strategi tindak tutur, fungsi tindak tutur

  1. S3-2021-420427-abstract.pdf  
  2. S3-2021-420427-bibliography.pdf  
  3. S3-2021-420427-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2021-420427-title.pdf